kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.996.000   8.000   0,27%
  • USD/IDR 17.018   53,00   0,31%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Harga Minyak Naik pada Kamis (19/3) Pagi Pasca Serangan Fasilitas Energi Timur Tengah


Kamis, 19 Maret 2026 / 07:18 WIB
Harga Minyak Naik pada Kamis (19/3) Pagi Pasca Serangan Fasilitas Energi Timur Tengah
ILUSTRASI. Harga minyak naik setelah serangan terhadap beberapa fasilitas energi di Timur Tengah, menimbulkan kekhawatiran lebih atas dampak perang Iran.(REUTERS/Eli Hartman)


Reporter: Herlina KD | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak naik pada perdagangan Kamis (19/3/2026) pagi. Mengutip Bloomberg, pukul 07.05 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2026 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 99,40 per barel, naik 3,2% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 96,32 per barel.

Harga minyak naik setelah serangan terhadap beberapa fasilitas energi di Timur Tengah. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak yang lebih parah dari konflik yang telah berlangsung hamper tiga minggu ini. 

Mengutip Bloomberg, Iran melakukan serangan terhadap sebuah lokasi LNG Utama di Qatar, salah satu dari beberapa asset energi yang ditargetkan setelah serangan terhadap ladang gas raksasa South Pars milik Republik Islam.

Baca Juga: Pasar Global Dibayangi Geopolitik, Arah Suku Bunga Jadi Kunci

Harga minyak telah melonjak sekitar 50% sejak awal perang yang telah menimbulkan kekacauan di seluruh Timur Tengah, mengancam Selat Hormuz bagi pelayaran dan memangkas Sebagian besar produksi minyak dan gas.

Namun, industri energi hulu Iran Sebagian besar terhindar dari dampak buruk hingga saat ini.

Presiden AS Donald Trump mengatakan, dia mengetahui serangan Israel di ladang minyak South Pars sebelumnya, tetapi tidak menginginkan serangan lagi terhadap situs energi Iran.

"Tekanan di Selat Hormuz berarti Preisden Trump tidak bisa begitu saja menyatakan kemenangan dan pergi begitu saja, karena itu tidak akan menyelesaikan masalah mendasar,"  kata Will Todman, peneliti senior di Program Timur Tengah di Pusat Studi Strategis dan Internasional.

Baca Juga: Wall Street Anjlok Tajam Pasca The Fed Mempertahankan Suku Bunga

"Banyak pilihan yang dimiliki Presiden Trump untuk meningkatkan tekanan pada Iran akan membuat harga energi semakin tinggi, termasuk upaya untuk merebut Pulau Kharg atau menyerang infrastruktur produksi energi Iran."

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×