kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.042.000   -45.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.916   25,00   0,15%
  • IDX 7.362   -27,28   -0,37%
  • KOMPAS100 1.021   -6,48   -0,63%
  • LQ45 751   -1,06   -0,14%
  • ISSI 259   -0,96   -0,37%
  • IDX30 401   1,72   0,43%
  • IDXHIDIV20 497   5,73   1,17%
  • IDX80 115   -0,59   -0,51%
  • IDXV30 134   1,20   0,90%
  • IDXQ30 129   0,61   0,48%

Rupiah Tertekan ke Rp 16.893, Pasar Pantau Data Inflasi AS


Kamis, 12 Maret 2026 / 16:08 WIB
Rupiah Tertekan ke Rp 16.893, Pasar Pantau Data Inflasi AS
ILUSTRASI. -Petugas menghitung uang rupiah dan dolar Amerika (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan mata uang Garuda masih belum bisa bangkit dari tekanan. 

Di pasar spot, rupiah ditutup pada level Rp 16.893 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Kamis (12/3/2026), melemah 0,04% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.886 per dolar AS.

Sejalan, rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ada di level Rp 16.899 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (12/3/2026), melemah 0,19% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.867 per dolar AS.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah terjadi di tengah dinamika sentimen global serta kondisi fiskal domestik yang masih menjadi perhatian pasar.

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 16.893 per Dolar AS, Ini Proyeksinya untuk Jumat (13/3)

Menurutnya, kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Februari 2026 sebenarnya mencatatkan perkembangan positif. Penerimaan pajak tercatat tumbuh lebih dari 30%, sementara penyerapan belanja negara meningkat 41,9%.

Namun, jika melihat struktur realisasi anggaran secara keseluruhan, kondisi fiskal dinilai masih menghadapi tekanan.

“Meski demikian, kalau melihat postur realisasi anggaran secara lengkap, APBN 2026 sampai Februari 2026 masih gali lubang tutup lubang,” ujar Ibrahim, Kamis (12/3/2026).

Hal ini tercermin dari keseimbangan primer yang masih mencatatkan defisit sebesar Rp 35,9 triliun. Selain itu, beban bunga utang pemerintah juga terus meningkat.

Menurut Ibrahim, defisit pada keseimbangan primer tersebut mengindikasikan pemerintah masih perlu menarik utang baru untuk menutup kewajiban pokok utang lama yang jatuh tempo.

Dari sisi global, pergerakan pasar juga dipengaruhi oleh perkembangan konflik di Timur Tengah. Sinyal yang beragam terkait konflik Iran membuat pergerakan harga di pasar komoditas, khususnya logam, menjadi fluktuatif dalam sepekan terakhir.

Baca Juga: Rupiah Spot Melemah 0,04% ke Rp 16.893 per Dolar AS pada Perdagangan Kamis (12/3)

Ia menjelaskan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama sejumlah pejabat lainnya sempat menyatakan bahwa konflik dengan Iran hampir berakhir. Namun, di sisi lain, ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran masih terus berlangsung.

Selain faktor geopolitik, pada Jumat (13/3) pasar juga mencermati data inflasi Amerika Serikat. 

Data inflasi konsumen (CPI) Februari yang dirilis sebelumnya sesuai dengan ekspektasi pasar, namun belum cukup meredakan kekhawatiran terkait potensi kenaikan tekanan harga di masa mendatang, terutama dari sektor energi.

Fokus pelaku pasar kini tertuju pada rilis data indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) yang akan diumumkan pada Jumat (13/3/2026).

Data tersebut merupakan tolok ukur inflasi pilihan Federal Reserve, dan kemungkinan akan menjadi faktor dalam ekspektasi inflasi jangka panjang.

Maka dari itu untuk perdagangan Jumat (14/3), Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 16.890 hingga Rp 16.920 per dolar AS. 

Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 16.900 Per Dolar AS Hari Ini (12/3), Asia Kompak Turun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...

Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×