Reporter: Vivit Dewi | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga platinum berpeluang melanjutkan penguatan hingga akhir 2026 di tengah kondisi pasar yang masih mengalami defisit pasokan. Fundamental tersebut menjadi salah satu faktor yang membedakan pergerakan platinum dari emas dan perak.
Rabu (19/8/2026), berdasarkan data Bloomberg pukul 17.00 WIB, harga platinum spot menguat 0,08% ke US$ 1.730,16 per ons troi. Namun, dalam sepekan harga platinum melemah 1,48%.
Sementara harga platinum kontrak pengiriman Oktober 2026 juga naik 0,15% menjadi US$ 1.736,4 per ons troi. Dalam sepekan harga platinum berjangka ini melemah 1,86%.
Harga platinum terkoreksi 2,52% dalam sepekan, tetapi masih mencatat kenaikan 7,53% dalam sebulan dan 29,27% dalam setahun.
Baca Juga: Rupiah Masih Rentan Tembus Rp 18.000 Usai BI-Rate Ditahan
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan, pergerakan platinum saat ini memiliki karakter yang berbeda dibandingkan emas dan perak.
“Platinum justru bergerak berlawanan arah: didukung oleh defisit struktural pasokan dari tambang Afrika Selatan, permintaan autokatalis dari kendaraan hybrid, serta narasi baru soal permintaan terkait ekspansi AI dan pusat data,” ujar Sutopo.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat platinum memiliki kombinasi antara kelangkaan pasokan dan potensi pertumbuhan permintaan. Bahkan, pasar platinum diperkirakan masih mengalami defisit pada tahun ini.
Sutopo menyebut, World Platinum Investment Council (WPIC) memproyeksikan, defisit pasar platinum sebesar 297.000 ons pada 2026. Kondisi tersebut sekaligus menandai tahun keempat berturut-turut pasar platina mengalami defisit.
Di sisi lain, stok platinum yang tersimpan di atas tanah (above-ground stocks) juga terus menipis hingga berada di level yang secara historis rendah. Kondisi ini dapat menjadi penopang harga apabila permintaan tetap bertahan.
“Ditambah katalis baru berupa permintaan dari sektor AI dan pusat data yang menurut Valterra Platinum bisa tumbuh lima kali lipat hingga 2030, platinum punya kombinasi kelangkaan fisik dan narasi pertumbuhan yang belum sepenuhnya priced in oleh pasar,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, Sutopo mengatakan, platinum berpotensi melanjutkan tren penguatan hingga akhir 2026 selama defisit pasokan tetap bertahan. Namun, ia mengingatkan bahwa potensi kenaikan tersebut juga disertai risiko yang lebih tinggi dibandingkan emas.
Pasar platinum memiliki ukuran dan likuiditas yang lebih kecil dibandingkan emas. Akibatnya, perubahan sentimen dapat memicu pergerakan harga yang lebih tajam.
Selain itu, narasi mengenai peningkatan permintaan dari AI dan pusat data masih perlu dibuktikan melalui pertumbuhan permintaan riil. Karena itu, investor tetap perlu memperhitungkan volatilitas platinum yang relatif tinggi.
Baca Juga: IHSG Ditutup Turun 0,86% ke 6.394, Top Losers LQ45: ESSA, PGEO, INDY, Rabu (18/8)
Dari sisi proyeksi harga, Sutopo menyebut perkiraan sejumlah lembaga terhadap platinum cukup lebar. Estimasi konservatif Metals Focus berada di sekitar US$ 1.670 per ons troi, sedangkan Bank of America memperkirakan harga platinum dapat mencapai US$ 2.450 per ons troi.
Dengan level harga saat ini sebesar US$ 1.724,80 per ons troi, rentang proyeksi tersebut menunjukkan bahwa ruang pergerakan platina hingga akhir 2026 masih cukup lebar.
Sutopo bilang, perbedaan proyeksi tersebut juga mencerminkan tingginya ketidakpastian di pasar platinum. Menurutnya, proyeksi harga sebaiknya dipandang sebagai skenario, bukan kepastian, mengingat harga platinum sangat sensitif terhadap perubahan pasokan, permintaan dan sentimen pasar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














