Reporter: Vivit Dewi | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas kembali menguat pada perdagangan Rabu (19/8/2026), tetapi kenaikan tersebut belum sepenuhnya menghapus risiko koreksi dalam jangka pendek. Pelaku pasar masih mencermati kombinasi sinyal teknikal dan perkembangan fundamental yang dapat menentukan arah harga emas berikutnya.
Mengacu data Bloomberg pada 19 Agustus 2026 pukul 17.00 WIB, harga emas spot naik 0,61% menjadi US$ 4.360 per ons troi.
Di tengah penguatan tersebut, Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit mengatakan harga emas atau XAUUSD masih berpotensi mengalami koreksi dalam jangka pendek.
“Terbentuknya pola ABC correction menjadi salah satu indikasi bahwa harga emas masih berada dalam fase penyesuaian. Sinyal tersebut juga diperkuat dengan munculnya Bearish Engulfing yang menunjukkan meningkatnya tekanan jual,” ujar Geraldo.
Pola Bearish Engulfing terbentuk ketika candlestick bearish menutupi pergerakan candlestick bullish sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan seller mulai mengambil alih momentum, sementara buyer belum mampu mempertahankan penguatan harga.
Baca Juga: Menanti Arah Kebijakan The Fed, Begini Proyeksi Rupiah, Kamis Besok (20/8)
Selain itu, indikator Stochastic masih menunjukkan arah pelemahan. Kondisi tersebut mengindikasikan momentum beli belum kembali menguat sehingga ruang koreksi harga emas masih terbuka dalam jangka pendek.
Geraldo memperkirakan harga emas berpotensi bergerak menuju area support US$ 4.310 hingga US$ 4.239.
“Jika harga mampu bertahan di zona support tersebut dan membentuk pola pembalikan, peluang technical rebound akan kembali terbuka. Sebaliknya, apabila support gagal dipertahankan, tekanan bearish dapat berlanjut,” jelasnya.
Fundamental Masih Menopang Harga Emas
Meski sinyal teknikal menunjukkan potensi koreksi, harga emas masih mendapatkan dukungan dari sejumlah faktor fundamental. Salah satunya adalah berkurangnya ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Prospek kebijakan moneter yang lebih dovish berpotensi meningkatkan daya tarik emas karena dapat menurunkan opportunity cost dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Selain itu, pelemahan dolar AS juga dapat menjadi katalis positif bagi harga emas. Ketika dolar AS melemah, emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi relatif lebih menarik bagi investor di luar Amerika Serikat.
Baca Juga: Defisit Pasokan Jadi Katalis, Harga Platinum Berpeluang Menguat hingga Akhir 2026
Namun, pergerakan US Treasury yield tetap menjadi salah satu risiko yang perlu dicermati. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dapat meningkatkan daya tarik aset berbunga sehingga berpotensi membatasi penguatan harga emas.
Faktor geopolitik juga masih berpotensi memberikan dukungan terhadap emas. Perkembangan terkait Selat Hormuz serta potensi meningkatnya ketegangan geopolitik dapat menjaga permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven.
Dengan demikian, harga emas saat ini menghadapi tarik-menarik antara dukungan fundamental dan tekanan teknikal. Prospek kebijakan The Fed, pergerakan dolar AS, Treasury yield, serta perkembangan geopolitik akan menjadi sejumlah faktor penting yang menentukan arah harga emas selanjutnya.
Dalam jangka pendek, investor perlu mencermati area support US$ 4.310 hingga US$ 4.239 untuk melihat apakah tekanan koreksi dapat tertahan atau justru berlanjut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













