Reporter: Alya Fathinah | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek di tengah tingginya ketidakpastian global dan domestik.
Meski peluang rebound teknikal mulai terbuka setelah koreksi yang cukup dalam, pelaku pasar diperkirakan masih bersikap hati-hati sambil menunggu kejelasan sejumlah sentimen ekonomi.
Pada perdagangan Senin (29/6/2026) sesi I, IHSG ditutup melemah 57,18 poin atau 0,97% ke level 5.838. Memasuki pembukaan sesi II pada pukul 13.30 WIB, indeks bergerak di kisaran level 5.840, mencerminkan masih kuatnya tekanan jual di pasar saham domestik.
Equity Research Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis, menilai secara teknikal IHSG masih berpotensi bergerak dalam pola sideways dengan kecenderungan melemah. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh sikap investor yang masih memilih menunggu perkembangan berbagai katalis ekonomi sebelum kembali meningkatkan eksposur di pasar saham.
Baca Juga: Harga Emas Catat Penurunan dalam 4 Bulan, Investor Cermati Konflik dan The Fed
"Dalam jangka pendek IHSG masih berada dalam fase high volatility dan cenderung bergerak sideways dengan kecenderungan melemah, meskipun peluang technical rebound tetap terbuka setelah koreksi yang cukup dalam," ujar Alrich kepada Kontan, Senin (29/6/2026).
Ia menjelaskan, area support IHSG saat ini berada di kisaran 5.700 hingga 5.800, sementara level resistance berada di sekitar 6.000. Selama indeks belum mampu menembus level resistance tersebut, penguatan yang terjadi diperkirakan masih bersifat terbatas dan lebih didorong oleh faktor teknikal.
Selain dipengaruhi faktor eksternal, Alrich mengatakan tekanan terhadap IHSG juga berasal dari faktor domestik, terutama masih berlanjutnya arus keluar dana asing (foreign outflow). Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu penghambat pemulihan pasar saham Indonesia dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut Alrich, sepanjang pekan ini perhatian investor akan tertuju pada sejumlah agenda ekonomi global yang berpotensi memengaruhi arah pasar keuangan.
Sentimen tersebut antara lain pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh, rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat atau Non-Farm Payrolls (NFP), pergerakan imbal hasil US Treasury, indeks dolar Amerika Serikat (DXY), hingga dinamika harga komoditas global.
Di sisi domestik, pasar juga akan mencermati sejumlah indikator ekonomi, mulai dari perkembangan kebijakan pemerintah, realisasi belanja negara, data inflasi, hingga potensi stimulus ekonomi yang diharapkan dapat menopang daya beli masyarakat dan menjaga aktivitas investasi.
Baca Juga: Terkoreksi 5,46% dalam Sepekan, Harga Minyak Mentah di Level US$ 69 Per Barel
Untuk menopang pergerakan IHSG, Alrich melihat saham-saham perbankan berkapitalisasi besar masih akan menjadi penopang utama indeks. Emiten seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI diperkirakan tetap menjadi motor penggerak IHSG mengingat kontribusi kapitalisasi pasarnya yang dominan.
Di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif, Alrich menyarankan investor untuk tetap menerapkan strategi selective buying, khususnya pada saham-saham dengan fundamental yang kuat dan mulai menunjukkan sinyal pembalikan arah secara teknikal.
Salah satu saham yang menjadi pilihan adalah BBCA. Menurutnya, saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut masih menarik untuk dikoleksi melalui strategi buy on support.
Hal itu didukung oleh volume transaksi yang tetap solid setelah harga berhasil menembus garis rata-rata pergerakan atau moving average (MA) 20, sehingga membuka peluang melanjutkan penguatan menuju level resistance di kisaran Rp 6.800 per saham.
Adapun rekomendasi yang diberikan adalah melakukan akumulasi saham BBCA di area Rp 5.800 per saham, dengan target harga berada pada rentang Rp 6.500 hingga Rp 6.700 per saham. Sementara itu, investor disarankan menerapkan batas stop loss apabila harga bergerak di bawah Rp 5.600 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














