kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45714,31   4,95   0.70%
  • EMAS913.000 0,55%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN -0.19%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.21%

Industri manufaktur melemah, emiten farmasi ikut tertekan


Selasa, 01 Oktober 2019 / 17:26 WIB
Industri manufaktur melemah, emiten farmasi ikut tertekan
ILUSTRASI. Obat - industri farmasi

Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Herlina Kartika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali tertekan di kuartal III-2019. Buktinya saja selama September 2019 PMI Manufaktur Indonesia berada di posisi 49,1 dari sebelumnya pada Agustus di 49,0. Walau naik sedikit, sektor ini masih stagnan karena berbagai macam persoalan.

Melansir dari riset IHS Markit (1/10), ada beberapa masalah yang dialami perusahaan manufaktur di penghujung kuartal III-2019. Pertama, tekanan biaya jual karena perusahaan memberikan diskon untuk meningkatkan volume penjualan.

Kedua, kenaikan harga bahan baku sehingga perusahaan mengurangi aktivitas pembelian. 

Baca Juga: Mengulik prospek Indofarma (INAF) setelah jalin kerjasama dengan perusahaan Korea

Ketiga, inventaris yang menumpuk di tengah penjualan yang melemah.

Ternyata kondisi ini ikut mempengaruhi sektor farmasi. Sebut saja PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Indofarma Tbk (INAF) yang ikut kena dampaknya.

Direktur Utama PT Kalbe Farma Tbk Vidjongtius menyatakan kegiatan manufaktur di farmasi bervariasi tergantung jenis produknya.

“Misalnya kegiatan manufaktur untuk memasok kebutuhan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan diperkirakan meningkat, sedangkan makanan minuman kesehatan cenderung flat,” jelasnya kepada Kontan.co.id, Selasa (1/10).

Vidjongtius menjelaskan penyebab segmen makan dan minuman kesehatan yang stagnan karena terjadi pergeseran permintaan dari segmen menengah ke atas ke segmen yang lebih murah. Namun, Vidjongtius meyakini secara total segmen ini masih tetap tumbuh positif.

Kendati demikian, Vidjongtius belum bisa membeberkan proyeksi kinerja di kuartal III karena belum ada hasilnya. Namun kalaupun hasilnya menurun, Vidjongtius mengakui KLBF akan meningkatkan penetrasi pasar menjadi lebih luas lagi.

Direktur Keuangan PT Indofarma Tbk (INAF) Herry Triyatno mengakui masalah yang dijabarkan IHS Markit juga terjadi di industri farmasi khususnya ke INAF.

“Kejadian sama terutama adanya penurunan harga jual karena penjualan melalui e-catalog yang harganya cenderung terus menurun,” jelasnya.

Di sisi lain menurut Herry harga bahan baku juga meningkat karena kelangkaan. Beban overhead juga tumbuh karena UMR terus naik dari tahun ke tahun.

Namun, Herry belum bisa mengungkapkan apakah ada permintaan yang turun di sepanjang kuartal III-2019 karena harus melihat data makro.

Sebelum industri manufaktur tertekan, INAF sudah duluan mencatatkan rugi bersih di semester I-2019. Asal tahu saja di semester I-2019 INAF mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 24,35 miliar. 

Sedangkan di semester I 2018 INAF mampu membukukan laba Rp 253,19 juta.

Herry bilang rugi bersih ini karena penjualan dan collection belum berjalan dengan baik. Namun melihat dari siklus bisnis farmasi, pendapatan akan terkosentrasi di kuartal III-2019 dan kuartal IV-2019.

Oleh karena itu, di tengah industri manufaktur yang tertekan, Herry menyatakan INAF akan melakukan  efisiensi dan perbaikan struktur keuangan di mana INAF akan berusaha mencetak laba untuk memperbaiki rugi bersih yang dibukukan pada semester I-2019.

Selain itu, INAF juga akan melakukan mismatch cashflow yang saat ini diperbaiki untuk mengatur term of payment utang dan piutang. Sebab tunggakan dari BPJS melalui anak usaha sekitar Rp 60 miliar.

Baca Juga: Menanti Holding Farmasi, KAEF dan PEHA Sudah Siapkan Strategi Bisnis

Herry yakin di kuartal III dan kuartal IV tahun ini, INAF masih berupaya untuk memenuhi target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Sebab secara siklus bisnis penjualan  dari tender terjadi pada paruh akhir tahun berjalan.

Untuk memperkuat posisi keuangan, INAF juga melakukan diversifikasi produk. Herry menjelaskan saat ini INAF tidak hanya menjual obat tapi juga fokus mengembangkan dan menjual alat kesehatan.

INAF mengelompokkan produk penjualan menjadi tiga, yakni farmasi, Diagnostic & Medical Equipment (DME) dan  Natural Extract. Herry bilang saat ini INAF sudah memiliki mesin baru untuk produksi yakni mesin DME dan natural extract.

Di samping gesit diversifikasi produk, INAF juga fokus pada segmen bisnis regular. Herry menyatakan INAF tetap memproduksi obat generik meskipun bisnis alat kesehatan akan digenjot di tahun-tahun yang akan datang.

Selain itu, INAF juga akan melakukan perbaikan sumber daya manusia dan disiplin dalam eksekusi.

Herry percaya, kinerja INAF di kuartal III akan lebih baik dari Kuartal II. Sebab kuartal III selalu tumbuh dua kali lipat dari kuartal sebelumnya.  

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×