Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan pemerintah memangkas tarif bea masuk impor liquefied petroleum gas (LPG) atau gas petroleum cair jenis propana dan butana dari 5% menjadi 0% selama enam bulan dinilai dapat memberikan angin segar bagi industri petrokimia.
Insentif ini diperkirakan mampu menekan biaya impor bahan baku dan meningkatkan efisiensi produksi, meski dampaknya terhadap kinerja emiten sektor petrokimia diperkirakan masih terbatas.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan, pemangkasan tarif bea masuk tersebut secara langsung akan menurunkan biaya impor LPG yang digunakan sebagai bahan baku industri petrokimia.
“Pemangkasan bea masuk LPG mengurangi landed cost LPG impor secara langsung. Dalam kondisi harga nafta yang masih tinggi dan gangguan pasokan, LPG menjadi lebih ekonomis sebagai feedstock,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (31/7/2026).
Baca Juga: IHSG Melesat 10,51% ke 6.236 di Juli 2026, Waktunya Profit Taking?
Menurut Wafi, besarnya penghematan biaya yang diperoleh setiap perusahaan akan bergantung pada porsi penggunaan LPG sebagai bahan baku.
Ia memperkirakan kebijakan tersebut dapat berkontribusi terhadap penurunan biaya bahan baku sekitar 1% hingga 3%, tergantung pada tingkat pemanfaatan LPG oleh masing-masing emiten.
Meski demikian, Wafi menilai peningkatan margin keuntungan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan bea masuk tersebut.
“Dampak ke margin ada, tapi tidak sebagai standalone factor. Bisa berkontribusi sekitar 100 hingga 200 basis poin margin improvement untuk emiten yang bisa agresif beralih ke LPG,” jelasnya.
Ia menambahkan, tidak semua perusahaan petrokimia dapat memanfaatkan insentif tersebut secara optimal. Emiten yang belum memiliki fasilitas propane dehydrogenation (PDH) diperkirakan akan memperoleh manfaat yang lebih terbatas dibandingkan perusahaan yang telah memiliki infrastruktur tersebut.
Dari sisi sentimen pasar, kebijakan ini juga belum dipandang sebagai pendorong utama pergerakan saham sektor petrokimia.
“Masa berlaku enam bulan memang menjadi keterbatasan. Namun jika terbukti efektif, peluang perpanjangan cukup tinggi. Insentif ini lebih sebagai supporting factor daripada katalis utama,” katanya.
Baca Juga: ANTM Bukukan Pertumbuhan Operasional di Seluruh Segmen Tambang Semester I-2026
Menurut Wafi, pergerakan saham emiten petrokimia masih akan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti fluktuasi harga minyak dunia, pergerakan petrochemical spread, hingga sentimen pasar global.
Di antara emiten sektor petrokimia, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dinilai menjadi perusahaan yang paling berpotensi memperoleh manfaat dari kebijakan tersebut.
“TPIA paling diuntungkan karena memiliki skala terbesar, kapasitas PDH signifikan, serta integrasi vertikal yang memungkinkan efisiensi biaya bahan baku di seluruh rantai nilai,” ungkapnya.
Selain TPIA, induk usahanya, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), juga diperkirakan dapat merasakan dampak positif melalui peningkatan kinerja secara konsolidasian.
Untuk prospek investasi, Wafi merekomendasikan beli saham TPIA dengan target harga Rp3.200 per saham.
“Kombinasi kebijakan bea masuk LPG 0%, proyek waste-to-energy sebagai diversifikasi jangka panjang, serta perbaikan petrochemical spread menciptakan multiple catalyst yang belum sepenuhnya tercermin di harga saham,” jelasnya.
Meski prospeknya dinilai menarik, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko. Salah satunya adalah status TPIA yang masih masuk dalam kategori high shareholding concentration (HSC), yang berpotensi membatasi minat beli dari investor institusi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
