kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.700.000   20.000   0,75%
  • USD/IDR 17.890   8,00   0,04%
  • IDX 6.302   -72,08   -1,13%
  • KOMPAS100 823   -12,50   -1,50%
  • LQ45 627   -6,68   -1,05%
  • ISSI 217   -3,15   -1,43%
  • IDX30 351   -3,41   -0,96%
  • IDXHIDIV20 427   -2,06   -0,48%
  • IDX80 94   -1,35   -1,41%
  • IDXV30 117   -1,05   -0,89%
  • IDXQ30 111   -0,62   -0,56%

SBN Rp 190 Triliun Jatuh Tempo, Yield Obligasi Berpeluang Turun


Kamis, 13 Agustus 2026 / 17:43 WIB
SBN Rp 190 Triliun Jatuh Tempo, Yield Obligasi Berpeluang Turun
ILUSTRASI. Besarnya dana yang kembali ke investor berpotensi menciptakan permintaan baru di pasar obligasi melalui aksi reinvestasi.(KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Narita Indrastiti | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar obligasi Indonesia mendapat angin segar dari besarnya Surat Berharga Negara (SBN) yang akan jatuh tempo pada September 2026. Nilainya mencapai sekitar Rp 190 triliun, menjadi nominal jatuh tempo bulanan terbesar yang pernah tercatat.

Besarnya dana yang kembali ke investor berpotensi menciptakan permintaan baru di pasar obligasi melalui aksi reinvestasi. Kondisi ini dapat menjadi katalis bagi penurunan yield SBN, meski ruang penurunan tetap bergantung pada arah suku bunga global dan domestik.

Chief Economist dan Head of Fixed Income Research BRI Danareksa Sekuritas Helmy Kristanto mengatakan, secara historis, jatuh tempo SBN dalam jumlah besar cenderung memberikan tekanan turun terhadap yield, terutama ketika kondisi suku bunga mendukung.

Baca Juga: Inflasi AS Melandai, Arah Suku Bunga Global Bayangi Prospek SBN

Data BRI Danareksa Sekuritas, dari 10 periode dengan jatuh tempo SBN terbesar sejak 2020, lima periode dengan nilai jatuh tempo terbesar diikuti penurunan yield rata-rata 3 basis poin pada bulan berikutnya. Sebaliknya, periode dengan jatuh tempo lebih kecil justru mencatat kenaikan yield rata-rata 4 basis poin.

Dampaknya bahkan lebih kuat dalam sejumlah periode terakhir. Pada Juni 2025, ketika SBN senilai Rp 178 triliun jatuh tempo, yield INDOGB turun 18 basis poin setelah bulan jatuh tempo. Pada Mei 2023, jatuh tempo Rp153 triliun diikuti penurunan yield 12 basis poin. Sementara pada Juli 2021, jatuh tempo Rp 128 triliun diikuti penurunan yield 14 basis poin.

Menurut Helmy, efek jatuh tempo besar terhadap yield tidak berdiri sendiri. "Dampaknya jauh lebih kuat ketika kondisi suku bunga secara umum mendukung," ujar Helmy dalam riset 10 Agustus 2026.

Dalam tujuh episode jatuh tempo besar sejak 2020, yield INDOGB tercatat turun seluruhnya ketika yield US Treasury 10 tahun dan BI Rate berada dalam posisi stabil atau lebih rendah dalam tiga bulan sebelumnya. Rata-rata yield turun 23 basis poin dari satu bulan sebelum hingga satu bulan setelah jatuh tempo.

Dengan demikian, jatuh tempo SBN Rp 190 triliun pada September berpotensi menjadi penopang penurunan yield. Namun, arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed) masih menjadi risiko utama bagi pasar obligasi domestik.

September sebelumnya sempat dipandang sebagai momentum potensial perubahan arah kebijakan The Fed. Namun, ekspektasi pasar kembali bergeser setelah data nonfarm payrolls AS menunjukkan penurunan 23.000 pekerjaan.

Baca Juga: Inflasi AS Melandai, SBN Rupiah Berpotensi Kembali Diminati Investor

Pergerakan suku bunga The Fed penting bagi SBN karena Bank Indonesia (BI) secara historis turut merespons pengetatan kebijakan The Fed melalui kenaikan BI Rate, baik secara langsung maupun pada periode berikutnya.

Di tengah prospek positif dari jatuh tempo SBN, kondisi likuiditas domestik justru menunjukkan tanda-tanda pengetatan. BRI Danareksa Sekuritas mencatat, pelonggaran likuiditas yang terlihat pada akhir 2025 terus berkurang memasuki paruh kedua 2026. Salah satu penyebabnya adalah pertumbuhan kredit yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).

Sepanjang semester I-2026, total kredit perbankan meningkat Rp 468 triliun. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan kenaikan DPK yang hanya Rp 249,6 triliun.

Pertumbuhan kredit pun meningkat dari 9,3% secara tahunan pada Desember 2025 menjadi 12,1% pada Juni 2026. Sebaliknya, pertumbuhan DPK melambat dari 10,9% menjadi 8,1%.

Kondisi tersebut membuat ruang likuiditas perbankan semakin menyempit. Excess liquidity perbankan turun dari rata-rata Rp 348,6 triliun pada Desember 2025 menjadi Rp243,9 triliun pada April dan kembali turun menjadi Rp206,3 triliun pada Juni 2026.

Tekanan likuiditas juga tercermin dari pergerakan suku bunga pasar uang. Spread rata-rata IndONIA terhadap BI Rate yang masih negatif 62 basis poin pada Desember 2025 dan sekitar 64 basis poin pada Maret 2026 berbalik menjadi positif 13 basis poin pada Juni dan 37 basis poin pada Juli.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×