kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.729.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.734   15,00   0,08%
  • IDX 6.255   247,31   4,12%
  • KOMPAS100 831   37,01   4,66%
  • LQ45 625   27,23   4,56%
  • ISSI 213   7,03   3,41%
  • IDX30 354   15,20   4,48%
  • IDXHIDIV20 435   17,42   4,17%
  • IDX80 94   4,30   4,80%
  • IDXV30 116   2,90   2,56%
  • IDXQ30 114   4,59   4,21%

Harga Minyak Anjlok 5%, Pasar Optimistis Selat Hormuz Segera Dibuka


Rabu, 17 Juni 2026 / 05:29 WIB
Harga Minyak Anjlok 5%, Pasar Optimistis Selat Hormuz Segera Dibuka
ILUSTRASI. Minyak Dunia (REUTERS/Eli Hartman)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak dunia kembali tertekan tajam dan menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir setelah muncul harapan tercapainya kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah serta membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

Pada perdagangan Selasa (16/6/2026), minyak mentah Brent ditutup turun US$ 4,21 atau 5,1% ke level US$ 78,96 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat merosot US$ 4,70 atau 5,8% menjadi US$76,05 per barel. Penurunan ini memperpanjang pelemahan sehari sebelumnya dan membawa harga ke posisi terendah sejak awal Maret.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok Senin (25/5) Pagi, Dipicu Kabar Kesepakatan AS-Iran Makin Dekat

Sentimen pasar membaik setelah rincian kesepakatan sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai terungkap.

Kesepakatan tersebut disebut akan memperpanjang gencatan senjata yang diumumkan pada April selama 60 hari serta membuka kembali Selat Hormuz yang selama konflik menjadi titik hambatan utama distribusi energi global.

Selain itu, seorang pejabat AS menyebut kesepakatan tersebut juga memungkinkan Iran kembali menjual minyak setelah penandatanganan dilakukan.

Prospek bertambahnya pasokan dari Iran membuat pelaku pasar memperkirakan risiko gangguan suplai global akan berkurang secara signifikan.

“Pasar minyak turun cepat karena asumsi Selat Hormuz akan segera dibuka kembali,” kata Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok pada Senin (15/6) Pagi, Dipicu Kabar Kesepakatan Damai AS-Iran

Sebelum konflik pecah, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Karena itu, setiap perkembangan yang mengarah pada normalisasi jalur tersebut langsung memengaruhi ekspektasi pasokan dan harga energi global.

Meski demikian, sejumlah analis menilai optimisme pasar masih terlalu dini. Mereka mengingatkan pemulihan aktivitas pelayaran dan ekspor energi kemungkinan membutuhkan waktu beberapa pekan.

Selain itu, sejumlah isu penting seperti kompensasi finansial, sanksi ekonomi, dan penyelesaian program nuklir Iran masih menjadi tantangan dalam proses negosiasi.

Meredanya kekhawatiran geopolitik juga mendorong sejumlah bank investasi global, termasuk Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan Citi, memangkas proyeksi harga minyak mereka.

Dari sisi fundamental, harga minyak turut tertekan oleh kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi China.

Aktivitas pengolahan minyak mentah negara tersebut pada Mei tercatat turun 9,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan menjadi yang terendah dalam hampir empat tahun terakhir.

Sentimen negatif juga datang dari prospek suku bunga global yang tetap tinggi. Di Amerika Serikat, mayoritas pelaku pasar kini memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga sepanjang 2026.

Baca Juga: Harga Minyak Naik, Pengiriman Via Selat Hormuz Tersendat Meski Ada Negosiasi AS-Iran

Sementara itu, Bank of Japan baru saja menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun.

Suku bunga yang tinggi berpotensi menekan aktivitas ekonomi dan konsumsi energi, sehingga mengurangi permintaan minyak dunia.

Di sisi lain, pasar juga mencermati peluang tercapainya perdamaian antara Rusia dan Ukraina.

Jika konflik tersebut mereda dan sebagian sanksi terhadap Rusia dicabut, pasokan minyak dari salah satu produsen terbesar dunia itu berpotensi meningkat dan menambah tekanan terhadap harga.

Sementara itu, pelaku pasar menunggu data persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Analis memperkirakan stok minyak AS turun sekitar 4,6 juta barel pada pekan yang berakhir 12 Juni.

Baca Juga: Harga Minyak Ditutup Melonjak 6%: Selat Hormuz Kembali Membara

Jika terealisasi, penurunan tersebut akan menjadi pengurangan persediaan selama delapan pekan berturut-turut, yang dapat memberikan sedikit penopang bagi harga minyak dalam jangka pendek.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×