kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.541.000   10.000   0,40%
  • USD/IDR 18.184   31,00   0,17%
  • IDX 4.902   -195,02   -3,83%
  • KOMPAS100 629   -28,33   -4,31%
  • LQ45 497   -20,92   -4,04%
  • ISSI 164   -6,50   -3,82%
  • IDX30 280   -11,36   -3,90%
  • IDXHIDIV20 377   -14,39   -3,68%
  • IDX80 73   -3,20   -4,22%
  • IDXV30 105   -3,74   -3,43%
  • IDXQ30 94   -3,66   -3,76%

Pengecualian Saham HSC Belum Redam Tekanan IHSG, Simak Prospek Pasar ke Depan


Selasa, 03 November 2026 / 14:43 WIB
Pengecualian Saham HSC Belum Redam Tekanan IHSG, Simak Prospek Pasar ke Depan
ILUSTRASI. Pengecualian saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) dari perhitungan IHSG belum mampu meredakan tekanan di pasar saham  (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengecualian saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum mampu meredakan tekanan di pasar saham domestik.

Alih-alih melanjutkan penguatan, IHSG justru kembali ambles pada perdagangan hari ini, Selasa (3/11/2026).

Pada perdagangan sesi I Selasa (3/11/2026), IHSG anjlok 2,61% ke level 4.963,06. Padahal, sehari sebelumnya IHSG menguat 0,79% ke level 5.096 pada hari pertama implementasi kebijakan pengecualian saham HSC.

Tekanan jual juga terlihat dari mayoritas saham yang bergerak di zona merah, dengan 542 saham melemah, 94 saham menguat, dan 79 saham stagnan.

Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta mengatakan, koreksi IHSG tersebut menunjukkan tekanan di pasar saham domestik masih cukup besar.

"Penguatan 0,79% pada perdagangan sebelumnya belum dapat dikonfirmasi sebagai awal pembentukan tren bullish baru, melainkan masih berpotensi menjadi technical rebound di tengah volatilitas pasar yang tinggi," ujar Nafan kepada Kontan, Selasa (3/11/2026).

Baca Juga: IHSG Ambruk 2,62% ke 4.963 Sesi I, Top Losers LQ45: DEWA, BRPT, WIFI, Selasa (3/11)

Nafan bilang, pengecualian saham HSC dari perhitungan IHSG merupakan langkah positif dari sisi pembenahan metodologi indeks dan peningkatan kualitas tata kelola pasar modal.

Namun, kebijakan tersebut tidak serta-merta menghilangkan persoalan fundamental pasar, seperti kekhawatiran investor terhadap transparansi kepemilikan saham, likuiditas, serta ketidakpastian arah aliran dana asing.

Tekanan jual yang terjadi saat ini juga merupakan kombinasi antara penyesuaian portofolio, aksi ambil untung atau profit taking, serta masih tingginya sikap risk-off investor.

Nafan mengingatkan investor untuk mencermati level psikologis 5.000 sebagai penopang IHSG. Jika tekanan jual berlanjut, volatilitas berpotensi tetap tinggi, sementara pemulihan yang didukung peningkatan volume transaksi dan akumulasi saham berkapitalisasi besar dapat menjadi sinyal membaiknya kepercayaan pasar.

Untuk prospek hingga akhir 2026, IHSG masih menghadapi tantangan dalam membangun momentum pemulihan yang berkelanjutan. Pasar membutuhkan katalis positif yang kuat, terutama dari sisi perbaikan kepercayaan investor, stabilitas nilai tukar rupiah, serta konsistensi reformasi pasar modal.

Sentimen yang Pengaruhi IHSG

Di tengah upaya pemulihan tersebut, investor perlu mencermati sejumlah sentimen yang berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG. Pertama, perkembangan evaluasi MSCI terhadap status pasar modal Indonesia, terutama terkait kemungkinan reklasifikasi dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Kedua, perkembangan kebijakan regulator mengenai peningkatan free float, transparansi kepemilikan saham, dan kualitas tata kelola emiten.

Baca Juga: Inflasi dan Suku Bunga Bayangi Prospek Pasar Investasi pada 2027

Ketiga, potensi berlanjutnya capital outflow atau aksi jual bersih investor asing yang dapat memberikan tekanan terhadap saham-saham berkapitalisasi besar. Selain itu, dinamika suku bunga global, kebijakan The Fed, serta pergerakan nilai tukar rupiah juga akan memengaruhi persepsi risiko investasi di Indonesia.

Perkembangan geopolitik dan harga komoditas global turut perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi prospek kinerja emiten di sektor energi, pertambangan, dan industri pengolahan.

"Volatilitas IHSG masih akan relatif tinggi hingga akhir tahun. Pemulihan indeks akan sangat bergantung pada keberhasilan reformasi pasar modal dalam mengembalikan kepercayaan investor institusional, khususnya investor asing," tutur Nafan.

Di tengah kondisi tersebut, investor disarankan tidak terburu-buru melakukan akumulasi secara agresif. Nafan menyarankan strategi buy on weakness secara bertahap terhadap saham dengan fundamental kuat, valuasi menarik, serta likuiditas yang memadai.

Prospek Saham HSC dan Sektor Pilihan

Di sisi lain, saham-saham yang masuk kategori HSC tetap dapat dipertimbangkan sebagai instrumen investasi, meskipun investor perlu melakukan seleksi secara cermat. Dikeluarkannya saham HSC dari perhitungan IHSG bukan berarti saham tersebut otomatis tidak layak investasi atau tidak lagi dapat diperdagangkan.

Saham-saham tersebut tetap tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan dapat ditransaksikan seperti biasa. Namun, pergerakan harganya tidak lagi berkontribusi terhadap perhitungan IHSG.

Baca Juga: Banyak Melanggar Aturan, OJK Cabut Izin Pratama Capital Assets Management

Sejumlah risiko yang perlu diperhatikan investor antara lain keterbatasan free float, konsentrasi kepemilikan, likuiditas perdagangan, serta potensi volatilitas harga yang tinggi. Saham-saham HSC juga berpotensi menghadapi tantangan dalam menarik minat investor institusional yang memiliki kebijakan investasi berbasis indeks.

Karena itu, investor perlu mempertimbangkan kualitas fundamental, valuasi, transparansi kepemilikan, dan prospek pertumbuhan bisnis masing-masing emiten sebelum mengambil keputusan investasi.

Sebagai alternatif, Nafan menyarankan investor mencermati saham-saham berkapitalisasi besar dengan likuiditas relatif baik dan fundamental yang solid.

"Beberapa sektor yang dapat menjadi perhatian adalah perbankan, consumer goods, telekomunikasi, dan otomotif," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×