kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45725,83   16,46   2.32%
  • EMAS914.000 0,11%
  • RD.SAHAM 0.55%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Industri manufaktur melemah, emiten farmasi ikut tertekan


Selasa, 01 Oktober 2019 / 17:26 WIB
Industri manufaktur melemah, emiten farmasi ikut tertekan
ILUSTRASI. Obat - industri farmasi

Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Herlina Kartika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali tertekan di kuartal III-2019. Buktinya saja selama September 2019 PMI Manufaktur Indonesia berada di posisi 49,1 dari sebelumnya pada Agustus di 49,0. Walau naik sedikit, sektor ini masih stagnan karena berbagai macam persoalan.

Melansir dari riset IHS Markit (1/10), ada beberapa masalah yang dialami perusahaan manufaktur di penghujung kuartal III-2019. Pertama, tekanan biaya jual karena perusahaan memberikan diskon untuk meningkatkan volume penjualan.

Kedua, kenaikan harga bahan baku sehingga perusahaan mengurangi aktivitas pembelian. 

Baca Juga: Mengulik prospek Indofarma (INAF) setelah jalin kerjasama dengan perusahaan Korea

Ketiga, inventaris yang menumpuk di tengah penjualan yang melemah.

Ternyata kondisi ini ikut mempengaruhi sektor farmasi. Sebut saja PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Indofarma Tbk (INAF) yang ikut kena dampaknya.

Direktur Utama PT Kalbe Farma Tbk Vidjongtius menyatakan kegiatan manufaktur di farmasi bervariasi tergantung jenis produknya.

“Misalnya kegiatan manufaktur untuk memasok kebutuhan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan diperkirakan meningkat, sedangkan makanan minuman kesehatan cenderung flat,” jelasnya kepada Kontan.co.id, Selasa (1/10).

Vidjongtius menjelaskan penyebab segmen makan dan minuman kesehatan yang stagnan karena terjadi pergeseran permintaan dari segmen menengah ke atas ke segmen yang lebih murah. Namun, Vidjongtius meyakini secara total segmen ini masih tetap tumbuh positif.

Kendati demikian, Vidjongtius belum bisa membeberkan proyeksi kinerja di kuartal III karena belum ada hasilnya. Namun kalaupun hasilnya menurun, Vidjongtius mengakui KLBF akan meningkatkan penetrasi pasar menjadi lebih luas lagi.

Direktur Keuangan PT Indofarma Tbk (INAF) Herry Triyatno mengakui masalah yang dijabarkan IHS Markit juga terjadi di industri farmasi khususnya ke INAF.

“Kejadian sama terutama adanya penurunan harga jual karena penjualan melalui e-catalog yang harganya cenderung terus menurun,” jelasnya.

Di sisi lain menurut Herry harga bahan baku juga meningkat karena kelangkaan. Beban overhead juga tumbuh karena UMR terus naik dari tahun ke tahun.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×