Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham Indonesia menghadapi tekanan berat seiring merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga menembus level psikologis di bawah 5.000. Kondisi ini dinilai bukan sekadar dampak sentimen negatif global, melainkan juga mencerminkan melemahnya kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik.
Pada perdagangan Selasa (3/11/2026), IHSG ditutup anjlok 192 poin atau 3,78% ke level 4.904. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 11,7 triliun. Investor asing juga kembali membukukan jual bersih atau net sell sebesar Rp 759 miliar. Dengan demikian, akumulasi net sell investor asing di pasar reguler sepanjang tahun berjalan mencapai Rp 127,5 triliun.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, tekanan terhadap IHSG telah berkembang menjadi persoalan kepercayaan investor.
"Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap pasar saham Indonesia bukan lagi sekadar koreksi teknikal, melainkan telah berkembang menjadi krisis kepercayaan investor," ungkap Hendra dalam keterangannya, Selasa (3/11/2026).
Menurut dia, penembusan level psikologis 5.000 memperlihatkan bahwa pelaku pasar masih memilih mengurangi risiko di tengah ketidakpastian global dan domestik yang semakin tinggi.
Baca Juga: Wall Street Selasa (3/11): S&P 500 dan Nasdaq Dibuka Naik, Cermati Pemilu AS
Tekanan eksternal turut memperburuk kinerja pasar saham Indonesia. Bursa saham Asia mengalami koreksi tajam, terutama Korea Selatan dan Taiwan yang masing-masing melemah 3,59%. Pelemahan tersebut dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap keberlanjutan pertumbuhan sektor teknologi serta besarnya belanja kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Meski demikian, Hendra menilai penurunan IHSG yang lebih dalam dibandingkan sejumlah bursa regional mengindikasikan adanya persoalan fundamental di pasar domestik.
"Ketika sentimen global memburuk, pasar dengan tingkat kepercayaan investor yang kuat biasanya memiliki daya tahan lebih baik. Sebaliknya, Indonesia justru menghadapi tekanan berlapis," jelasnya.
Tekanan tersebut antara lain berasal dari tingginya ketidakpastian kebijakan, kekhawatiran terhadap kualitas tata kelola pasar, serta belum pulihnya keyakinan investor terhadap prospek ekonomi dan investasi domestik.
Dari sisi makroekonomi, pelemahan rupiah yang berada di kisaran Rp 18.160 per dolar AS turut mencerminkan meningkatnya persepsi risiko terhadap perekonomian Indonesia. Investor juga mencermati ketidakpastian fiskal, kenaikan harga energi, daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, serta efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak Brent yang menembus US$ 106 per barel berpotensi meningkatkan beban subsidi energi sekaligus mempersempit ruang fiskal pemerintah. Hendra mengingatkan, tekanan tersebut perlu diimbangi dengan pengelolaan anggaran yang kredibel dan komunikasi kebijakan yang konsisten.
Baca Juga: IHSG Jeblok 3,78% ke Level 4.904, Trader Disarankan Ambil Strategi Wait and See
"Jika tekanan tersebut tidak diimbangi dengan pengelolaan anggaran yang kredibel dan komunikasi kebijakan yang konsisten, investor akan semakin berhati-hati dalam menempatkan dana di pasar keuangan Indonesia," ujarnya.
Selain faktor ekonomi, sentimen negatif juga dipengaruhi persoalan struktural pasar modal, terutama terkait transparansi kepemilikan saham, kualitas keterbukaan informasi, dan efektivitas pengawasan transaksi.
Dalam hal ini, Hendra menilai tekanan dari MSCI seharusnya menjadi momentum bagi regulator untuk mempercepat pembenahan pasar modal Indonesia.
"Reformasi pasar bukan sekadar respons administratif, melainkan perubahan nyata yang mampu meningkatkan kepercayaan investor," tegasnya.
Menurut Hendra, arus keluar modal asing yang telah mencapai Rp 127,5 triliun menunjukkan bahwa investor tidak cukup diyakinkan oleh pernyataan optimistis maupun intervensi jangka pendek.
"Pasar membutuhkan kepastian bahwa aturan ditegakkan secara konsisten, risiko manipulasi dapat ditekan, dan investor minoritas memperoleh perlindungan yang memadai," paparnya.
Tanpa pembenahan menyeluruh, setiap gejolak di pasar global berpotensi memicu tekanan yang lebih besar terhadap pasar saham domestik.
Proyeksi IHSG dan Level Support-Resistance
Dari perspektif teknikal, penutupan IHSG di level 4.904 menunjukkan bahwa area support 4.980 telah ditembus. Level tersebut kini berpotensi berubah menjadi resistance terdekat.
Sebagai informasi, support merupakan area harga yang berpotensi menahan tekanan penurunan, sedangkan resistance adalah area yang berpotensi membatasi penguatan harga.
Baca Juga: Pasar Saham Bergejolak, Analis: Utamakan Pengelolaan Risiko
Hendra memperkirakan support berikutnya berada di kisaran 4.850 hingga 4.800. Apabila tekanan jual masih berlanjut, IHSG berisiko melanjutkan pelemahan menuju level 4.700.
Sebaliknya, peluang pemulihan atau rebound akan lebih meyakinkan apabila IHSG mampu kembali menembus level 4.980 dan selanjutnya menguji resistance di kisaran 5.000 hingga 5.100.
Menghadapi kondisi pasar yang masih bergejolak, Hendra menyarankan investor untuk menerapkan strategi investasi secara selektif.
"Investor sebaiknya tetap selektif melalui strategi buy on weakness pada emiten berfundamental kuat, menjaga likuiditas, dan menghindari leverage berlebihan," sarannya.
Hendra menambahkan, pemulihan IHSG tidak cukup hanya mengandalkan meredanya sentimen negatif global. Pemerintah dan regulator perlu mengambil langkah konkret untuk mengembalikan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
"Pada akhirnya, persoalan terbesar pasar saat ini bukan semata-mata harga saham yang turun, melainkan keyakinan investor yang terus terkikis," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














