Reporter: Dityasa H Forddanta | Editor: Yudho Winarto
JAKARTA. Perhelatan initial public offering (IPO) semakin ramai. Malah, sejumlah emiten pendatang baru dijadwalkan bakal mencatatkan saham perdananya (listing) pada bulan Ramadan ini.
Paling dekat adalah pencatatan saham perdana PT First Indo American Leasing. Perusahaan pembiayaan ini berencana mulai melego sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Juni 2017.
Sehari setelah itu, PT Totalindo Eka Persada akan menyusul dan melepas saham perdana senilai Rp 1,5 triliun. Rencananya, saham perusahaan konstruksi ini listing pada 9 Juni mendatang.
PT Hartadinata Abadi dijadwalkan listing pada 20 Juni. Produsen perhiasan ini mengincar dana segar Rp 534 miliar melalui perhelatan IPO.
PT Trafoindo Prima Perkasa juga dijadwalkan akan listing pada 20 Juni. Produsen trafo listrik ini melepas 1,2 juta saham dengan rentang harga penawaran Rp 320 hingga Rp 400 per saham.
Jelang lebaran, ada PT Integra Indocabinet dan PT Buyung Poetra Sembada yang bakal melepas saham perdana. Kedua perusahaan ini bakal listing di BEI pada 23 Juni mendatang.
Kendati listing di bulan puasa yang biasanya lebih sepi transaksi, harga saham-saham baru ini diprediksi tetap bisa naik. "Tidak ada angka pasti, tapi kenaikan bisa mencapai puluhan persen," kata Nico Omer, Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities kepada KONTAN, Minggu (28/5).
Ada sejumlah hal yang memicu hal ini. Pertama, jumlah saham beredar emiten masih terbatas karena saham baru yang dicatatkan tidak terlalu besar. Kedua, tidak semua investor berniat menjual saham emiten baru itu sehingga tidak banyak saham yang berada pada posisi offer.
Andai ada yang mau jual pun, dia akan memasang posisi harga yang tinggi karena tahu saham baru IPO bisa naik tinggi. "Tapi yang bersedia menawar di harga lebih tinggi juga sedikit, ini kenapa harganya melonjak saat pembukaan," jelas Nico.
Belum lagi hal yang selalu terjadi hampir dalam setiap perhelatan IPO. Saat perhelatan itu berjalan, biasanya investor hanya memperoleh sekian persen dari pesanan.
Sehingga, investor terpaksa masuk ke pasar sekunder untuk memperoleh saham baru emiten. "Itu pun dengan harga yang lebih tinggi," imbuh Nico.
Reza Priyambada, analis Binaartha Parama Sekuritas, menambahkan, tren sepinya transaksi sepanjang Ramadan memang belum tentu sepenuhnya terjadi. Tren ini sama seperti fenomena sell in May, yang muncul lebih karena kekhawatiran pasar. "Kalau pasar tenang, transaksi bisa berjalan normal atau justru lebih ramai," kata Reza.
Berdasarkan data historikal, tren sepinya transaksi di bursa saham memang tidak 100% terjadi. Hal ini terlihat dari rata-rata volume transaksi harian Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang Juni 2016 yang mencapai 6,5 miliar saham. Rata-rata frekuensi hariannya 240.000 kali, dengan rata-rata nilai transaksi Rp 6,15 triliun.
Bandingkan rata-rata volume transaksi harian pada Mei 2016 yang hanya sebanyak 4,71 miliar saham. Frekuensi transaksi 225.000 kali dengan rata-rata nilai transaksi harian sebesar Rp 5,47 triliun.
Bulan Ramadan tahun lalu juga berlangsung bulan Juni. Namun, transaksi bulan Juni masih tetap ramai. Hal ini diprediksi tetap akan terjadi pada tahun ini, sehingga calon-calon emiten pendatang baru masih tetap aman.
Meningkatnya harga saham emiten baru saat listing pada bulan Juni nanti juga beralasan. Indeks sempat beberapa kali mencatat all time high. "Investor senang saat indeks rekor," ujar Analis Indosurya Mandiri Sekuritas William Surya Wijaya.
Dalam euforia, investor akan lebih mudah masuk ke pasar saham. Momentum ini juga akan berimbas pada penyerapan saham baru emiten secara maksimal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













