kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.504.000   16.000   0,64%
  • USD/IDR 16.733   26,00   0,16%
  • IDX 8.677   29,88   0,35%
  • KOMPAS100 1.198   4,79   0,40%
  • LQ45 847   0,76   0,09%
  • ISSI 312   3,04   0,98%
  • IDX30 436   -0,80   -0,18%
  • IDXHIDIV20 508   -1,54   -0,30%
  • IDX80 133   0,54   0,41%
  • IDXV30 139   -0,25   -0,18%
  • IDXQ30 140   -0,14   -0,10%

Memasuki 2026, Reksadana Saham Masih Prospektif Meski Berisiko Tinggi


Jumat, 02 Januari 2026 / 07:47 WIB
Memasuki 2026, Reksadana Saham Masih Prospektif Meski Berisiko Tinggi
ILUSTRASI. Ilustrasi pasar modal (KONTAN/Cheppy A. Muchlis). Sepanjang 2025, reksadana saham memimpin kinerja dengan return 20,62% YTD, meskipun di bawah IHSG, sementara reksadana pasar uang mencatat return terendah 4,43%.


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja reksadana sepanjang tahun 2025 menunjukkan hasil yang beragam di tengah dinamika pasar keuangan domestik.

Hingga menjelang akhir tahun, reksadana saham tampil paling menonjol, sekaligus menjadi instrumen yang menarik perhatian investor. Meski begitu, prospek reksadana pada 2026 diperkirakan masih cukup menjanjikan, meski berpotensi diwarnai volatilitas pasar.

Berdasarkan data Infovesta per 15 Desember 2025, reksadana saham (RDS) mencatatkan return paling tinggi, yakni 20,62% secara year to date (ytd). Meski pertumbuhan ini positif, return RDS masih sedikit di bawah kenaikan IHSG yang menguat 22,17% ytd.

Di posisi berikutnya, reksadana campuran (RDC) membukukan return 14,60% ytd, sementara reksadana pendapatan tetap (RDPT) menghasilkan return 6,87% ytd.

Baca Juga: Kinerja Reksadana 2025: Saham Terkerek, Prospek 2026 Tetap Menjanjikan

Reksadana pasar uang (RDPU) mencatatkan return paling rendah di antara jenis reksadana lainnya, yakni 4,43% ytd.

Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan, menuturkan bahwa kinerja reksadana sepanjang 2025 mencerminkan hasil yang beragam seiring dengan dinamika suku bunga, pergerakan pasar obligasi, dan fluktuasi pasar saham domestik.

Reza menekankan, reksadana saham di tahun 2025 ini menjadi instrumen dengan potensi return tertinggi sekaligus risiko terbesar. Menurutnya, ke depannya reksadana saham tetap lebih cocok bagi investor agresif dengan horizon investasi jangka panjang.

Sementara itu, dari sisi defensif, RDPU tetap menjadi pilihan utama sepanjang 2025. Mayoritas RDPU ditempatkan pada deposito dan surat utang jangka pendek, sehingga mampu menjaga stabilitas nilai portofolio.

Secara historis, RDPU terbaik membukukan imbal hasil sekitar 6,5% per tahun dalam tiga tahun terakhir.

Baca Juga: Integrasi Sistem OJK dan KSEI Akan Mempermudah Administrasi Produk Reksadana

Adapun RDPT menunjukkan kinerja relatif lebih menarik dibanding RDPU. Hal ini karena sepanjang periode historis, RDPT terbaik mampu mencatatkan return sekitar 7%-7,9% per tahun, ditopang oleh pergerakan obligasi jangka menengah hingga panjang. Sedangkan reksadana campuran (RDC) cenderung fluktuatif sepanjang 2025.

“Meski risikonya memang lebih tinggi dibanding RDPU, RDPT dinilai tetap cocok untuk investor dengan tujuan investasi jangka menengah,” ujar Reza kepada Kontan awal pekan lalu.

Lebih lanjut, Reza menilai prospek reksadana secara keseluruhan pada 2026 masih cukup menjanjikan, dengan catatan risiko tetap terjaga.

Senada seirama, CEO Pinnacle Investment Guntur Putra juga berpandangan bahwa memasuki tahun 2026 ini, prospek reksadana masih positif, didukung potensi pelonggaran kebijakan moneter global dan pertumbuhan ekonomi domestik yang berkelanjutan.

Ia pun menilai RDS masih berpotensi menjadi kontributor return utama di 2026, namun juga dengan profil risiko yang lebih tinggi.

Guntur bilang, RDS berturut-turut mencatat return tertinggi karena adanya momentum positif, serta meningkatnya kembali minat investor, khususnya investor ritel, terhadap aset berisiko. Tetapi, dia juga tetap menekankan selektivitas, karena tidak semua sektor dan saham bergerak dengan kualitas yang sama.

“Karena itu, Pinnacle melihat reksadana campuran dan strategi pendapatan tetap aktif sebagai alternatif yang menarik untuk menjaga keseimbangan antara peluang return dan pengelolaan risiko,” jelas Guntur.

Baca Juga: Prospek Reksadana Offshore Terdorong Saham Teknologi dan Penguatan Dolar

Sementara itu, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menilai performa unggul RDS tak lepas dari strategi manajer investasi (MI) yang mulai mengalihkan portofolio ke saham-saham growth.




TERBARU

[X]
×