Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia berpeluang melanjutkan penguatan dalam jangka pendek setelah mendapat respons positif saat menguji area support penting.
Namun, pergerakan logam mulia masih dibayangi ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed.
Melansir Trading Economics pada Rabu (4/11/2026) pukul 10.45 WIB, harga emas di pasar spot bertengger di level US$ 3.939 per ons troi atau melemah 3% sepekan terakhir.
Baca Juga: Minat Lelang Sukuk Meningkat, Yield SUN Bergerak Bervariasi
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, secara teknikal pada grafik empat jam (H4), harga emas atau XAUUSD menunjukkan penolakan (rejection) yang cukup kuat ketika memasuki area support US$ 3.895-US$ 3.917.
"Respons tersebut mengindikasikan adanya minat beli yang cukup kuat di area tersebut, sehingga zona ini berpotensi menjadi pijakan bagi pergerakan harga selanjutnya," ujar Geraldo dalam risetnya, Rabu (4/10/2026).
Geraldo melihat, kondisi tersebut membuka peluang terbentuknya pola ABC Correction ke arah atas. Dalam skenario tersebut, XAUUSD berpeluang menguji level resistance terdekat di kisaran US$ 3.997-US$ 4.021 per ons troi.
Namun, apabila tekanan jual kembali meningkat hingga harga menembus zona support, skenario pemulihan tersebut perlu dievaluasi karena risiko pelemahan lanjutan dapat kembali muncul.
Dari sisi fundamental, pergerakan harga emas masih dipengaruhi oleh sentimen yang berlawanan. Salah satunya adalah penurunan harga minyak dunia yang berpotensi meredakan kekhawatiran pasar terhadap inflasi.
Baca Juga: Demokrat Kuasai DPR AS, Investor Waspadai Regulasi AI dan Risiko Fiskal
Kondisi tersebut dapat mengurangi tekanan bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama. Prospek suku bunga yang lebih rendah atau kebijakan moneter yang tidak terlalu ketat umumnya menjadi katalis positif bagi emas, mengingat logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga.
Di sisi lain, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS masih berpotensi membatasi ruang kenaikan harga emas. Kedua faktor tersebut meningkatkan biaya peluang bagi investor dalam memegang emas.
Pelaku pasar juga masih mencermati peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember. Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dapat menopang dolar AS sekaligus menekan daya tarik emas.
Baca Juga: Rupiah Spot Dibuka Menguat 0,25% ke Rp 18.115 per Dolar AS pada Rabu (4/11) Pagi
Dalam waktu dekat, investor juga akan mencermati hasil pemilu paruh waktu AS serta rilis data ketenagakerjaan Negeri Paman Sam. Kedua agenda tersebut berpotensi memberikan petunjuk tambahan mengenai kondisi perekonomian AS dan arah kebijakan moneter The Fed.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














