kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Harga Batubara Merangkak Naik, Analis Beberkan Pemicunya


Jumat, 23 Februari 2024 / 17:26 WIB
Harga Batubara Merangkak Naik, Analis Beberkan Pemicunya
ILUSTRASI. Aktivitas bongkar muat batu bara di pantai Desa Peunaga Cut Ujong, Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Selasa (20/2/2024). Harga Batubara Terus Merangkak Naik, Tren Positif Bakal Berlanjut atau Hanya Sementara?


Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Noverius Laoli

Investor juga mengantisipasi langkah stimulus tambahan dari pemerintah China menyusul langkah-langkah dukungan belakangan ini seperti pada bursa saham dan penurunan suku bunga pinjaman.

“Begitu pula permintaan batubara cukup kuat dari India, Korea dan Jepang,” imbuh Lukman kepada Kontan.co.id, Jumat (23/2).

Di samping itu, Lukman juga menilai kenaikan harga batubara karena dukungan dari harga minyak mentah dunia yang sudah stabil dan cenderung naik.

Baca Juga: Sri Mulyani Waspadai Tren Kontraksi Harga Komoditas yang Masih Berlanjut Tahun Ini

Hanya saja, dia memperkirakan kenaikan harga batubara ini hanya musiman (seasonal), dan permintaan setahun penuh diperkirakan masih akan tetap lebih rendah darpada tahun 2023.

Kendati diperkirakan masih akan tertekan, Lukman melihat potensi harga batubara akan didukung oleh level teknikal support di US$ 100 - US$ 115 per ton di tahun 2024, dengan kemungkinan downside terbatas.

Kalau Sutopo memperkirakan harga batubara akan diperdagangkan pada harga US$127,5 per ton pada akhir kuartal I-2024 ini.

Proyeksi tersebut karena mempertimbangkan peningkatan tambahan dari China dan India. Kenaikan ini masih sangat terbatas, karena perlambatan pertumbuhan ekonomi China masih menjadi kendala utama.

Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham dan Sektor Pilihan Saat Ketidakpastian Ekonomi Global Terjadi

Menurut dia, tahun ini harga batubara masih akan relatif mendatar. Belum ada peningkatan besar karena inflasi yang masih kaku tetap menjadi kendala bagi bank sentral untuk tetap mempertahankan suku bunga tinggi.

“Artinya ini menjadi beban bagi perusahaan-perusahaan sektor energi yang berimbas pada harga komoditas,” tandas Sutopo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×