kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.603.000   -20.000   -0,76%
  • USD/IDR 18.032   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.236   49,76   0,80%
  • KOMPAS100 817   5,56   0,69%
  • LQ45 621   2,39   0,39%
  • ISSI 215   1,38   0,65%
  • IDX30 350   1,18   0,34%
  • IDXHIDIV20 430   0,35   0,08%
  • IDX80 93   0,50   0,54%
  • IDXV30 118   0,33   0,28%
  • IDXQ30 112   0,18   0,16%

Harga Emas Dunia Tertekan, Ini Proyeksi dan Strategi Investasi hingga Akhir 2026


Minggu, 02 Agustus 2026 / 08:36 WIB
Harga Emas Dunia Tertekan, Ini Proyeksi dan Strategi Investasi hingga Akhir 2026
ILUSTRASI. Harga emas dunia masih berada dalam tren pelemahan di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. (REUTERS/Alexander Manzyuk)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas dunia masih berada dalam tren pelemahan di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Meski dikenal sebagai aset safe haven, logam mulia kini menghadapi tekanan akibat penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi di Negeri Paman Sam.

Berdasarkan data Trading Economics per 31 Juli, harga emas berada di level US$ 4.042,97 per ons troi. Angka tersebut terkoreksi 1,47% dalam sehari dan melemah 6,41% secara year-to-date (YtD).

Di tengah dinamika tersebut, pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen utama yang diperkirakan masih akan memengaruhi pergerakan harga emas hingga akhir tahun.

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, mengatakan meningkatnya eskalasi konflik geopolitik, khususnya antara Iran dan Amerika Serikat (AS), menjadi salah satu faktor utama yang membebani pergerakan harga emas dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut Ariston, memanasnya konflik tersebut justru mendorong penguatan dolar AS. Kondisi ini membuat harga emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi kurang menarik sehingga mengalami tekanan.

Baca Juga: Harga Emas Diproyeksi Bertahan Bullish, Ini Level Kunci yang Harus Dicermati

Selain itu, konflik geopolitik dinilai turut meningkatkan risiko inflasi di AS. Situasi tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi atau bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi kembali meningkat.

Meski menghadapi tekanan dalam jangka pendek akibat penguatan dolar AS, Ariston menilai prospek fundamental emas masih cukup kuat. Salah satu penopangnya adalah aksi pembelian emas oleh berbagai bank sentral dunia sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa.

"Dan emas juga dipandang sebagai salah satu aset safe haven selain dolar AS, sehingga masa seperti sekarang ini minat investor untuk membeli emas juga masih tinggi," ujar Ariston kepada Kontan, Jumat (31/7/2026).

Di sisi lain, permintaan emas sebagai instrumen lindung nilai (safe haven) juga diperkirakan tetap terjaga selama ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global masih berlangsung.

Baca Juga: IHSG Naik 0,81% Sepekan, Analis Proyeksi Lanjut Menguat Pekan Depan

Melihat kondisi tersebut, Ariston menyarankan investor domestik untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan investasi berdasarkan fluktuasi harga jangka pendek. Ia menilai strategi investasi secara berkala atau Dollar-Cost Averaging (DCA) masih menjadi pilihan yang tepat karena mampu mengurangi risiko volatilitas harga.

Menurutnya, dalam jangka panjang harga emas masih memiliki kecenderungan bergerak naik seiring tingginya permintaan sebagai aset pelindung nilai.

Untuk prospek hingga akhir 2026, Ariston memperkirakan harga emas dunia masih akan bergerak dalam rentang yang relatif stabil meski volatilitas diperkirakan tetap tinggi mengikuti perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global.

"Hingga akhir tahun bisa berada kisaran US$ 3.800–US$ 4.300," tutur Ariston.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×