Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak dunia melonjak sekitar 2% ke level tertinggi dalam satu bulan pada perdagangan Selasa (14/7/2026), setelah Amerika Serikat (AS) kembali memberlakukan blokade laut terhadap Iran.
Langkah tersebut diperkirakan akan mengurangi pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.
Sebelum konflik Iran pecah, sekitar 20% pasokan minyak global dikirim melalui Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak sempat tertahan oleh kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi akan mendorong inflasi, memperlambat pertumbuhan ekonomi global, dan pada akhirnya menekan permintaan minyak.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Bertahan di Level Tinggi Selasa (2/6) Pagi, Brent ke US$ 95,04
Kontrak berjangka minyak Brent naik US$ 1,43 atau 1,7% menjadi US$ 84,73 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$ 1,20 atau 1,5% ke US$ 79,34 per barel.
Untuk hari kedua berturut-turut, Brent ditutup di level tertinggi sejak 12 Juni, sedangkan WTI mencapai posisi tertinggi sejak 15 Juni.
Kenaikan tersebut juga membuat Brent berada di wilayah overbought secara teknikal selama dua hari beruntun, pertama kalinya sejak Maret.
Analis Ritterbusch and Associates menilai kembali meningkatnya serangan antara ASt dan Iran akan terus menopang harga minyak.
Menurut mereka, eskalasi konflik diperkirakan berlanjut setelah AS kembali melancarkan serangan udara dan memberlakukan kembali blokade di Selat Hormuz.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana pengenaan biaya sebesar 20% untuk pengamanan pelayaran di Selat Hormuz. Sebagai gantinya, ia menyatakan akan mengupayakan kerja sama investasi dengan negara-negara Teluk.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok Hampir 7% di Tengah Harapan Damai AS-Iran
Sebelumnya, pasukan AS melancarkan serangan selama tiga malam berturut-turut setelah Teheran mengumumkan penutupan Selat Hormuz.
Trump pada Senin mengumumkan kembali blokade terhadap pelayaran Iran dan sempat mengusulkan penerapan biaya pengamanan tersebut.
Namun, beberapa jam sebelum kebijakan itu berlaku, Trump menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka bagi seluruh kapal, kecuali kapal milik Iran. Pernyataan itu sempat membuat harga minyak mentah AS bergerak ke zona negatif pada perdagangan pagi.
Harga kemudian kembali menguat setelah muncul laporan bahwa satu awak kapal asal India tewas dan delapan lainnya terluka akibat rudal jelajah Iran yang menghantam dua kapal tanker minyak milik Uni Emirat Arab.
Rangkaian serangan tersebut kembali memunculkan keraguan bahwa nota kesepahaman yang ditandatangani bulan lalu mampu menghasilkan penghentian perang secara permanen.
Konflik yang berlanjut dinilai masih mengganggu pasokan energi global sekaligus memicu kekhawatiran terhadap inflasi.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Kamis (16/4), Dibayangi Skeptisisme Negosiasi AS-Iran
Pada awal Juli, ketika gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran dinilai masih bertahan, harga Brent dan WTI sempat kembali ke kisaran sebelum Amerika Serikat dan Israel memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Inflasi dan Pasokan Diesel
Data terbaru menunjukkan inflasi konsumen AS pada Juni melambat lebih besar dari perkiraan seiring turunnya harga energi. Meski demikian, pelaku pasar keuangan masih memperkirakan Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga.
Ketua The Fed Kevin Warsh pada Selasa menegaskan akan tetap menjalankan tugasnya apabila menghadapi tekanan dari Presiden Trump, yang sebelumnya menyatakan menginginkan bank sentral menurunkan suku bunga guna mendorong pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, militer Ukraina mengklaim telah menyerang dua kilang minyak Rusia di wilayah Bashkortostan dan Krasnodar. Serangan terhadap infrastruktur energi Rusia tersebut memaksa Moskow mengurangi ekspor diesel sehingga mendorong kenaikan harga diesel di pasar global.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Hampir 2% Rabu (8/7) Pagi, Brent ke US$ 75,54
Di Amerika Serikat, harga kontrak berjangka diesel telah naik sekitar 21% sepanjang Juli, lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga minyak mentah AS yang sekitar 14%.
Kondisi tersebut mendorong margin keuntungan pengolahan minyak, termasuk indikator 3-2-1 crack spread dan diesel crack spread, ke level tertinggi sepanjang sejarah berdasarkan data LSEG.
Data Persediaan Minyak AS
Pelaku pasar kini menunggu laporan mingguan cadangan minyak dari American Petroleum Institute (API) yang dijadwalkan terbit pada Selasa, serta laporan resmi dari Energy Information Administration (EIA) pada Rabu.
Analis memperkirakan perusahaan energi di Amerika Serikat menarik sekitar 2,7 juta barel minyak mentah dari cadangan selama pekan yang berakhir pada 10 Juli.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik 1% Jumat (8/5) Pagi, AS dan Iran Kembali Saling Serang
Jika perkiraan tersebut terbukti benar, maka itu akan menjadi kali ke-13 dalam 14 pekan terakhir persediaan minyak mentah Amerika Serikat mengalami penurunan.
Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu persediaan minyak turun 3,9 juta barel, sedangkan rata-rata penurunan dalam lima tahun terakhir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














