Sumber: CoinDesk,CoinDesk | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga emas, perak, dan bitcoin kompak mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir. Di balik pelemahan tersebut, terdapat perubahan sentimen pasar global yang membuat investor mulai mengalihkan dana ke aset lain, terutama saham-saham kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Melansir Coindesk Minggu (28/6/2026), harga emas bahkan sempat turun di bawah level US$ 4.000 per ons troi untuk pertama kalinya sejak November.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat Terbatas pada Senin (29/6) Besok
Sementara itu, harga perak telah kehilangan lebih dari separuh nilainya dari level tertinggi, sedangkan bitcoin merosot hingga mendekati US$ 58.000 per koin.
Analis menilai penurunan ketiga aset tersebut bukanlah kebetulan. Selama dua tahun terakhir, emas, perak, dan bitcoin diperdagangkan dengan narasi investasi yang sama, yakni sebagai lindung nilai terhadap pelemahan nilai mata uang atau yang dikenal sebagai debasement trade.
Strategi investasi ini berangkat dari keyakinan bahwa belanja pemerintah yang besar dan lonjakan utang negara akan mengikis nilai mata uang fiat secara bertahap. Kondisi tersebut mendorong investor memburu aset yang pasokannya terbatas.
Emas dan perak merupakan aset lindung nilai tradisional, sedangkan bitcoin diposisikan sebagai versi digital karena jumlah pasokannya dibatasi maksimal 21 juta koin.
Sepanjang 2025, ketika dolar Amerika Serikat (AS) berada di bawah tekanan, arus dana mengalir deras ke ketiga aset tersebut sehingga diperlakukan sebagai satu kelompok investasi.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Pulih pada Semester II, Simak Sentimen Penggeraknya
Namun, sentimen pasar kini berbalik arah.
Ketua baru Federal Reserve Kevin Warsh menyampaikan sikap yang lebih agresif (hawkish) terhadap kebijakan moneter.
Pasar kini memperkirakan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga acuan masing-masing sebesar 25 basis poin sebanyak dua kali hingga Maret 2027, sehingga Fed Funds Rate diperkirakan berada di kisaran 4,00%-4,25%.
Di saat yang sama, indeks dolar AS menguat sekitar 0,8% hanya dalam sepekan.
Kombinasi suku bunga yang lebih tinggi dan dolar yang lebih kuat menjadi tekanan bagi aset-aset seperti emas, perak, maupun bitcoin.
Kenaikan suku bunga meningkatkan imbal hasil riil (real yield) obligasi pemerintah AS sehingga investor lebih tertarik memegang aset yang memberikan bunga dibandingkan emas atau bitcoin yang tidak menghasilkan pendapatan.
Sementara itu, penguatan dolar membuat harga emas, perak, dan bitcoin menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain sehingga permintaan cenderung melemah.
Baca Juga: BUMN Karya Ada Surat Utang Jatuh Tempo di 2026, Potensi Gagal Bayar?
Bitcoin Masih Tertekan
Posisi bitcoin dalam kelompok aset lindung nilai sebenarnya sempat dipertanyakan.
Saat harga emas dan perak melonjak sepanjang 2025, bitcoin justru bergerak relatif datar di sekitar level US$ 100.000.
Kondisi itu memunculkan keraguan apakah bitcoin masih layak dianggap sebagai instrumen lindung nilai terhadap pelemahan mata uang.
Namun ketika tren berbalik, bitcoin justru ikut melemah bersama logam mulia.
Sejak mencapai puncaknya pada Oktober lalu, harga bitcoin telah turun sekitar 50%, sementara emas terkoreksi sekitar 28% dari rekor tertingginya pada Januari 2025 dan perak merosot lebih dari 50%.
Penurunan tersebut bahkan membawa bitcoin turun di bawah rata-rata pergerakan (moving average) 200 minggu yang selama ini dipandang sebagai level penopang jangka panjang.
Baca Juga: Ada Surat Utang Jatuh Tempo di 2026, Ini Rencana WSKT dan WIKA
Meski demikian, masih terdapat satu sinyal positif.
Sejak Februari lalu, kinerja bitcoin relatif lebih baik dibandingkan emas maupun perak. Nilai tukarnya terhadap emas naik sekitar 30%, sedangkan terhadap perak meningkat lebih dari 55%.
Meski begitu, analis menilai prospek bitcoin masih akan sangat bergantung pada arah kebijakan moneter AS.
Selama Federal Reserve mempertahankan kebijakan yang ketat dan dolar AS tetap menguat, bitcoin diperkirakan masih akan sulit melepaskan diri dari tekanan yang juga dialami emas dan perak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














