Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemisahan bisnis wholesale fiber PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) mulai menunjukkan skala bisnis yang besar. Namun, di balik aset yang ditransfer mencapai Rp 85,6 triliun, Mirae Asset Sekuritas menilai potensi ekonomi InfraNexia masih perlu dibuktikan melalui tingkat utilisasi dan kemampuan monetisasinya.
Analis Mirae Asset Sekuritas Daniel Widjaja dalam riset Rabu (12/8/2026) mengatakan, aksi korporasi tersebut berpotensi membuka sumber nilai baru bagi Telkom, terutama melalui masuknya investor strategis. Meski demikian, proses divestasi dan eksekusi bisnis InfraNexia masih menjadi faktor yang perlu dicermati.
Telkom memisahkan bisnis wholesale fiber ke InfraNexia dalam dua tahap. Pada tahap pertama yang efektif sejak Januari 2026, Telkom mengalihkan aset senilai Rp 48,9 triliun dan liabilitas Rp 13,3 triliun. Berdasarkan penilaian independen, aset tersebut memiliki nilai Rp 35,8 triliun atau sekitar 56% dari total aset yang akan ditempatkan di InfraNexia.
Baca Juga: Kasus Dugaan Fraud Berlanjut, Bos Telkom (TLKM) Dikabarkan Terbang ke AS Temui SEC
Tahap kedua dijadwalkan dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 30 September. Pada tahap ini, Telkom akan mengalihkan tambahan aset senilai Rp 29,2 triliun dengan nilai penilaian Rp 49,9 triliun, setara sekitar 33% dari ekuitas Telkom pada tahun buku 2025. Sebagai kompensasinya, InfraNexia akan menerbitkan 498,6 juta saham baru TIF.
Jika kedua tahap tersebut digabungkan, InfraNexia akan memiliki sekitar Rp 78 triliun aset yang menghasilkan pendapatan Rp 24,8 triliun dan EBITDA Rp 16,9 triliun. Berdasarkan nilai transfer tersebut, bisnis ini dihargai sekitar 5,9 kali EV/EBITDA.
Daniel menegaskan restrukturisasi tersebut tidak mengubah laporan keuangan konsolidasian Telkom. Pada tahap pertama, aset yang dialihkan mencakup jaringan access fiber sepanjang sekitar 490.000 kilometer dan backbone fiber sepanjang 80.000 kilometer. Sementara itu, aset kabel bawah laut domestik sepanjang sekitar 25.000 kilometer akan dipindahkan pada tahap kedua.
Menariknya, Mirae Asset Sekuritas menilai valuasi InfraNexia berpotensi jauh lebih tinggi dibandingkan nilai transfernya.
Daniel menggunakan sejumlah transaksi carve-out bisnis fiber global sebagai pembanding. Transaksi tersebut mencatat median valuasi sekitar 12,8 kali EBITDA, dengan Telstra mencapai 28 kali, TPG/Vocus 11,2 kali, MORA/MyRepublic 10,2 kali, serta TIM FiberCop 8,6 kali.
Namun, Mirae Asset tidak serta-merta menggunakan median global tersebut. Menurut Daniel, tingkat utilisasi InfraNexia yang baru sekitar 40% serta tingginya porsi pendapatan yang berasal dari internal grup membuat valuasi perlu diberi diskon sekitar 30%.
Dengan pertimbangan tersebut, Mirae Asset menggunakan multiple dasar 9 kali EV/EBITDA. Berdasarkan EBITDA yang telah disesuaikan sebesar Rp 17,5 triliun, termasuk EBITDA TIF secara standalone, valuasi tersebut menghasilkan enterprise value (EV) sekitar Rp 157,9 triliun.
Baca Juga: Telkom (TLKM) Lanjutkan Spin Off Bisnis Fiber Rp 49,85 Triliun ke Infranexia
Setelah memperhitungkan utang bersih Rp 12,3 triliun, nilai ekuitas InfraNexia diperkirakan mencapai Rp 145,7 triliun. Angka ini setara sekitar 56,8% dari kapitalisasi pasar Telkom saat ini.
“Bisnis ini sebelumnya berpindah tangan dengan valuasi 5,9 kali. Kami menilai nilainya bisa mencapai 9 kali,” sebut Daniel. Intinya, Mirae Asset melihat masih ada peluang nilai InfraNexia meningkat seiring bisnisnya berkembang dan mulai menarik investor dari luar.
Valuasi yang lebih tinggi juga membuka potensi pembagian dividen spesial bagi pemegang saham Telkom.
Mirae Asset menghitung, jika Telkom melepas 25% kepemilikan InfraNexia dengan multiple 9 kali, nilai transaksi bruto berpotensi mencapai Rp 36,4 triliun.
Setelah memperhitungkan biaya advisory sekitar 1% dan nilai buku kepemilikan sebesar Rp 16,7 triliun, keuntungan kena pajak diperkirakan Rp19,3 triliun. Dengan tarif pajak 22%, pajak yang harus dibayarkan sekitar Rp 4,2 triliun.
Dengan demikian, Telkom berpotensi memperoleh kas bersih sekitar Rp 31,8 triliun. Jika 50% dari dana tersebut dibagikan kepada pemegang saham, nilai pembayarannya mencapai sekitar Rp 15,9 triliun.
Perhitungan tersebut setara dengan dividen spesial atau special dividend sebesar Rp 161 per saham. Dengan mengacu pada harga terakhir TLKM sebesar Rp 2.610 per saham, dividen tersebut memberikan yield sekitar 6,2%, di luar dividen reguler.
Namun, besarnya dividen spesial sangat bergantung pada porsi saham yang dilepas dan tingkat payout ratio. Dalam simulasi Mirae Asset, apabila kepemilikan yang dijual berada di kisaran 15%-35% dan valuasi bergerak pada 7-11 kali EBITDA, dividen spesial dapat berada di kisaran Rp 76-Rp 273 per saham, atau yield sekitar 2,9%-10,4%.
Sementara itu, dengan asumsi saham yang dilepas tetap 25%, tetapi payout ratio dinaikkan atau diturunkan dari 30%-70%, dividen spesial diperkirakan berada di kisaran Rp 96-Rp 225 per saham, setara yield 3,7%-8,6%.
Baca Juga: Telkom (TLKM) Fokus Perkuat Bisnis Inti, Rampingkan 10 Anak Usaha
“Besarnya dividen per saham (DPS) lebih banyak dipengaruhi oleh berapa besar saham yang dijual dan berapa bagian laba yang dibagikan sebagai dividen, dibandingkan oleh perubahan valuasi,” kata Daniel dalam riset.
Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham TLKM dengan target harga Rp 3.400 per saham. Target tersebut merefleksikan sekitar 4,2 kali estimasi EV/EBITDA Telkom untuk 2027.
Per Rabu (12/8/2026), harga saham TLKM ditutup turun 0,77% di Rp 2.590 per saham. Sementara dalam lima hari saham TLKM turun 4,43%.
Daniel menyebut pihaknya masih mempertahankan proyeksi keuangan Telkom sembari menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai proses divestasi InfraNexia dan penggunaan dana hasil transaksi.
Menurutnya, langkah pemisahan tersebut memiliki potensi positif karena dapat membuka peluang monetisasi aset sekaligus menciptakan sinergi dengan investor baru. Investor strategis juga berpotensi membawa tambahan bisnis bagi InfraNexia dan pada akhirnya memperbesar kontribusinya terhadap grup Telkom.
Langkah tersebut dinilai sejalan dengan strategi Telkom untuk merampingkan struktur bisnis dan memusatkan perhatian pada operasi inti. Dengan neraca yang lebih efisien, profitabilitas grup diharapkan dapat meningkat.
Meski prospeknya menarik, Mirae Asset tetap mengingatkan dua risiko utama, yakni potensi keterlambatan proses divestasi serta risiko eksekusi bisnis InfraNexia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
