kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45888,83   -11,99   -1.33%
  • EMAS1.338.000 0,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Terbebani Lesunya Harga Batubara, Begini Rekomendasi Saham PTBA dari Sejumlah Analis


Selasa, 02 Januari 2024 / 13:34 WIB
Terbebani Lesunya Harga Batubara, Begini Rekomendasi Saham PTBA dari Sejumlah Analis
ILUSTRASI. Petugas mengoperasikan 'stekker recliming' untuk memindahkan batubara ke 'conveyor belt' di kawasan tambang batubara airlaya milik PT Bukit Asam Tbk di Tanjung Enim, Muara Enim, Sumatera Selatan, Selasa (16/11/2021). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/hp.


Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Performa PT Bukit Asam Tbk (PTBA) terbebani jebloknya harga batubara di tahun 2023. Harga batubara yang lebih rendah masih menjadi penghalang bagi PTBA di tahun-tahun mendatang.

Dari periode Januari – September 2023, kinerja pendapatan dan laba bersih PTBA kompak merosot. Emiten pelat merah ini melaporkan pendapatan sebesar Rp 27.7 triliun yang mengalami penurunan sekitar 10.84% year on year (YoY) daripada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih PTBA juga terpantau turun sekitar 62% YoY menjadi Rp 3.8 triliun per akhir September 2023.

CEO Edvisor.id Praska Putrantyo mengamati, penurunan kinerja PTBA dari sisi pos pendapatan hingga laba bersih memang sudah terjadi dalam 4 kuartal terakhir atau sejak kuartal IV-2022. Kinerja PTBA mulai lesu seiring turunnya harga batubara sekitar 64% dari rekor tertinggi tahun lalu kisaran harga US$400 per ton menjadi US$136.95 per ton per 29 Desember 2023.

“Penurunan harga batubara terjadi di tengah berakhirnya krisis geopolitik antara Rusia – Ukraina, serta suplai yang kembali meningkat,” jelas Praska kepada Kontan.co.id, Senin (1/1).

Baca Juga: Simak Rekomendasi Sektor dan Saham Pilihan dari Ajaib Sekuritas untuk Tahun 2024

Selain itu, Praska menambahkan, rencana peningkatan penggunaan energi terbarukan (green energy) juga menjadi salah satu katalis pemberat harga komoditas energi berbasis fosil, seperti batubara.

PTBA dinilai masih menarik lebih dikarenakan adanya dividend yield jumbo di sepanjang tahun 2023. Hal itu menyusul performa apik PTBA selama tahun 2022 karena diuntungkan oleh tingginya harga batubara kala itu.

Praska memperkirakan, proyeksi harga rata-rata atau average selling price (ASP) batubara sepanjang tahun 2024 kemungkinan masih relatif melandai di kisaran US$100 per ton - US$160 per ton. Faktor yang mempengaruhi pergerakan batubara akan cenderung dipengaruhi oleh sentimen ekonomi negara importir batubara terbesar, salah satunya adalah Tiongkok.

Hanya saja, ekonomi Tiongkok saat ini mulai dikhawatirkan mengalami perlambatan yang terefleksi dari angka laju inflasi tahunan yang negatif dan angka GDP tumbuh di bawah 5% per kuartal ketiga 2023.

Praska berharap katalis penopang bagi PTBA datang dari potensi permintaan permintaan batubara domestik untuk kebutuhan pembangkit tenaga listrik. Selain itu, katalis positif lainnya dari kemampuan PTBA dalam menjaga margin laba di tengah melandainya harga komoditas batubara.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan mengatakan, pertumbuhan organik batubara PTBA akan terus berlanjut. Fase ekspansi batubara PTBA selanjutnya akan didukung oleh pertumbuhan kapasitas kereta api menjadi 52 juta ton pada tahun 2024 dan menjadi 72 juta ton pada 2026.

 

Baca Juga: Emiten Properti Garap Proyek di IKN, Simak Rekomendasi Sahamnya

Di tengah perluasan kapasitas kereta api, BRI Danareksa memproyeksikan pertumbuhan yang stabil pada produksi batubara PTBA di tahun 2023-2025 sebesar 5% per tahun. Selain pembangkit listrik, PTBA terus melihat investasi pada produk hilir batubara. PTBA masih mencari mitra strategis untuk proyek gasifikasi batubara.

Erindra memperkirakan akan terjadi normalisasi harga batubara lebih lanjut pada 2024. Pertumbuhan produksi domestik yang lebih kuat di pasar-pasar utama seperti India dan Tiongkok akan berlanjut.

“Dengan demikian, prospek permintaan yang lemah diperkirakan akan terus berlanjut di tahun 2024,” ungkap Erindra dalam riset 22 Desember 2023.

Dari sisi pasokan, Erindra meyakini pendorong pertumbuhan utama tetaplah Australia di tengah kapasitas yang tersedia hingga 210-220 juta ton, serta normalisasi kondisi cuaca di Indonesia. Secara keseluruhan, keseimbangan pasar diperkirakan akan terjadi ke arah surplus sekitar 5-10 juta ton di tahun 2024.




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×