kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.042.000   -45.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.916   25,00   0,15%
  • IDX 7.362   -27,28   -0,37%
  • KOMPAS100 1.021   -6,48   -0,63%
  • LQ45 751   -1,06   -0,14%
  • ISSI 259   -0,96   -0,37%
  • IDX30 401   1,72   0,43%
  • IDXHIDIV20 497   5,73   1,17%
  • IDX80 115   -0,59   -0,51%
  • IDXV30 134   1,20   0,90%
  • IDXQ30 129   0,61   0,48%

Indeks Dolar Naik, Ini Sentimen Pendorongnya


Kamis, 12 Maret 2026 / 16:19 WIB
Indeks Dolar Naik, Ini Sentimen Pendorongnya
ILUSTRASI. MARKETS-DOLLAR/VENEZUELA (REUTERS/Dado Ruvic)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan geopolitik global kembali memicu gejolak di pasar valuta asing (valas).

Melansir situs Trading Economics, Indeks Dolar Amerika Serikat (DXY) menanjak ke 99,41 dari akhir pekan lalu di 98,39. Ini membuat sejumlah mata uang utama seperti euro (EUR), pound sterling (GBP), dan Yen Jepang (JPY) tertekan. 

Pada Kamis (12/03)  pukul 15.40 WIB, EUR/USD dalam sehari turun 0,18% ke 1,15. GBP/USD secara harian turun 0,24% ke 1,33 dan USD/JPY dalam sehari turun 0,05% ke 158.

Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono mengatakan Kenaikan DXY ke level 99,41 mencerminkan kembalinya dominasi "The Greenback" di tengah dinamika pasar global yang sedang bergejolak.

Baca Juga: Rupiah Tertekan ke Rp 16.893, Pasar Pantau Data Inflasi AS

Wahyu menyebut faktor utama yang membuat dolar AS tetap kuat adalah ketidakpastian geopolitik Timur Tengah. Dalam hal ini, dolar AS berfungsi sebagai pelindung nilai (safe haven) utama bagi para investor.

Faktor lainnya yaitu data inflasi AS yang cenderung sulit turun membuat pasar berspekulasi bahwa Bank Sentral AS (The Fed) mungkin akan menahan suku bunga tinggi lebih lama dibandingkan bank sentral negara lain.

"Ekonomi AS masih menunjukkan resiliensi yang lebih kuat dibandingkan zona Euro yang sedang menghadapi tantangan fiskal (seperti di Prancis) atau Jepang yang pertumbuhan ekonominya masih fluktuatif. Investasi modal ke aset berbasis AS pun meningkat," ujar Wahyu kepada Kontan pada Kamis (12/3/2026).

Wayu menambahkan faktor lain berupa kenaikan harga minyak dunia akibat risiko disrupsi pasokan karena mayoritas transaksi energi dunia masih menggunakan mata uang USD.

Pendapat yang sama diungkapkan oleh Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong. 

Ia mengatakan Amerika Serikat relatif lebih tahan terhadap kenaikan harga energi dibandingkan banyak negara lain karena merupakan salah satu produsen minyak terbesar dunia.

"Sebaliknya, kawasan seperti Eurozone dan negara seperti Japan sangat bergantung pada impor energi sehingga tekanan ekonomi mereka lebih besar ketika harga minyak naik," ungkap Lukman.

Baca Juga: Merdeka Gold Resources (EMAS) Catat Rugi Bersih US$ 27,49 Juta pada 2025

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×