Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Fitch Ratings mempertahankan peringkat PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) pada level BBB untuk Long-Term Issuer Default Rating (IDR), dengan outlook negatif. Outlook tersebut mengikuti outlook peringkat utang Indonesia yang juga berada di level negatif.
Fitch dalam rilis pada 24 September 2026 juga memaparkan jika pihaknya juga mempertahankan Viability Rating (VR) Danamon di level bb+. Sementara itu, Fitch Ratings Indonesia mempertahankan National Long-Term Rating Danamon di level AAA(idn)dengan outlook stabil dan National Short-Term Rating di F1+(idn).
Fitch menjelaskan, peringkat jangka panjang Danamon terutama ditopang ekspektasi adanya dukungan luar biasa dari induk usaha, Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) yang memiliki rating A-/Stable.
Baca Juga: Cara Investasi Dollar untuk Pemula: Panduan Lengkap dan Pilihan Aplikasinya
Shareholder Support Rating (SSR) Danamon berada di level bbb, tetapi dibatasi oleh Country Ceiling Indonesia di level BBB.
Dengan demikian, outlook negatif Danamon terutama bukan berasal dari pelemahan fundamental bank secara standalone, melainkan mengikuti prospek peringkat Indonesia. Fitch menyebut penurunan peringkat Indonesia dapat menurunkan Country Ceiling dan selanjutnya membatasi SSR Danamon sehingga berpotensi menekan Long-Term IDR bank.
Di sisi fundamental, Fitch menilai lingkungan operasional perbankan Indonesia masih cukup tangguh. Fitch memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,1% pada 2026 dan 5% pada 2027, yang akan mendukung pertumbuhan sektor perbankan.
Namun, ketidakpastian kebijakan yang meningkat berpotensi memengaruhi prospek fiskal dan buffer eksternal Indonesia. Kondisi rupiah yang lebih lemah, biaya pendanaan yang meningkat dan margin yang lebih tipis juga diperkirakan menjadi tantangan bagi bank dalam jangka pendek.
Fitch menaikkan earnings and profitability score Danamon menjadi bb+ dari sebelumnya bb. Lembaga pemeringkat tersebut memperkirakan operating profit Danamon tetap solid sekitar 2,6% dari risk-weighted assets (RWA) pada 2026–2027.
Profitabilitas Danamon didukung oleh net interest margin (NIM) sekitar 7,6%, yang disebut sebagai yang tertinggi di antara kelompok bank pembandingnya.
Tingginya NIM terutama ditopang komposisi kredit yang memiliki porsi besar pembiayaan otomotif berbunga tetap dengan imbal hasil tinggi. Rasio cost-to-income juga diperkirakan relatif stabil.
Dari sisi kualitas aset, rasio non-performing loan (NPL) Danamon tercatat 1,5% pada akhir semester I-2026, sama dengan posisi akhir 2025.
Fitch memperkirakan NPL dapat meningkat secara moderat seiring tantangan yang masih berlangsung di pasar otomotif domestik. Namun, rasio pencadangan NPL sebesar 297% memberikan bantalan terhadap potensi kerugian yang tidak terduga.
Baca Juga: Pakuwon Jati (PWON) Kaji Dampak UU Reforma Agraria ke Land Bank
Fitch juga menilai risiko dari bisnis pembiayaan otomotif Danamon secara aktif dikelola. Bisnis tersebut memang memiliki eksposur terhadap kelompok debitur dengan risiko yang relatif lebih tinggi, tetapi standar underwriting, kecukupan agunan, serta kerangka pengendalian risiko dengan batas yang ditetapkan dinilai dapat memitigasi sebagian risiko tersebut.
Di saat yang sama, Danamon mulai melakukan diversifikasi ke segmen enterprise banking dan institusi keuangan yang memiliki risiko lebih rendah. Ekspansi ini didukung jaringan MUFG dengan nasabah korporasi Jepang di Indonesia.
Di sisi permodalan, rasio common equity Tier 1 (CET1) Danamon turun menjadi 21,2% pada akhir semester I-2026, dari 24,4% pada akhir 2025.
Penurunan tersebut terutama dipengaruhi akuisisi Home Credit Indonesia, pembayaran dividen, serta kerugian mark-to-market dari portofolio investasinya.
Meski demikian, Fitch memperkirakan rasio CET1 akan tetap berada di atas 20%. Retensi laba yang kuat diperkirakan terus memperkuat modal sehingga memberikan buffer yang cukup untuk menghadapi potensi pelemahan kualitas aset.
Dari sisi pendanaan, loan to deposit ratio (LDR) Danamon tercatat 127% pada akhir Juni 2026, menjadi yang tertinggi di antara bank pembanding.
Tingginya LDR berkaitan dengan bisnis pembiayaan otomotif dan konsumer melalui anak usaha, Adira Finance, yang sebagian pendanaannya berasal dari pinjaman, bukan dana nasabah.
Kepemilikan MUFG memberikan Danamon akses terhadap sumber pendanaan dengan harga kompetitif. Fitch menilai kondisi tersebut membantu menjaga biaya pendanaan Danamon tetap sejalan dengan bank domestik kelas menengah lainnya.
Fitch juga menegaskan posisi strategis Danamon bagi MUFG. Peringkat Danamon berlabuh pada rating jangka panjang valuta asing MUFG yang mencerminkan potensi dukungan dari pemerintah Jepang melalui MUFG apabila diperlukan.
Fitch menilai kecil kemungkinan terdapat hambatan regulasi maupun struktural yang dapat menghalangi MUFG menyalurkan dukungan kepada anak usahanya di luar negeri.
Baca Juga: BEI Dorong Reformasi Pasar Modal, Demutualisasi Jadi Sorotan
Danamon juga dipandang sebagai anak usaha yang penting secara strategis karena MUFG memiliki komitmen jangka panjang terhadap Indonesia sebagai salah satu pasar pertumbuhan utama.
Fitch menyebut penurunan kemampuan MUFG dalam memberikan dukungan, misalnya jika rating jangka panjang MUFG turun dua notch, dapat memicu penurunan SSR, Long-Term IDR dan National Long-Term Rating Danamon.
Namun, Fitch menilai skenario tersebut masih kecil kemungkinannya dalam waktu dekat.
Sementara dari sisi standalone, Fitch baru akan mempertimbangkan penurunan VR apabila terjadi pelemahan kinerja keuangan yang signifikan. Beberapa indikator yang menjadi perhatian antara lain NPL yang naik dan bertahan di atas 4%, operating profit/RWA turun mendekati 1,5%, CET1 jatuh di bawah 15%, atau LDR meningkat di atas 140%.
Untuk outlook IDR, Fitch menyebut outlook negatif Danamon dapat berubah menjadi stabil apabila outlook rating Indonesia berubah menjadi stabil. Adapun kenaikan rating Danamon dapat terjadi jika Country Ceiling Indonesia dinaikkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














