kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.541.000   10.000   0,40%
  • USD/IDR 18.174   21,00   0,12%
  • IDX 4.904   -192,54   -3,78%
  • KOMPAS100 629   -27,90   -4,25%
  • LQ45 497   -20,62   -3,98%
  • ISSI 164   -6,52   -3,83%
  • IDX30 280   -11,04   -3,79%
  • IDXHIDIV20 378   -13,42   -3,43%
  • IDX80 73   -3,14   -4,14%
  • IDXV30 105   -3,49   -3,20%
  • IDXQ30 94   -3,48   -3,57%

Saham Ini Diburu Asing Di Tengah Gejolak Pasar, Investor Ritel Perlu Ikut Beli?


Rabu, 04 November 2026 / 06:44 WIB
Saham Ini Diburu Asing Di Tengah Gejolak Pasar, Investor Ritel Perlu Ikut Beli?
ILUSTRASI. Saham Ini Diburu Asing Di Tengah Gejolak Pasar, Investor Ritel Perlu Ikut Beli?


Reporter: Rashif Usman | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Di tengah derasnya aksi jual investor asing di pasar saham domestik, sejumlah saham Bursa Efek Indonesia (BEI) justru masih menjadi sasaran akumulasi asing. Beberapa saham bahkan mencatatkan nilai pembelian bersih atau net foreign buy cukup besar pada perdagangan Senin (2/11/2026).

PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) memimpin daftar saham dengan pembelian bersih asing terbesar, yakni mencapai Rp 289,2 miliar.

Selanjutnya, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatatkan net foreign buy sebesar Rp 47,7 miliar. Disusul PT Petrosea Tbk (PTRO) sebesar Rp 38,9 miliar, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Rp 32,1 miliar, serta PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 32,1 miliar.

Menariknya, sejumlah saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC) juga masih mencatatkan pembelian bersih asing.

Di antaranya PT MD Entertainment Tbk (FILM) dengan net foreign buy Rp 23,1 miliar, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar Rp 19,9 miliar, serta PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) sebesar Rp 2,2 miliar.

Baca Juga: IHSG Anjlok 3,77% ke 4.904, Cek Saham Net Sell Terbesar Asing Selasa (3/11)

Rotasi sektoral

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, fenomena masuknya dana asing ke sejumlah saham di tengah tekanan jual di pasar secara keseluruhan menunjukkan adanya rotasi sektoral dan strategi bottom fishing.

Menurutnya, investor institusi global cenderung memburu emiten yang memiliki katalis spesifik, baik dari penguatan harga komoditas energi dan pertambangan, ekspansi bisnis, maupun ketahanan fundamental perusahaan.

Adapun akumulasi asing pada saham kategori HSC seperti FILM, DSSA, dan PSAB menunjukkan bahwa sebagian investor masih melihat potensi kenaikan harga dalam jangka panjang atau memanfaatkan peluang perdagangan jangka pendek.

"Meskipun konsentrasi kepemilikan saham pada daftar HSC tergolong tinggi dan membawa risiko terbatasnya likuiditas, katalis fundamental dan ekspansi bisnis dari emiten-emiten tersebut tetap menjadi daya tarik akumulasi portofolio," kata Nafan kepada Kontan, Selasa (3/11/2026).

Sementara itu, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, pembelian bersih asing di tengah aksi jual pasar umumnya didorong oleh katalis spesifik masing-masing emiten.

ENRG, misalnya, mendapat perhatian investor berkat investasi pada aset minyak dan gas (migas) di Amerika Serikat. BRMS didukung pemulihan produksi emas, sedangkan PTRO memiliki katalis dari kontrak jasa pertambangan jangka panjang.

Adapun BBRI dinilai menarik dari sisi valuasi yang sudah mengalami diskon cukup dalam.

Di sisi lain, Abida mengingatkan bahwa nilai pembelian bersih asing pada saham-saham HSC relatif kecil. Selain itu, kategori investor asing dalam data transaksi bursa tidak selalu merepresentasikan investor institusi global karena bisa mencakup berbagai entitas yang tercatat sebagai investor asing.

"Karena itu, net buy di saham HSC sebaiknya tidak langsung dibaca sebagai sinyal kepercayaan investor global," ucap Abida.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun ke Level Terendah dalam Empat Pekan, Ini Pemicunya

Prospek Saham Incaran Asing

Dari sisi fundamental, Nafan melihat prospek saham-saham yang mencatatkan akumulasi asing masih bervariasi, bergantung pada perkembangan sektor dan katalis bisnis masing-masing emiten.

Sektor pertambangan emas, terutama BRMS dan PSAB, menarik dicermati karena berpotensi memperoleh keuntungan dari penguatan harga emas global yang didukung permintaan aset safe haven. Ekspansi kapasitas produksi juga menjadi katalis bagi kedua emiten tersebut.

Sementara itu, PTRO memiliki peluang pertumbuhan dari pengerjaan proyek infrastruktur dan pertambangan baru. Adapun TPIA dan DSSA terus mengembangkan diversifikasi bisnis untuk memperluas sumber pendapatan.

Untuk saham perbankan, BBRI masih memiliki daya tarik sebagai salah satu emiten perbankan berkapitalisasi besar. Fundamental bisnis, kemampuan menyalurkan kredit di segmen mikro, serta potensi imbal hasil dividen menjadi sejumlah faktor yang diperhatikan investor jangka panjang.

Senada, Abida menilai emiten dengan prospek fundamental lebih menarik adalah perusahaan yang memiliki pertumbuhan laba terukur dan likuiditas saham memadai.

BRMS, misalnya, didukung pemulihan produksi tambang emas Poboya dan ekspansi kapasitas pabrik. PTRO juga memiliki prospek dari besarnya backlog kontrak serta diversifikasi bisnis.

Sementara itu, BBRI menarik dari sisi valuasi, meskipun investor masih perlu mencermati perkembangan kualitas aset, terutama pada segmen kredit mikro.

Berbeda dengan ketiga saham tersebut, ENRG dan TPIA dinilai memiliki karakter investasi yang lebih spekulatif karena prospeknya bergantung pada realisasi proyek dan siklus komoditas.

Tonton: BEI Buka Data Pemegang Saham di Atas 1%, Reformasi Pasar Modal Dikebut

Strategi Investor Mengikuti Arus Dana Asing

Di tengah tekanan IHSG, akumulasi asing pada saham-saham tertentu dapat menjadi salah satu indikator untuk mengidentifikasi emiten yang masih diminati pasar.

Namun, investor ritel sebaiknya tidak menjadikan net foreign buy sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan investasi.

Nafan menyarankan investor tetap melakukan analisis menyeluruh terhadap laporan keuangan, valuasi, serta risiko volatilitas harga saham, khususnya emiten yang masuk kategori HSC.

Sementara itu, Abida menilai pembelian bersih asing dapat menjadi sinyal awal, tetapi belum cukup kuat untuk menjadi dasar keputusan investasi apabila hanya terjadi dalam satu atau dua hari perdagangan.

Investor perlu memastikan akumulasi tersebut berlangsung konsisten selama beberapa hari dan didukung fundamental perusahaan yang memadai.

"Untuk saham HSC, kehati-hatian perlu ditingkatkan karena free float yang terbatas membuat harga lebih rentan bergejolak, terlebih setelah saham-saham tersebut dikecualikan dari perhitungan IHSG," ujar Abida.



 

Pajak Digital 9 November: Bank dan Marketplace Ikut Pungut, Target Rp1.500 Triliun?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×