Sumber: Harian KONTAN | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Reli kuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang Juli 2026 menjadi angin segar bagi investor setelah pasar saham Indonesia tertekan selama enam bulan pertama tahun ini.
Namun, di balik kenaikan tersebut, investor dinilai perlu mulai bersikap lebih waspada mengingat secara historis pasar memasuki periode yang lebih rentan terkoreksi pada Agustus hingga September.
Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, mengatakan kenaikan tajam IHSG pada Juli sebaiknya dimanfaatkan investor untuk merealisasikan sebagian keuntungan, sekaligus menyiapkan dana jika pasar kembali terkoreksi dalam beberapa bulan ke depan.
"Profit taking yang dilakukan secara terencana bukan berarti kehilangan keyakinan terhadap pasar, melainkan bentuk disiplin dalam mengelola risiko di tengah potensi volatilitas yang masih tinggi," ujar Wawan seperti dikutip dari artikelnya yang terbit di Harian KONTAN, Sabtu (1/8/2026)
Baca Juga: Saham Bank Berbalik Melemah, Aksi Profit Taking Bayangi Prospek Pekan Depan
IHSG mencatat kenaikan 10,51% sepanjang Juli 2026 dan ditutup di level 6.236 pada perdagangan 31 Juli.
Penguatan tersebut menjadi return bulanan tertinggi dalam sedikitnya satu dekade terakhir, sekaligus mengakhiri tren pelemahan yang terjadi selama Januari hingga Juni 2026.
Sebelumnya, IHSG sempat anjlok hingga level 5.692 pada awal Juni atau terkoreksi sekitar 36% dari rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.134 yang dicapai pada 20 Januari 2026.
Kondisi itu membuat valuasi saham menjadi lebih murah dan mendorong investor kembali melakukan akumulasi, didukung mulai meredanya sejumlah tekanan eksternal.
Secara historis, Juli memang menjadi bulan terbaik bagi pasar saham Indonesia. Berdasarkan data 10 tahun terakhir, IHSG selalu membukukan return positif pada bulan tersebut dengan rata-rata kenaikan 3,44%.
Baca Juga: Simak Proyeksi Pergerakan IHSG untuk Perdagangan Senin (27/7)
Meski demikian, pola musiman juga menunjukkan bahwa momentum penguatan biasanya mulai melambat pada Agustus sebelum pasar memasuki periode yang lebih lemah pada September.
Dalam satu dekade terakhir, September hanya mencatat probabilitas kenaikan sebesar 30%, dengan rata-rata return negatif 0,88%.
Bahkan, koreksi terdalam pada bulan tersebut pernah mencapai 7,03% pada 2020. Secara keseluruhan, IHSG mengalami pelemahan pada September dalam tujuh dari sepuluh tahun terakhir.
Menurut Wawan, pola tersebut juga sejalan dengan fenomena September effect yang dikenal di berbagai bursa saham global.
Di Indonesia, tekanan biasanya berasal dari aksi ambil untung setelah reli Juli, ditambah meningkatnya sentimen eksternal pada kuartal ketiga.
Sejumlah faktor global juga masih berpotensi memengaruhi pergerakan pasar, mulai dari arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), perkembangan tensi geopolitik, hingga arus modal asing.
Hingga pertengahan 2026, investor asing masih membukukan jual bersih hampir Rp 80 triliun di pasar saham domestik.
Baca Juga: Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham untuk Senin (27/7)
Di sisi lain, volatilitas pasar juga masih tergolong tinggi. Berdasarkan data historis 10 tahun terakhir, deviasi standar return bulanan IHSG mencapai 4,25%, sedangkan nilai Value at Risk (VaR) bulanan berada di kisaran 8,36%.
Artinya, dalam skenario terburuk dengan tingkat keyakinan 95%, IHSG masih berpotensi terkoreksi sekitar 8% dalam satu bulan.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
