kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   6.000   0,23%
  • USD/IDR 17.931   18,00   0,10%
  • IDX 6.106   69,20   1,15%
  • KOMPAS100 787   10,38   1,34%
  • LQ45 602   6,87   1,15%
  • ISSI 212   2,43   1,16%
  • IDX30 335   4,43   1,34%
  • IDXHIDIV20 428   5,03   1,19%
  • IDX80 90   1,13   1,27%
  • IDXV30 116   1,25   1,09%
  • IDXQ30 109   1,29   1,20%

Harga minyak terangkat pelemahan dollar AS


Selasa, 13 Februari 2018 / 07:30 WIB


Reporter: Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rontok di akhir pekan lalu, harga minyak naik pelan-pelan pada pekan ini. Selasa (13/2) pukul 7.16 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret 2018 di New York Mercantile Exchange menguat 0,34% ke US$ 59,49 per barel daripada penutupan kemarin pada US$ 59,29 per barel.

Jumat pekan lalu, harga minyak anjlok 3,19% ke US$ 59,20 per barel dari hari sebelumnya US$ 61,15 per barel. Penurunan harga ini terjadi setelah rilis data Energy Information Administration (EIA) yang menyebut produksi minyak Amerika Serikat (AS) tembus rekor 10,25 juta barel per hari pada pekan sebelumnya.

Tingkat produksi minyak AS ini telah melampaui Arab Saudi, yang merupakan produsen minyak terbesar OPEC. Kekhawatiran pasokan berlebih kembali menekan harga minyak.

Kenaikan harga minyak dalam dua hari ini ditopang oleh pelemahan nilai tukar dollar AS. Dollar yang melemah akan menyebabkan harga minyak yang diperdagangkan dalam dollar jadi lebih murah bagi pengguna mata uang lain.

"Jika pertumbuhan global melambat dan permintaan minyak mulai melambat, maka pertumbuhan produksi minyak AS akan menjadi masalah, karena pangsa pasar minyak OPEC akan mengecil dan upaya OPEC sia-sia," kata Bjarne Schieldrop kepada Reuters.

OPEC berupaya mengurangi pasokan lewat kesepakatan pembatasan produksi. Kesepakatan akan berjalan hingga akhir tahun ini.

Data Baker Hughes menunjukkan, ada penambahan 26 rig yang beroperasi pada pekan lalu. Total rig yang beroperasi di AS mencapai 791, tertinggi sejak April 2015. "Investor khawatir akan produksi minyak AS dan kepatuhan para produsen minyak," ungkap Goldman Sachs dalam catatan yang dikutip CNBC.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×