Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) memasuki babak baru setelah Sinergi Internasional Investama (SII) menjadi pemegang saham pengendali baru. Perubahan ini mendorong DOOH menggeser bisnisnya dari operator media luar ruang atau out-of-home (OOH) menjadi perusahaan holding yang membangun ekosistem kecerdasan buatan (AI) secara terintegrasi.
Analis UOB Kay Hian Willinoy Sitorus dalam riset 10 September 2026 menyebut, transformasi tersebut membuat arah bisnis DOOH ke depan tidak lagi hanya bertumpu pada media. Perusahaan ini mulai membidik rantai infrastruktur AI, mulai dari pusat data (data centre), konektivitas, serat optik, kabel bawah laut hingga energi hijau.
"DOOH telah bertransformasi selama lima tahun terakhir dari agen media luar ruang menjadi pemilik media nasional, dengan memperluas inventaris media di KRL, ritel, roadside dan kanal lainnya," jelas Willinoy dalam risetnya.
Baca Juga: Dolar Bertahan di Level Tertinggi Dua Pekan Jelang Keputusan The Fed
Menurut dia, masuknya SII sebagai pemegang saham pengendali pada 2026 menandai fase baru bagi DOOH. Perusahaan ini berencana bertransformasi menjadi perusahaan holding dengan ekosistem AI dari hulu hingga hilir.
Ekosistem tersebut akan mencakup pusat data, konektivitas, serat optik, kabel bawah laut, energi hijau hingga konsumen. DOOH juga akan memanfaatkan sinergi dengan perusahaan-perusahaan yang berada dalam ekosistem SII.
Beberapa di antaranya adalah PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) yang bergerak di bisnis internet berkecepatan tinggi, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) dalam konektivitas kabel bawah laut, serta Folago Global Nusantara (IRSX) yang memiliki solusi terkait AI.
Willinoy mengatakan, manajemen DOOH juga berencana melakukan ekspansi baik secara organik maupun nonorganik untuk membangun ekosistem tersebut.
Bidik Data Centre dan PLTS
Salah satu bidang yang mulai dibidik DOOH adalah bisnis pusat data. Perusahaan ini melihat pasar data centre di Indonesia sebagai peluang pertumbuhan, sekaligus berencana membangun infrastruktur pendukung seperti internet berkecepatan tinggi, serat optik, kabel bawah laut dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
"Pendekatan terintegrasi ini memungkinkan DOOH berpartisipasi dalam beberapa bagian dari rantai infrastruktur AI, dengan kebutuhan listrik dan konektivitas yang semakin penting seiring meningkatnya beban kerja AI," ujar Willinoy.
Di sisi energi, DOOH berencana mendukung inisiatif pembangunan PLTS berkapasitas 100 gigawatt (GW) yang menjadi bagian dari agenda pemerintah. PLTS dan penyimpanan baterai (battery storage) disiapkan sebagai salah satu alternatif sumber listrik untuk mendukung kebutuhan pusat data AI.
Meski demikian, hingga saat ini DOOH belum mengungkapkan secara spesifik kapasitas pusat data maupun PLTS yang akan dikembangkan.
Baca Juga: Wall Street Rabu (16/9): Nasdaq dan S&P 500 Menguat Jelang Keputusan Bunga The Fed
Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan investor. Sebab, rencana ekspansi ke bisnis infrastruktur AI dan energi membutuhkan modal yang jauh lebih besar dibandingkan bisnis media yang selama ini dijalankan DOOH.
Butuh Pendanaan Besar
Willinoy mencatat, hingga semester I-2026, DOOH memiliki aset sebesar Rp 406 miliar dan ekuitas Rp 310 miliar. Pada periode yang sama, pendapatan perusahaan mencapai Rp 84 miliar dengan laba bersih Rp 64 miliar.
Namun, laba bersih tersebut perlu dilihat dengan mempertimbangkan adanya keuntungan satu kali (one-off gain) setelah pajak sekitar Rp 60 miliar yang dibukukan pada kuartal II-2026.
Dengan demikian, basis keuangan DOOH saat ini relatif kecil apabila dibandingkan dengan kebutuhan investasi untuk membangun pusat data maupun proyek energi terbarukan.
Sebagai gambaran, dengan asumsi biaya sekitar US$ 650.000 per megawatt (MW), pembangunan PLTS berkapasitas 100 MW membutuhkan dana sekitar Rp 1,1 triliun. Nilai tersebut lebih dari tiga kali lipat dibandingkan ekuitas DOOH saat ini.
"Pendanaan menjadi kunci bagi DOOH untuk meningkatkan skala bisnis di luar bisnis media yang ada saat ini," kata Willinoy.
Manajemen, lanjutnya, telah menyampaikan bahwa perseroan tengah mempertimbangkan sejumlah opsi pendanaan, termasuk pendanaan melalui ekuitas seperti rights issue. Namun, hingga kini belum ada aksi korporasi yang difinalisasi.
Valuasi dan Risiko DOOH
Dari sisi valuasi, DOOH saat ini diperdagangkan sekitar 20,5 kali price to earnings (PE) berdasarkan laba semester I-2026 yang disetahunkan. Angka tersebut berada di bawah rata-rata 89,9 kali PE perusahaan-perusahaan dalam ekosistem DOOH.
Baca Juga: Menakar Dampak Kenaikan Suku Bunga The Fed Terhadap Pergerakan IHSG
Per Rabu (16/9/2026), harga saham DOOH ditutup menguat 10% di level Rp 440 per saham. Harga saham DOOH naik 12,24% dalam seminggu dan naik 260,66% dalam enam bulan.
Meski demikian, Willinoy mengingatkan rasio PE DOOH saat ini terdorong oleh adanya keuntungan satu kali pada kuartal II-2026. Selain itu, valuasi tersebut juga belum mencerminkan kontribusi potensial dari bisnis-bisnis baru yang akan dikembangkan perseroan.
Menurut Willinoy, terdapat dua risiko utama yang perlu diperhatikan, yakni risiko eksekusi dan risiko pendanaan. Keberhasilan transformasi DOOH akan sangat bergantung pada kemampuan perseroan merealisasikan proyek-proyek baru sekaligus memperoleh sumber pendanaan yang memadai.
Di sisi lain, pengumuman aksi korporasi terkait pendanaan maupun ekspansi dapat menjadi katalis bagi saham DOOH.
Dengan strategi baru tersebut, DOOH kini menghadapi tantangan untuk membuktikan bahwa transformasi dari perusahaan media menjadi holding ekosistem AI dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan bisnis yang nyata.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














