kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.027.000   167.000   5,84%
  • USD/IDR 16.805   20,00   0,12%
  • IDX 7.923   -406,88   -4,88%
  • KOMPAS100 1.108   -57,53   -4,94%
  • LQ45 806   -27,29   -3,27%
  • ISSI 278   -19,24   -6,46%
  • IDX30 421   -8,88   -2,07%
  • IDXHIDIV20 505   -4,36   -0,85%
  • IDX80 123   -5,79   -4,48%
  • IDXV30 135   -3,57   -2,57%
  • IDXQ30 137   -1,44   -1,04%

IHSG Tertekan Dampak MSCI, Investor Masih Bisa Cuan Lewat Strategi Diversifikasi Ini


Selasa, 03 Februari 2026 / 05:35 WIB
IHSG Tertekan Dampak MSCI, Investor Masih Bisa Cuan Lewat Strategi Diversifikasi Ini
ILUSTRASI. Saham maupun ETF saham masih menawarkan potensi imbal hasil tertinggi, yakni di atas 10%–15% per tahun dalam jangka panjang


Reporter: Rashif Usman | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih lanjut melemah pada perdagangan awal Februari2026 usai MSCI membekukan Indonesia dari perubahan indeks. Analis membeberkan strategi diversifikasi investasi agar investor tetap cuan di tengah volatilitas pasar.

MSCI membekukan Indonesia dari perubahan indeks setidaknya hingga Mei 2026. Kondisi tersebut membuat pergerakan pasar semakin volatil, meski peluang cuan tetap terbuka bagi investor yang selektif.

Tekanan pasar tercermin dari kinerja IHSG yang dalam sepekan terakhir ambles hingga 6,94%. Pelemahan berlanjut pada awal pekan ini, dengan IHSG langsung bergerak di zona merah sejak pembukaan perdagangan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI, IHSG ditutup melemah 406,87 poin atau turun 4,88% ke level 7.922,73 pada akhir perdagangan Senin (2/2/2026).

Baca Juga: IHSG Ambruk 4,88% ke 7.922, Cermati Saham Net Sell Terbesar Asing di Awal Pekan

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menilai bahwa di tengah koreksi pasar dan meningkatnya ketidakpastian sentimen global, termasuk isu MSCI, investor perlu mulai mempertimbangkan strategi diversifikasi portofolio.

Menurut Hari, diversifikasi dapat dilakukan dengan mengalokasikan dana ke instrumen yang lebih defensif seperti obligasi atau Surat Berharga Negara (SBN), baik seri Fixed Rate (FR), ORI, maupun sukuk yang menawarkan kupon relatif stabil.

Selain itu, reksadana pasar uang juga dapat menjadi alternatif penempatan dana jangka pendek dengan tingkat fluktuasi yang rendah. Deposito berjangka dinilai cocok untuk menjaga likuiditas sambil menunggu arah pasar yang lebih jelas.

“Alternatif lainnya adalah exchange traded fund (ETF) berbasis obligasi maupun emas yang relatif likuid dengan tingkat risiko yang lebih terukur,” ujar Hari kepada Kontan, Senin (2/2/2026).

Hari juga mengelompokkan instrumen investasi berdasarkan horizon waktu. Untuk jangka pendek sekitar satu tahun, reksadana pasar uang, deposito, serta SBN tenor pendek dinilai paling sesuai.

Sementara untuk jangka menengah satu hingga tiga tahun, investor dapat mempertimbangkan obligasi pemerintah, reksadana pendapatan tetap, maupun ETF obligasi.

Adapun untuk jangka panjang di atas tiga tahun, akumulasi saham berfundamental kuat tetap menarik, khususnya emiten dengan free float di atas 15%. Emas juga dinilai relevan sebagai instrumen diversifikasi, termasuk ETF saham defensif atau saham dengan dividen tinggi.

Dari sisi potensi imbal hasil, reksadana pasar uang dan deposito diperkirakan memberikan return sekitar 3%–5% per tahun. Obligasi atau SBN berpotensi memberikan imbal hasil 6%–8% per tahun dengan volatilitas yang relatif lebih rendah.

Tonton: IHSG Terpapar Sentimen Pergantian Pimpinan BEI dan OJK, Cek Rekomendasi Saham Berikut

Sementara itu, emas berpotensi mencatatkan imbal hasil di kisaran 8%–12% per tahun, meski sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global dan pergerakan dolar AS.

Saham maupun ETF saham masih menawarkan potensi imbal hasil tertinggi, yakni di atas 10%–15% per tahun dalam jangka panjang, dengan konsekuensi volatilitas yang juga lebih tinggi.

Berdasarkan profil risiko, investor konservatif disarankan memilih reksadana pasar uang, deposito, dan SBN ritel. Investor moderat dapat memadukan obligasi, emas, serta saham defensif atau saham dengan dividen tinggi.

Sedangkan investor agresif dapat memanfaatkan koreksi pasar saat ini untuk mengoleksi saham berfundamental kuat, ETF saham, serta saham berbasis komoditas secara bertahap.

Naik Kelas BPJS Kesehatan, Benarkah Selalu Mahal? Ini Penjelasannya

Selanjutnya: Pokok Pembiayaan Multifinance Terancam Susut Imbas Tren Mobil Baru dengan Harga Murah

Menarik Dibaca: Promo Bakmi GM & Chopstix: Imlek Makin Cuan, Kantong Tetap Aman!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×