kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Euro masih tertekan kondisi geopolitik


Rabu, 22 Februari 2017 / 20:11 WIB


Reporter: RR Putri Werdiningsih | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Mata uang euro hingga saat ini masih berada dibawah tekanan. Kondisi geopolitik menjelang pemilihan umum yang akan berlangsung di Prancis, Belanda dan Jerman tampaknya semakin menyudutkan posisi mata uang kawasan Uni Eropa tersebut.

Mengutip Bloomberg, Rabu (22/2) pukul 17.41 wib pasangan EUR/GBP tercatat melemah 0,20% ke level 0,84313 dibanding hari sebelumnya.

Vidi Yuliansyah, Analyst & Research PT Monex Investindo Futures mengatakan poundsterling masih mampu mempertahankan penguatan karena kondisi geopolitik kawasan Uni Eropa yang memburuk.

Sentimen negatif euro salah satunya berasal dari kondisi politik di Prancis menjelang pemilu. Dalam beberapa jajak pendapat terakhir kandidat asal partai Front National Marine Le Pen yang menginginkan Prancis keluar dari Uni Eropa justru lebih unggul.

Sedangkan dari poundsterling masih diuntungkan dari sajian estimasi pertumbuhan ekonomi Inggris yang diproyeksi membaik dari 0,6% ke level 0,7%. Menurut Vidi kondisi ekonomi yang membaik mencerminkan ketangguhan Inggris dalam menghadapi proses Brexit.

Ditambah lagi, Bank Sentral Inggris telah memastikan diri untuk melakukan penyesuaian kebijakan. “Kalau benar Bank of England akan memperketat kebijakan ini akan menguatkan posisi pound,” terangnya kepada KONTAN, Rabu (23/2).

Ia melihat dengan sokongan sentimen positif tersebut, pada Kamis (23/2) kemungkinan pasangan EUR/GBP masih akan melanjutkan pelemahan. Data pertumbuhan ekonomi German dan data retail Italia yang akan dirilis masih sulit untuk mengembalikan pamor euro.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×