Reporter: Rashif Usman | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali melemah sepanjang perdagangan pekan ini. Jumat (25/9/2026), rupiah ditutup naik tipis 0,07% menjadi Rp 17.903 per dolar Amerika Serikat (AS).
Namun dalam sepekan, rupiah melemah 0,82% dari posisi sebelumnya Rp 17.758 per dolar AS pada Jumat (18/9/2026) lalu.
Merosotnya nilai tukar rupiah belakangan ini turut menjadi perhatian bagi para emiten, tak terkecuali PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).
Emiten BUMN yang bergerak di bidang pertambangan dan pengolahan mineral itu tercatat memiliki kewajiban dalam denominasi dolar AS. Dalam laporan keuangannya per Juni 2026, ANTM mencatatkan liabilitas sebesar US$ 250,85 juta.
Baca Juga: Rupiah Volatil, Begini Strategi Pakuwon Jati (PWON) Kelola Utang Dolar AS
Menghadapi sentimen pelemahan rupiah, Sekretaris Perusahaan ANTM, Wisnu Danandi Haryanto mengatakan, ANTM senantiasa melakukan pengelolaan risiko nilai tukar secara prudent sebagai bagian dari penerapan manajemen risiko keuangan perseroan.
Dalam mengelola kewajiban berdenominasi valuta asing, ANTM secara berkala melakukan pemantauan terhadap eksposur valuta asing dengan mempertimbangkan kondisi pasar, kebutuhan operasional, serta arus kas perseroan.
"ANTM juga memiliki penerimaan dalam valuta asing dari aktivitas bisnis tertentu yang dapat menjadi natural hedge terhadap sebagian kewajiban dalam valuta asing," kata Wisnu kepada Kontan, Jumat (25/9/2026).
Wisnu juga bilang, ANTM terus mengevaluasi berbagai opsi mitigasi risiko nilai tukar yang tersedia dan akan menentukan langkah yang paling optimal sesuai dengan kebutuhan serta kondisi pasar.
"Hingga saat ini, pengelolaan kewajiban tetap dilakukan dengan memperhatikan struktur pendanaan yang sehat, likuiditas, serta prinsip kehati-hatian untuk menjaga kinerja dan fundamental keuangan perseroan," kata Wisnu.
Baca Juga: Rupiah Melemah 0,82% Sepekan, Simak Proyeksi Pekan Depan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














