Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kendati tren pergerakan harga emas sempat mengalami kenaikan beberapa hari terakhir, tetapi pergerakan harga emas di pasar spot dalam jangka pendek masih volatil.
Di tengah sentimen fundamental yang cenderung mendukung emas akibat pelemahan dolar AS dan berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed), analisis teknikal justru menunjukkan adanya potensi koreksi dalam jangka pendek.
Melansir Trading Economics pada Selasa (18/8/2026) pukul 16.24 WIB, harga emas di pasar spot bertengger di kisaran US$ 4.394 per ons troi, atau melemah 0,48% secara harian tetapi masih mencatat penguatan 6% dalam tujuh hari terakhir.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menyebut harga emas berpeluang mengalami pelemahan setelah gagal mempertahankan momentum kenaikan di atas resistance penting pada level US$ 4.417 per ons troi.
Baca Juga: Saham Bayan (BYAN) Melesat 19,97% di Tengah Rumor Akuisisi Haji Isam, Ini Kata Analis
Katanya, harga sebelumnya berupaya menembus resistance kedua di US$ 4.417 tersebut, tetapi nyatanya tidak mampu mempertahankan posisi di atas level tersebut.
“Kondisi ini membentuk false break, yakni situasi ketika harga sempat menembus suatu level resistance tetapi kemudian kembali bergerak ke bawahnya,” ujar Geraldo, Selasa (18/8/2026).
False break menjadi sinyal yang perlu diperhatikan karena menunjukkan bahwa tekanan beli belum cukup kuat untuk membawa harga memasuki area yang lebih tinggi. Kegagalan tersebut juga berpotensi mendorong sebagian trader melakukan aksi ambil untung setelah harga mengalami penguatan sebelumnya.
Menurut analisanya, apabila tekanan jual terus meningkat, emas berpeluang bergerak menuju area support terdekat di US$ 4.348 per ons troi.
“Apabila harga mampu bertahan di sekitar support tersebut dan muncul kembali momentum pembelian, peluang terjadinya rebound teknikal tetap terbuka. Sebaliknya, apabila tekanan jual semakin kuat dan support tersebut ditembus, pelaku pasar perlu mengantisipasi potensi pelemahan lebih lanjut,” jelasnya.
Meski demikian, kondisi fundamental saat ini masih memberikan dukungan terhadap prospek emas. Salah satu faktor utama berasal dari pelemahan dolar AS yang membuat emas menjadi relatif lebih menarik bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar.
Data ekonomi Amerika Serikat yang lebih lemah juga telah mendorong pasar untuk mengurangi ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed.
Baca Juga: IHSG Ditutup Menguat 0,75% Hari Ini (18/8), Top Gainers LQ45: WIFI, INDY, EXCL
Ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan. Ketika peluang kenaikan suku bunga semakin berkurang, daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas cenderung meningkat.
Selain kebijakan moneter, ketidakpastian geopolitik kembali menjadi katalis penting bagi pergerakan emas. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta ketidakpastian mengenai kondisi Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dan pasokan energi global.
“Meski demikian, pelemahan dolar AS, berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, serta meningkatnya permintaan safe haven akibat ketidakpastian AS-Iran dan Selat Hormuz masih menjadi faktor yang dapat membatasi tekanan jual,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
