kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.803.000   30.000   1,08%
  • USD/IDR 17.757   18,00   0,10%
  • IDX 6.206   44,30   0,72%
  • KOMPAS100 820   7,74   0,95%
  • LQ45 631   10,77   1,74%
  • ISSI 218   -0,22   -0,10%
  • IDX30 360   5,73   1,62%
  • IDXHIDIV20 447   9,71   2,22%
  • IDX80 95   0,97   1,04%
  • IDXV30 123   1,72   1,42%
  • IDXQ30 117   2,17   1,90%

Harga Minyak Dunia Anjlok Hampir 7% di Tengah Harapan Damai AS-Iran


Selasa, 26 Mei 2026 / 05:44 WIB
Harga Minyak Dunia Anjlok Hampir 7% di Tengah Harapan Damai AS-Iran
ILUSTRASI. Harga Minyak - BBM (REUTERS/Sahiba Chawdhary)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak dunia anjlok hampir 7% pada perdagangan Senin (25/5/2026) seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. 

Pasar menilai kesepakatan itu berpotensi membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak global yang selama tiga bulan terakhir terganggu akibat konflik di Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent turun US$ 7,24 atau hampir 7% ke level US $96,30 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$ 6,30 atau 6,5% menjadi US$ 90,88 per barel.

Penurunan tajam harga minyak terjadi setelah negosiator utama Iran dan Menteri Luar Negeri Iran melakukan pembicaraan di Doha, Qatar, terkait kemungkinan kesepakatan dengan AS untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir.

Baca Juga: Minyak Dunia Jatuh Hampir 5%, Kesepakatan Damai AS-Iran Bikin Pasar Lega

Kedua pihak disebut telah membuat kemajuan dalam penyusunan nota kesepahaman yang dapat menghentikan konflik dan memberi waktu 60 hari bagi negosiator untuk mencapai kesepakatan final.

Analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, mengatakan pasar mulai melihat peluang kembalinya pasokan minyak dari kawasan Teluk. "Meski belum final, pasar mulai berharap distribusi minyak melalui Selat Hormuz bisa kembali berjalan," ujarnya.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan di wilayah itu selama beberapa bulan terakhir sempat memicu lonjakan harga energi global akibat kekhawatiran pasokan.

Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan pasar agar tidak terlalu cepat bereuforia. Pendiri Commodity Context, Rory Johnston, menilai negosiasi AS-Iran sebelumnya juga beberapa kali hampir mencapai titik temu sebelum akhirnya gagal di tahap akhir.

"Kami sudah beberapa kali melihat negosiasi mendekati kesepakatan lalu runtuh di detail terakhir, sementara Selat Hormuz tetap tertutup," kata Johnston.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Menguat di Tengah Kembali Memanasnya Konflik AS–Iran

Presiden AS Donald Trump melalui unggahan di Truth Social menyebut pembicaraan dengan Iran berjalan baik. Namun, ia juga memperingatkan kemungkinan serangan baru jika negosiasi gagal tercapai.

Trump juga mendorong lebih banyak negara Arab dan mayoritas Muslim bergabung dalam Abraham Accords, kesepakatan normalisasi hubungan dengan Israel yang dimediasi AS pada masa jabatan pertamanya.

Menurut Flynn, jika kesepakatan damai benar-benar tercapai dan ketegangan geopolitik mereda, premi risiko di pasar minyak Timur Tengah dapat turun signifikan.

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan pembahasan saat ini fokus pada penghentian perang dan belum menyentuh isu nuklir.

Meski prospek perdamaian mulai terlihat, analis memperkirakan pemulihan pasokan minyak global tidak akan berlangsung cepat. Infrastruktur energi di kawasan dinilai masih membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali normal.

Analis Sparta Commodities, June Goh, mengatakan defisit pasokan minyak global sekitar 10 juta hingga 11 juta barel per hari belum akan langsung hilang meski kesepakatan damai tercapai.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok 2% di Tengah Kabar Iran Tinjau Proposal Damai AS

"Pasar masih akan mengandalkan cadangan minyak hingga produksi Timur Tengah benar-benar pulih, dan itu bisa memakan waktu berbulan-bulan," ujarnya.

Senada, analis UBS Giovanni Staunovo menilai pasar tetap harus fokus pada kondisi arus fisik minyak di lapangan karena distribusi melalui Selat Hormuz sejauh ini masih terbatas.

Data pelacakan kapal menunjukkan sejumlah kapal tanker gas alam cair mulai melintasi Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir menuju Pakistan, China, dan India. Selain itu, sebuah supertanker pengangkut minyak mentah Irak tujuan China juga dilaporkan berhasil keluar setelah tertahan hampir tiga bulan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×