Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Kamis (25/6/2026).
IHSG naik 1,96% atau bertambah 115,16 poin ke level 5.999, setelah sebelumnya sempat tertekan dan menyentuh level terendah dalam dua pekan.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai penguatan IHSG didorong oleh kembali masuknya aksi beli investor yang memburu saham-saham murah.
Baca Juga: The Fed Masih Hawkish, Harga Emas Berisiko Lanjut Koreksi
“IHSG menguat seiring kembali masuknya aksi beli investor yang memburu saham-saham murah setelah pasar menyentuh level terendah dalam dua pekan,” jelas Nico kepada Kontan, Kamis (25/6/2026).
Dari eksternal, penguatan bursa Asia turut menopang pergerakan IHSG. Sentimen positif datang dari meredanya kekhawatiran geopolitik menyusul kemajuan upaya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran, yang turut mendorong harga minyak kembali stabil.
Kondisi ini membantu meredakan tekanan inflasi global dan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh bank sentral.
Selain itu, bank sentral China (PBOC) juga menyatakan akan melakukan operasi reverse repo untuk menjaga likuiditas jangka pendek di sistem perbankan.
Dari domestik, Bank Indonesia mencatat aliran dana asing yang masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tenor satu tahun dan obligasi pemerintah mencapai sekitar Rp 105 triliun sepanjang Juni.
Meski demikian, pasar juga mencermati penurunan peringkat daya saing Indonesia dalam World Competitiveness Ranking yang turun 21 peringkat.
Secara teknikal, Nico menilai IHSG berpotensi melanjutkan penguatan selama tidak menembus level support tertentu.
“Apabila IHSG tidak mengalami penurunan hingga 5.880, kami melihat IHSG berpotensi untuk menguat dan ditutup di atas 6.000, dengan target lanjutan di kisaran 6.000 hingga 6.150,” jelasnya.
Untuk perdagangan Jumat (26/6/2026), Nico memperkirakan IHSG masih berpotensi menguat, meskipun pelaku pasar cenderung bersikap wait and see terhadap sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, seperti inflasi dan ketenagakerjaan.
Baca Juga: RMK Energy (RMKE) Siapkan Dana Rp 116 Miliar untuk Lunasi Obligasi Jatuh Tempo
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














