Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
Peluang mencetak rekor tertinggi baru pada 2027 pun akan semakin terbuka apabila MSCI memutuskan mencabut pembekuan atas penambahan saham Indonesia ke dalam indeksnya dan kembali menegaskan posisi Indonesia dalam kategori emerging market.
"Selain aksi ekspansi emiten, rights issue, dan masuknya dana asing, salah satu sentimen utama yang kami perhatikan adalah pengumuman MSCI pada November 2026," tambah Henry.
Dalam skenarionya, MSCI berpotensi mulai membuka kembali atau unfreeze penambahan saham Indonesia ke dalam indeks pada kuartal I-2027, atau sekitar satu tahun sejak proses pembekuan tersebut dimulai pada awal 2026.
Henry juga menyoroti adanya perkembangan reformasi yang cukup positif dari regulator pasar modal Indonesia, terutama dalam upaya meningkatkan transparansi data, kualitas pasar, serta memperkuat pengawasan terhadap praktik manipulasi pasar.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Rebound Terbatas pada Senin (14/9), Investor Cermati FOMC
Dus, probabilitas munculnya narasi yang lebih konstruktif dari MSCI dalam pengumuman November 2026 mulai meningkat.
Salah satu perubahan regulasi yang juga perlu diperhatikan dalam waktu dekat ialah rencana penghapusan batas harga minimum Rp 50 per saham di Bursa Efek Indonesia.
Kebijakan tersebut berpotensi membantu meningkatkan efisiensi pembentukan harga dan likuiditas perdagangan, terutama pada saham-saham berkapitalisasi pasar besar seperti GOTO yang telah cukup lama diperdagangkan di sekitar batas harga tersebut.
Disisi lain, penguatan rupiah belakangan ini juga menjadi katalis positif bagi pasar karena dapat membantu memperbaiki persepsi risiko terhadap aset Indonesia.
Di saat yang sama, komitmen pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal akan menjadi faktor penting untuk mempertahankan kepercayaan investor dan keberlanjutan momentum pasar.
"Secara keseluruhan, kami melihat arah pasar masih cukup konstruktif. Namun, keberlanjutan penguatan IHSG akan sangat bergantung pada kombinasi antara stabilitas makroekonomi domestik, penguatan rupiah, konsistensi kebijakan fiskal, arus dana asing, serta perkembangan reformasi struktur pasar modal Indonesia," tutup Henry.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














