Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tengah mengalami tren penurunan. Mengikuti IHSG, kinerja reksadana saham juga menurun pada Januari 2026.
Berdasarkan data Infovesta, kinerja IHSG terkoreksi 3,67%, sementara kinerja reksadana saham di level -0,50%.
Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Eri Kusnadi berharap pertumbuhan ekonomi bisa terus menunjukkan tren positif setelah pulih di semester II tahun lalu. Menurutnya, dengan koreksi IHSG ini, valuasi saham-saham bisa lebih murah dan secara menyeluruh semuanya berpotensi rebound.
Di sisi lain, banyak emiten yang berencana melakukan buyback saham. Ini mencerminkan valuasi yang lebih murah atau level harga yang cukup menarik untuk dikoleksi.
Baca Juga: IHSG Terkoreksi Dalam, Investasi Reksadana Saham Dinilai Menarik untuk Jangka Panjang
“Prospek reksadana saham setelah koreksi tentunya bisa rebound ya diiringi fundamental story yang bisa kita lihat,” ujar Eri kepada Kontan, Selasa (3/2/2026).
Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution, Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi Riawan mengatakan, penurunan IHSG ke level sekitar 8.000 memang mencerminkan tekanan sentimen yang cukup kuat. Baik dari faktor global seperti arus dana asing dan dinamika MSCI. Maupun dari ketidakpastian eksternal.
Menurutnya, bagi investor dengan horizon jangka panjang, reksadana saham berpotensi diuntungkan ketika pasar mulai melakukan repricing dan sentimen berangsur membaik, terutama karena portofolionya terdiversifikasi dan dikelola secara aktif.
“Dalam jangka pendek, kondisi ini membuat kinerja reksadana saham cenderung tertekan. Namun dari perspektif jangka menengah hingga panjang, koreksi tersebut justru mulai membuka ruang valuasi yang lebih menarik,” jelas Reza kepada Kontan, Selasa (3/2/2026).
Eri mengatakan, sentimen yang perlu dicermati terkait reksadana saham tentunya yang pertama adalah MSCI. Berikutnya, fundamental ekonomi dan kinerja emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI), khususnya saham-saham yang harusnya tidak terpengaruh oleh MSCI.
Baca Juga: IHSG Cetak Rekor, Reksadana Saham Bisa Menjadi Opsi Investasi Menarik pada 2026
“Jadi mereka yang akan memberikan sentimen yang lebih riil terhadap fundamental perekonomian kita,” ucap Eri.
Sementara Reza menyebut beberapa sentimen utama yang akan memengaruhi kinerja reksadana saham hingga akhir tahun. Antara lain arah kebijakan suku bunga global dan domestik, khususnya sinyal pelonggaran yang dapat menjadi katalis positif.
Selain itu, pergerakan arus dana asing dan penyesuaian indeks global seperti MSCI masih akan menjadi faktor volatilitas. Dari sisi fundamental, kinerja keuangan emiten, terutama sektor perbankan, konsumsi, dan komoditas, akan menjadi penentu utama.
“Stabilitas makro domestik, nilai tukar, serta dinamika geopolitik global juga tetap perlu dicermati karena berpengaruh pada risk appetite investor,” terang Reza.
Adapun, salah satu produk reksadana saham yang mencetak kinerja positif pada adalah Batavia Dana Saham Syariah yang dikelola Batavia Prosperindo Aset Manajemen. Eri mengatakan strategi pengelolaan Batavia Dana Saham Syariah fokus ke sektor komoditas, telekomunikasi, dan consumer. Menurutnya, di ketiga sektor tersebut terdapat recovery pertumbuhan bisnis dan juga ketahanan bisnis yang dinilai cukup bagus untuk portofolio investasinya.
Baca Juga: Reksadana Saham Jadi Reksadana dengan Kinerja Terbaik, Ini Prospek ke Depan
“Lalu untuk target return saya rasa ngga ada yang khusus, tapi mungkin bisa lebih menarik dari tahun lalu,” ujar Eri.
Sementara itu, dalam pengelolaan reksadana saham, Reza menyampaikan bahwa Henan Asset tetap mengedepankan pendekatan long bias dengan penekanan pada seleksi emiten berfundamental kuat, arus kas solid, dan valuasi yang relatif menarik. Strategi diversifikasi lintas sektor dijaga untuk mengelola volatilitas, dengan penyesuaian bobot portofolio dilakukan secara aktif mengikuti dinamika pasar.
“Henan Asset juga memanfaatkan rotasi sektor secara selektif, termasuk pada sektor defensif ketika ketidakpastian meningkat,” jelas Reza.
Terkait target return, Reza mengatakan ditengah kondisi pasar yang masih menantang, pendekatan yang digunakan bersifat realistis dan terukur. Dengan asumsi stabilitas makro terjaga dan terdapat perbaikan sentimen di semester kedua, reksadana saham Henan Asset secara umum menargetkan potensi imbal hasil berkelanjutan, dengan tetap mengedepankan manajemen risiko sebagai prioritas utama.
Baca Juga: Memasuki 2026, Reksadana Saham Masih Prospektif Meski Berisiko Tinggi
Selanjutnya: IHSG Melonjak 2,52% ke 8.122, Top Gainers LQ45: BUMI, SCMA dan INKP, Selasa (3/2)
Menarik Dibaca: Desain iPhone 17e: Bezel Tipis dan Charger Super Cepat Menanti
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













