Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak dunia melemah sekitar 1% pada perdagangan Selasa (3/11/2026), mendekati level terendah dalam empat pekan terakhir.
Pelemahan ini dipicu harapan pasar terhadap upaya perdamaian dalam konflik Rusia-Ukraina serta Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi meredakan gangguan pasokan minyak global.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman turun US$ 1,17 atau 1% menjadi US$ 103,60 per barel. Posisi ini merupakan penutupan terendah sejak 7 Oktober 2026.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun US$ 0,37 menjadi US$ 96,09 per barel. Harga tersebut merupakan level terendah sejak 14 Oktober 2026.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Hampir US$ 2, Brent Masih di Atas US$ 113
Sentimen perdamaian menguat setelah Rusia mengonfirmasi rencana perundingan tiga pihak dengan Ukraina dan Amerika Serikat di Abu Dhabi pada 10–11 November 2026.
Kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung sejak invasi Rusia pada 2022 berpotensi membuka kembali ruang ekspor minyak Rusia ke pasar global.
Di sisi lain, upaya diplomasi untuk meredakan konflik Amerika Serikat dan Iran juga terus berjalan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan Washington dan Teheran masih berkomitmen pada proses mediasi serta tengah meninjau sejumlah proposal untuk mempersempit perbedaan kedua negara.
Meski demikian, risiko gangguan pasokan belum sepenuhnya mereda. Seorang pejabat senior Iran menyebut kedua negara masih jauh dari kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Dua Hari Beruntun Rabu (6/5) Pagi, Brent ke US$108,35
Amerika Serikat juga baru saja melancarkan serangan ke Pulau Qeshm, Iran, yang menargetkan sistem rudal pertahanan udara.
"Meski ada sinyal positif, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa risiko eskalasi telah berlalu," tulis ING dalam catatannya.
ING menilai, kemajuan nyata dalam perundingan damai dapat memberikan tekanan lebih lanjut terhadap harga minyak dunia.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah juga masih menjadi perhatian pasar karena blokade efektif di Selat Hormuz telah mengubah jalur distribusi energi dan prioritas investasi infrastruktur di kawasan tersebut.
Selat ini sebelumnya menjadi jalur bagi sekitar 20% pasokan minyak global.
Perusahaan minyak nasional Arab Saudi, Saudi Aramco, bahkan tengah berupaya memperluas kapasitas jaringan pipa minyak yang dapat menghindari Selat Hormuz.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Sentuh Level Tertinggi Dua Pekan Usai Serangan Drone di UEA
Langkah tersebut disampaikan CEO Aramco Amin Nasser sebagai bagian dari upaya mengantisipasi gangguan distribusi.
Dari kawasan Eropa, serangan Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina masih berlangsung menjelang perundingan damai.
Sebaliknya, Ukraina juga melancarkan serangan pesawat nirawak yang memicu kebakaran di kilang minyak besar di Yaroslavl, Rusia.
Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga mencermati data persediaan minyak mentah Amerika Serikat.
Para analis memperkirakan stok minyak mentah AS bertambah 900.000 barel pada pekan yang berakhir 30 Oktober 2026.
Jika perkiraan tersebut terbukti, kenaikan ini akan menjadi yang pertama dalam lima pekan terakhir.
Data persediaan dari American Petroleum Institute (API) dijadwalkan dirilis pada Selasa, sedangkan laporan resmi Energy Information Administration (EIA) akan terbit pada Rabu.
Kenaikan persediaan minyak mentah AS berpotensi menambah tekanan terhadap harga minyak di tengah harapan meredanya konflik geopolitik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













