kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.177   4,80   0,08%
  • KOMPAS100 808   -9,54   -1,17%
  • LQ45 609   -7,52   -1,22%
  • ISSI 213   1,66   0,79%
  • IDX30 345   -4,23   -1,21%
  • IDXHIDIV20 421   -5,17   -1,21%
  • IDX80 92   -1,32   -1,42%
  • IDXV30 113   -1,72   -1,50%
  • IDXQ30 110   -1,54   -1,38%

IHSG Berbalik Menguat 0,08% di Akhir Perdagangan Jumat (19/6), MSCI Masih Menghantui


Jumat, 19 Juni 2026 / 16:16 WIB
Diperbarui Jumat, 19 Juni 2026 / 16:18 WIB
IHSG Berbalik Menguat 0,08% di Akhir Perdagangan Jumat (19/6), MSCI Masih Menghantui
ILUSTRASI. IHSG Bertahan Di Zona Hijau (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan di zona hijau pada Jumat (19/6/2026), meski sepanjang hari dibayangi sentimen negatif dari hasil tinjauan aksesibilitas pasar oleh MSCI dan pelemahan mayoritas bursa regional Asia.

Mengutip data RTI, IHSG menguat tipis 0,08% atau 4,799 poin ke level 6.177,139. Sebanyak 332 saham naik, 342 saham turun, dan 141 saham stagnan.

Baca Juga: Merdeka Copper Gold (MDKA) Usulkan Tiga Nama Baru Masuk Direksi pada RUPST 2026

Total volume perdagangan mencapai 31,5 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 25,4 triliun.

Penguatan IHSG ditopang oleh tujuh indeks sektoral. Tiga sektor dengan kenaikan tertinggi adalah IDX Infrastructure yang naik 1,61%, IDX Healthcare sebesar 1,52%, dan IDX Consumer Non-Cyclicals sebesar 1,09%.

Baca Juga: MSCI Pertahankan Status Emerging Market Indonesia, Mengapa Rupiah Masih Tertekan?

Saham top gainers LQ45:

  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 3,70% ke Rp 6.300
  • PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) naik 2,4%% ke Rp 2.930
  • PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) naik 2,40% ke Rp 1.705

Saham top losers LQ45:

  • PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) turun 7,19% ke Rp 2.580
  • PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) turun 6,53% ke Rp 372
  • PT ALamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) turun 5,31% ke Rp 1.515

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.804 Per Dolar AS Hari Ini (19/6), Asia Terpuruk

 

Meski mampu ditutup menguat, pasar keuangan Indonesia sepanjang hari berada di bawah tekanan setelah MSCI kembali menyoroti aspek investabilitas pasar modal domestik.

Dalam tinjauan tahunan aksesibilitas pasar, MSCI menurunkan penilaian kriteria aliran informasi (information flow) Indonesia menjadi "negatif".

Penyedia indeks global tersebut menyoroti terbatasnya transparansi kepemilikan saham dan indikasi adanya perilaku perdagangan yang terkoordinasi (coordinated trading behaviour) pada sejumlah emiten di Indonesia.

Penilaian tersebut menambah kekhawatiran investor terhadap kualitas tata kelola dan struktur pasar modal Indonesia.

Sepanjang tahun 2026, investor asing tercatat telah melakukan jual bersih (net sell) sekitar US$ 3,65 miliar di pasar saham domestik.

Tim analis Citi menilai catatan negatif MSCI lebih banyak berkaitan dengan aspek tata kelola dan kualitas organisasi pasar, bukan faktor struktural utama yang menjadi dasar klasifikasi pasar suatu negara.

Baca Juga: Rupiah Melemah Usai Kenaikan BI-Rate dan Pengumuman MSCI

"Kelemahan ini terkonsentrasi pada tata kelola dan kualitas organisasi pasar, bukan pada pilar struktural yang menentukan klasifikasi indeks," tulis analis Citi dalam risetnya.

Menurut Citi, penurunan penilaian pada aspek aliran informasi mencerminkan kekhawatiran investor global terhadap transparansi kepemilikan saham, kualitas saham beredar di publik (free float), serta integritas proses pembentukan harga (price discovery) pada sejumlah emiten di Indonesia.

Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada hasil Market Classification Review MSCI yang akan diumumkan pekan depan. Mayoritas pelaku pasar masih memperkirakan Indonesia akan mempertahankan status sebagai Emerging Market.

Namun, risiko penurunan status menjadi Frontier Market tetap menjadi perhatian karena berpotensi memicu arus keluar dana asing yang lebih besar.

Senior Financial Market Strategist Exness, Inki Cho, mengingatkan bahwa potensi tekanan tambahan dari MSCI muncul di tengah tantangan fiskal yang sedang dihadapi pemerintah.

Menurutnya, apabila terjadi penurunan status pasar yang memicu gelombang keluar dana asing, ruang pemerintah untuk membiayai program belanja akan semakin sempit dan berpotensi meningkatkan kekhawatiran lembaga pemeringkat kredit terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Terkoreksi Usai Kapal Kembali Melintas di Selat Hormuz

Bursa Asia Melemah

Sentimen kehati-hatian juga terlihat di pasar regional. Indeks MSCI Emerging Markets Asia turun hampir 1% setelah sebelumnya mencatatkan rekor tertinggi.

Di Korea Selatan, indeks KOSPI ditutup turun tipis 0,1% setelah reli sekitar 17% dalam enam sesi perdagangan terakhir yang ditopang saham-saham semikonduktor. Aksi ambil untung membuat indeks bergerak sangat fluktuatif sepanjang perdagangan.

Indeks Straits Times Singapura melemah 0,8% setelah sehari sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Sementara itu, bursa Filipina turun 0,3% dan peso melemah ke level 60,779 per dolar AS setelah bank sentral negara tersebut kembali menaikkan suku bunga acuan.

Di Malaysia, indeks saham turun 0,6%, sementara ringgit menyentuh level terlemah dalam tujuh bulan terakhir terhadap dolar AS. Adapun bursa Thailand melemah 0,7% seiring depresiasi baht ke level terendah dalam sepekan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×