kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   50.000   1,72%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Bedah Anatomi Perdagangan BEI (9 Feb 2026): Terlacak Jejak Strategi Serok Bawah


Selasa, 10 Februari 2026 / 06:01 WIB
Bedah Anatomi Perdagangan BEI (9 Feb 2026): Terlacak Jejak Strategi Serok Bawah
ILUSTRASI. Rata-rata ticket size pasar Rp1,37 juta, tapi ada emiten puluhan juta. Apa arti anomali ini dan saham mana yang jadi target smart money? (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Sumber: Bursa Efek Indonesia (BEI | Editor: Hasbi Maulana

KONTAN.CO.ID - Pada 9 Februari 2026 BEI mencatatkan total perputaran likuiditas sebesar Rp 15,84 triliun di pasar reguler. Terjadi anomali menarik di mana ticket size rata-rata pasar berada di angka Rp1,37 juta, namun beberapa emiten mencatatkan ticket size hingga puluhan juta rupiah. Itu pertanda investor bermodal gede meninggalkan jejak kaki sangat nyata di tengah fluktuasi harga.

Arus likuiditas menunjukkan dinamika yang kontras antara tekanan jual pada raksasa perbankan dan akumulasi senyap pada sejumlah sektor infrastruktur serta energi.

Berdasarkan data ringkasan saham harian, pasar reguler mencatatkan total transfusi likuiditas sebesar Rp15,84 triliun, sementara pasar non-reguler (negosiasi) menyumbang Rp1,97 triliun.

Yuk, kita bedah anatomi market perdagangan saham BEI 9 Februari 2026.  

Baca Juga: Kinerja Imbal Hasil Unitlink Berbasis Saham Paling Moncer pada Januari 2026

Baca Juga: IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan Terbatas pada Hari Ini (10/2), Cek Sentimennya

The Real Giants: Perang foreign flow vs domestik

Di barisan saham berkapitalisasi pasar jumbo (Big Caps), Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) mengukuhkan posisinya sebagai monster likuiditas dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp1.076,98 triliun.

BREN ditutup pada harga Rp 8.050 per saham foreign net flow positif sebesar 1,22 juta saham. Closing Strength Index (CSI) BREN yang berada di angka 0,67 mengindikasikan adanya perlawanan beli yang cukup kuat menjelang penutupan sesi.

Kontras dengan BREN, Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi sasaran distribusi masif.

Dengan foreign net flow negatif sebesar 94,88 juta saham, BBCA tertekan ke level Rp 7.500 per saham. Angka CSI yang rendah (0,18) menunjukkan dominasi penjual hingga akhir sesi, di mana harga penutupan sangat dekat dengan harga terendah harian.

Hal serupa menimpa Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang mencatatkan arus keluar asing sebesar 70,34 juta saham.

Di sisi lain, Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) menunjukkan dominasi pembeli yang solid.

DSSA mencatatkan CSI hampir sempurna (0,93), menandakan akumulasi agresif di harga atas, sementara AMMN bertahan dengan CSI 0,91 meskipun volume asing cenderung tipis.

Baca Juga: BOLT Akan Bayar Dividen Interim Rp 58,59 Miliar, Harga Saham Turun 22% Setahun

Baca Juga: Wall Street Reli: Indeks S&P 500 dan Nasdaq Ditopang Sektor Teknologi yang Bangkit

Perburuan di saham lapis kedua dan ketiga

Pada segmen Mid-Small Cap, terdeteksi jejak kaki institusi pada saham-saham dengan ticket size jauh di atas median pasar (Rp1,37 juta).

Tirta Mahakam Resources Tbk (TIRT) mencuri perhatian dengan rata-rata nilai transaksi (ticket size) mencapai Rp19,57 juta per transaksi dan CSI sempurna 1,0. Ini mengindikasikan adanya tangan besar yang menyapu bersih penawaran hingga harga penutupan tertinggi.

Arkora Hydro Tbk. (ARKO) dan Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) juga masuk dalam radar hidden gems.

ARKO mencatatkan nilai transaksi Rp 40,11 miliar dengan ticket size Rp13,30 juta dan CSI 1,0. Aktivitas ini mencerminkan strategi akumulasi yang sangat terukur oleh pemodal besar tanpa memicu volatilitas berlebih di awal sesi.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Rebound ke Level 8.200, Ini Strategi dan Saham Pilihan Analis

Melacak jejak strategi serok bawah

Fenomena bottom fishing terlihat jelas pada saham Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC). Meskipun harga terkoreksi 5 poin ke Rp 1.475 per saham, asing justru menyuntikkan likuiditas dengan akumulasi bersih sebanyak 16,90 juta saham.

Pola serupa terjadi pada Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Meskipun harga TLKM melemah ke Rp 3.350 per saham, tetap mengantongi net buy asing sebesar 5,46 juta. Investor nampaknya memanfaatkan pelemahan harga untuk membangun posisi pada aset-aset yang dianggap terdiskon.

BNBR (Bakrie & Brothers Tbk.) pun demikian: Meskipun terkoreksi, terdapat aliran masuk asing sebesar 9,96 juta saham. Ini menunjukkan adanya akumulasi di area support.

Baca Juga: Perbaki Kinerja, Bank Tabungan Negara (BBTN) Memperkuat Manajemen Risiko

Penjelasan Istilah

Ticket Size: Jejak Kaki Siapa di Pasar?

  • Ticket Size adalah rata-rata nilai uang yang dikeluarkan dalam setiap satu kali transaksi.
  • Cara Hitung: Total Nilai Transaksi dibagi Total Frekuensi.
  • Ticket size Kecil: Biasanya didominasi oleh investor ritel yang bertransaksi dalam jumlah sedikit-sedikit.
  • Ticket size Besar: Menandakan adanya "Smart Money" atau investor dengan dana besar yang masuk. Mereka tidak mungkin membeli saham hanya Rp 1-2 juta sekali klik; mereka biasanya masuk dengan "tiket" bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah per transaksi.

CSI (Closing Strength Index): Siapa yang Menang di Menit Terakhir?

CSI mengukur seberapa kuat harga penutupan sebuah saham dibandingkan dengan rentang harganya sepanjang hari itu.

  • Logika Angka: Rentang angkanya adalah 0.0 sampai 1.0.
  • CSI 1 (Sangat Kuat): Artinya saham tersebut ditutup di harga tertingginya hari itu (Closed at High). Ini menandakan pembeli sangat agresif sampai akhir sesi, tidak memberi ruang harga untuk turun.
  • CSI 0.0 (Sangat Lemah): Artinya saham ditutup di harga terendahnya hari itu (Closed at Low). Penjual sangat dominan menekan harga hingga pasar tutup.
  • CSI 0,5: Harga ditutup tepat di tengah-tengah antara harga tertinggi dan terendah.
  • Kenapa Penting? CSI membantu kita melihat psikologi pasar. Jika sebuah saham punya CSI tinggi (misal di atas 0.8), berarti ada kepercayaan diri tinggi dari pelaku pasar untuk "menginapkan" saham tersebut karena ekspektasi harga masih akan naik besok.

Disclaimer:

Artikel ini ditulis berdasarkan Data Pasar Ringkasan Saham (5 Februari 2026), diunduh langsung dari laman resmi BEI yang diolah dan dianalisis dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Prompt AI dikendalikan sepenuhnya oleh penulis, output-nya pun dikurasi secara ketat. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan terjadi kesalahan bahasa, perhitungan, maupun analisis. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi investasi. Pembaca diharapkan bijak sebelum mengambil keputusan investasi.

Selanjutnya: Proyek Baru Jadi Harapan PT Bukit Asam Tbk (PTBA)

Menarik Dibaca: Kulit Kusam di Usia 40-an? Rekomendasi Bedak Wardah Ini Rahasia Wajah Glowing

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×