Reporter: Nur Qolbi | Editor: Tendi Mahadi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dalam waktu dekat, Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menyeimbangkan kembali (rebalancing) indeks LQ45 untuk periode Agustus 2020-Januari 2021. Sebagaimana diketahui, indeks ini mengukur kinerja harga dari 45 saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.
Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi mengatakan, konstituen baru indeks LQ45 bakal diinformasikan sesuai ketentuan, yakni paling lambat lima hari kerja sebelum diberlakukan mulai 1 Agustus 2020. "Jadi, insyaAllah akan diumumkan pada akhir hari tanggal 24 Juli 2020 ini," ucap Hasan saat dihubungi Kontan.co.id, Rabu (22/7).
Baca Juga: Kinerja Sido Muncul (SIDO) masih positif di tengah pandemi, analis sarankan buy
Mengutip riset NH Korindo Sekuritas, Selasa (21/7), ada sejumlah kriteria yang digunakan untuk memasukkan suatu saham ke dalam indeks ini, yaitu aktivitas transaksi selama 12 bulan ke belakang, ukuran kapitalisasi pasar, aspek fundamental, dan prospek bisnis secara keseluruhan.
Dengan menggunakan kriteria tersebut, Kepala Riset NH Korindo Sekuritas Anggaraksa Arismunandar dan Analis NH Korindo Sekuritas Ajeng Kartika Hapsari memprediksi, ada tiga saham yang paling berpotensi menjadi anggota baru indeks LQ45.
Tiga saham tersebut adalah PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), dan PT Timah Tbk (TINS). Berikut adalah ulasannya:
1. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)
Menurut NH Korindo Sekuritas, harga saham MDKA sudah meningkat sejak akhir kuartal II-2019 seiring dengan perlambatan ekonomi yang membuat emas menjadi instrumen safe heaven para investor. Memang, selama satu tahun ke belakang hingga Rabu (22/7), harga MDKA sudah melonjak 74,89% ke posisi Rp 1.630 per saham.
Baca Juga: Investor asing masih terus keluar dari pasar saham, sampai kapan?
Dari segi prospek bisnis, Merdeka Copper Gold juga masih mempertahankan target produksi emas antara 165.000-185.000 ons untuk tahun 2020. Pada kuartal I-2020, MDKA telah menghasilkan 54.151 ons emas dan 1.785 ton tembaga.
Aset terbesar Merdeka Copper Gold saat ini, yakni porfiri Tujuh Bukit di Banyuwangi, Jawa Timur juga masih memiliki sumber daya terkandung sebesar 28 juta ons emas dan 8,7 juta ton tembaga. MDKA juga memegang proyek lain, seperti emas Pani di Gorontalo dan tambang Wetar di Maluku.
"Lebih jauh lagi, kepemilikan MDKA yang digenggam oleh pemangku kepentingan terkemuka dengan banyak pengalaman di pertambangan Indonesia membuat perusahaan ini semakin menarik," ungkap Angga dan Ajeng dalam risetnya, Selasa (21/7).
2. PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA)
Pandemi Covid-19 telah menyebabkan dampak negatif bagi bisnis rumah sakit, tidak terkecuali MIKA. Emiten ini memperkirakan, jumlah pasien rawat jalan merosot sekitar 40%-50% sejak merebaknya wabah di Indonesia sejak asal Maret 2020.
Baca Juga: IHSG ramai sentimen hingga akhir tahun, investor bisa cicil beli saham sektor ini
Menurut analis, penurunan ini bakal tercermin pada kinerja kuartal II-2020 yang lebih rendah. Meskipun begitu, MIKA menyatakan bahwa jumlah pasien telah membaik sejak Mei atau Juni seiring dengan pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
"Kami sangat optimistis dengan kinerja MIKA di masa depan mengingat perusahaan tersebut berjalan dengan sangat baik dan memiliki neraca keuangan yang sangat sehat," ucap kedua analis tersebut. Per kuartal I-2020, MIKA memiliki utang hampir nol dengan cadangan tunai sebesar Rp 794 miliar.
Saat ini, MIKA mengoperasikan 24 rumah sakit di bawah brand Mitra Keluarga dan Kasih. MIKA juga sedang dalam proses menambah dua rumah sakit pada tahun ini. Satu rumah sakit berlokasi di Surabaya yang 80% konstruksinya sudah rampung dan satu lagi akan diperoleh melalui akuisisi rumah sakit wanita dan anak Adi Dharma yang berada di Cirebon.
Baca Juga: Selain vaksin corona, sentimen ini yang akan menyetir IHSG hingga akhir tahun
3. PT Timah Tbk (TINS)
Penurunan average selling price (ASP) sebesar 22,3% yoy menyebabkan TINS membukukan rugi bersih Rp 413 miliar pada kuartal I-2020. Meskipun demikian, TINS masih mencatatkan kenaikan volume penjualan sebesar 39,83% yoy, dari 12.553 MT menjadi 17.553 MT.
Untuk menghadapi tantangan berupa permintaan yang lesu akibat pandemi, manajemen TINS juga telah menyiapkan beberapa inisiatif, seperti mengurangi biaya operasional sebesar 30% pada 2020 dan peningkatan keuangan dengan mengurangi biaya beban bunga.
Selain itu, proyek smelter baru juga diharapkan dapat menjadi katalis positif bagi TINS, sebab dapat mengefisiensikan biaya produksi dan pemrosesan. "Dengan peningkatan harga timah global yang diproyeksikan terjadi pada semester 2-2020, kami masih yakin bahwa prospek TINS tetap menjanjikan," kata kedua analis NH Korindo Sekuritas ini.
Baca Juga: Ramai pembagian dividen di Juli, apakah akan terjadi aksi jual di Agustus?
Kemudian, berdasarkan perdagangan sahamnya, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai, volume transaksi dan likuiditas ketiga saham tersebut tergolong aktif. "Dari sisi likuiditas yang menjadi salah satu syarat di indeks LQ45 ya masih masuk ya," ungkap Herditya saat dihubungi Kontan.co.id, Rabu (22/7).
Ke depannya, secara teknikal, TINS dan MDKA juga masih cukup menarik karena berpotensi menguat. "Untuk MIKA, saya tidak dapat berkomentar karena secara tren masih menunjukkan tanda-tanda koreksi," kata Herditya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News