kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   -38.000   -2,09%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

IHSG Sentuh Level Terendah dalam 3 Tahun, Cek Saham Rekomendasi Analis di Maret 2025


Minggu, 02 Maret 2025 / 17:50 WIB
IHSG Sentuh Level Terendah dalam 3 Tahun, Cek Saham Rekomendasi Analis di Maret 2025


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh titik terendah dalam tiga tahun terakhir atau pasca pandemi Covid-19 mereda. IHSG menutup perdagangan Jumat (28/2) di posisi 6.270,59. 

Selama Februari 2025, IHSG ambles 11,89%. Jika ditarik lebih jauh lagi, sepanjang tahun ini IHSG sudah melemah 11,43% dengan net sell investor asing di seluruh pasar mencapai Rp 18,98 triliun. 

VP Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi menjelaskan tekanan jual asing yang masih deras pasca penurunan rating dari Morgan Stanley, menjadi salah satu sentimen penekan IHSG. 

Baca Juga: Dana Asing Kabur, IHSG Rawan Terkoreksi Lagi di Perdagangan Awal Maret 2025

Selain itu, pasar saham Indonesia juga masih dihantui oleh ketidakpastian global seiringan dengan kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang berpotensi mendorong kenaikan inflasi. 

Dari dalam negeri, pasar saham dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah yang menyentuh level terendah sejak Juni 1998. Rupiah spot berada di level Rp 16.596 per dolar AS pada Jumat (28/2). 

"Maret akan menjadi bulan yang berat bagi pasar saham dengan berbagai tantangan. Pertama, pergerakan IHSG secara historis mengalami tekanan," kata Audi kepada Kontan akhir pekan lalu.  

Dalam 10 tahun terakhir, rata-rata IHSG sudah terkoreksi 2,2% pada Maret. Asal tahu saja, IHSG hanya menguat empat kali pada Maret 2015, 2017, 2019 dan 2022. 

Baca Juga: Begini Rekomendasi Saham Indeks MSCI Indonesia yang Berlaku Besok (3/3)

"Ramadan dan pra lebaran diwarnai kekhawatiran daya beli yang lemah, ini cenderung akan membuat target konsumsi dan pertumbuhan tidak sesuai ekspektasi," ucap Audi.  

Masih dari sentimen dalam negeri, lanjut dia, tantangan datang dari pembagian dividen emiten dari kinerja tahun buku 2024 yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. 

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menambahkan pergerakan IHSG juga turut dipengaruhi oleh sentimen eksternal terutama kebijakan Trump. 

Yakni, kepastian kenaikan tarif terhadap Meksiko dan Kanada serta kepastian tarif reciprocal. Selain itu, pasar juga menantikan pertemuan Bank Sentral AS yaitu The Fed. 

"Untuk rebound rasanya masih agak sulit, karena tekanan masih sangat besar terutama kebijakan tarif Trump. IHSG diproyeksikan akan bergerak di rentang 6.170–6.510," ucap Nico. 

Baca Juga: Net Sell Asing Tembus Rp 10,22 Triliun Saat IHSG Tumbang 7,83% Sepekan

Nico menyarankan, bagi investor yang tidak suka dengan volatilitas tinggi tetapi ingin berinvestasi bisa wait and see. Sementara, bagi investor yang suka dengan volatilitas, kesempatan bisa menjadi kesempatan. 

Apabila pelaku pasar dan investor ingin berinvestasi jangka panjang, akumulasi beli merupakan hal yang tepat. Nico menyebut sektor komoditas bisa dicermati karena berkorelasi positif dengan sentimen yang ada. 

Secara teknikal, Audi menjelaskan IHSG sudah mulai memasuki area oversold dalam timeframe weekly. Dengan demikian, potensi technical rebound masih sangat spekulatif. 

Audi memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang level support: 6.050-6.100 yang menjadi level psikologis. Sementara IHSG akan uji resistance 6.640

Baca Juga: Aksi Jual Asing Rp 10,2 Triliun, IHSG Menjebol Level 6.200

"Kami masih konservatif dengan berfokus pada saham blue chip yang sedang terdiskon di pasar serta untuk investasi dalam jangka panjang dan saham dengan dividen konsisten bisa menjadi pilihan," ucapnya.

Lebih lanjut, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan beli BBCA dengan target harga di Rp 10.400, beli TLKM dengan target di Rp 2.830, beli BMRI dengan target Rp 5.800 dan beli ANTM dengan target harga Rp 1.900. 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×