kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.603.000   -20.000   -0,76%
  • USD/IDR 18.032   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.236   49,76   0,80%
  • KOMPAS100 817   5,56   0,69%
  • LQ45 621   2,39   0,39%
  • ISSI 215   1,38   0,65%
  • IDX30 350   1,18   0,34%
  • IDXHIDIV20 430   0,35   0,08%
  • IDX80 93   0,50   0,54%
  • IDXV30 118   0,33   0,28%
  • IDXQ30 112   0,18   0,16%

Rupiah Melemah Sepekan, Pasar Waspadai Konflik Timur Tengah dan Suksesi BI


Minggu, 02 Agustus 2026 / 05:30 WIB
Rupiah Melemah Sepekan, Pasar Waspadai Konflik Timur Tengah dan Suksesi BI
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatat pelemahan dalam sepekan terakhir di tengah meningkatnya ketidakpastian global. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatat pelemahan dalam sepekan terakhir di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Meski mampu menguat pada perdagangan harian terakhir, tekanan terhadap mata uang Garuda masih dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik, mulai dari memanasnya konflik di Timur Tengah hingga dinamika kepemimpinan Bank Indonesia (BI).

Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,49% secara harian ke level Rp 18.022 per dolar AS pada Jumat (31/7/2026). Namun secara mingguan, rupiah masih melemah 0,32% dibandingkan posisi Rp 17.963 per dolar AS pada Jumat (24/7/2026).

Sementara itu, berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah menguat 0,11% secara harian ke level Rp 18.058 per dolar AS. Kendati demikian, secara sepekan rupiah melemah 0,47% dari posisi Rp 17.973 per dolar AS pada Jumat (24/7/2026).

Analis Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah dalam sepekan terakhir dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik yang masih membayangi sentimen pasar.

Baca Juga: Laba INDF Susut 19% Jadi Rp 4,72 Triliun di Semester I, Ini Penjelasan Manajemen

Para pelaku pasar, menurutnya, terus memantau perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah setelah Iran meluncurkan sejumlah rudal balistik yang menyasar pasukan AS di kawasan tersebut.

Ketegangan geopolitik tekan rupiah

Ibrahim menjelaskan, meskipun serangan tersebut berhasil digagalkan oleh militer AS, insiden itu kembali meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas kawasan.

“Meskipun Komando Pusat AS menyatakan bahwa seluruh rudal berhasil dicegat, serangan ini menandai eskalasi baru setelah beberapa hari situasi relatif tenang, sekaligus memperkuat kekhawatiran bahwa jeda diplomatik yang sempat terjadi bisa segera buyar,” ujar Ibrahim, Jumat (31/7/2026).

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga merespons hasil rapat Federal Reserve (The Fed). Bank sentral AS memutuskan mempertahankan suku bunga dana federal pada kisaran 3,50%–3,75%.

Meski demikian, keputusan tersebut diwarnai perbedaan pandangan di internal Federal Open Market Committee (FOMC). Dari total anggota yang memberikan suara, sembilan mendukung mempertahankan suku bunga, sementara tiga anggota menginginkan kenaikan sebesar 25 basis poin.

Ketiga anggota yang berbeda pendapat tersebut adalah Beth Hammack dari Cleveland Fed, Neel Kashkari dari Minneapolis Fed, dan Lorie Logan dari Dallas Fed, yang menilai kenaikan suku bunga masih diperlukan untuk meredam tekanan inflasi.

Baca Juga: Saham-Saham yang Banyak Dijual Asing dalam Sebulan, Ada ASII, BBRI & BMRI

Sementara itu, Ketua The Fed Kevin Warsh menyatakan kondisi pasar yang lebih ketat telah membantu upaya pengendalian inflasi. Ia juga menegaskan bahwa bank sentral siap mengambil langkah lanjutan apabila tekanan inflasi kembali meningkat.

Fokus pasar tertuju pada Bank Indonesia

Dari dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada dinamika kepemimpinan Bank Indonesia menyusul pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI.

Di tengah transisi tersebut, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas ekonomi sebagai fondasi pertumbuhan yang berkelanjutan. BI juga terus memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah guna mendukung pencapaian sasaran inflasi sekaligus menjaga momentum aktivitas ekonomi.

“Pasar juga fokus terhadap ketidakpastian mengenai suksesi pimpinan bank sentral setelah Perry Warjito mengundurkan diri, tekanan fiskal daerah, dan hambatan ekspor mineral,” terang Ibrahim.

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan sepekan mendatang akan bergerak di kisaran Rp 17.920 hingga Rp 18.300 per dolar AS.

BI-Rate dan arus modal asing jadi perhatian

Senada, Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX, menilai pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan masih akan didominasi faktor eksternal, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia serta meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.

“Di sisi lain, komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi diharapkan dapat membantu meredam tekanan terhadap rupiah sehingga volatilitas tetap terkendali,” ujar Amru.

Baca Juga: IHSG Melesat 10,51% ke 6.236 di Juli 2026, Waktunya Profit Taking?

Menurutnya, dari sisi domestik, pelaku pasar akan mencermati konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar serta mengendalikan inflasi di tengah tingginya ketidakpastian global.

BI menegaskan fokus kebijakan tetap diarahkan pada stabilitas nilai tukar rupiah dengan mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. Selain itu, keberlanjutan arus masuk modal asing ke instrumen keuangan domestik juga akan menjadi faktor penting karena dapat memperkuat cadangan devisa dan menopang stabilitas rupiah.

Di sisi global, perhatian investor masih tertuju pada perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi memicu volatilitas harga minyak dunia. Pasar juga terus mencermati prospek suku bunga AS yang diperkirakan bertahan pada level tinggi lebih lama seiring masih tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS.

“Kombinasi faktor-faktor tersebut berpotensi memperkuat dolar AS, mendorong aliran dana ke aset berbasis dolar, dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” jelas Amru.

Amru memperkirakan nilai tukar rupiah dalam sepekan mendatang akan bergerak di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.150 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×