kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -18.000   -0,67%
  • USD/IDR 17.973   81,00   0,45%
  • IDX 5.884   -217,45   -3,56%
  • KOMPAS100 764   -32,00   -4,02%
  • LQ45 578   -20,26   -3,39%
  • ISSI 203   -8,31   -3,92%
  • IDX30 327   -10,75   -3,18%
  • IDXHIDIV20 402   -10,48   -2,54%
  • IDX80 87   -3,59   -3,99%
  • IDXV30 109   -2,27   -2,04%
  • IDXQ30 105   -2,81   -2,60%

Enam Emiten Bakal IPO di Semester II 2026, Mana yang Menarik?


Rabu, 24 Juni 2026 / 20:52 WIB
Enam Emiten Bakal IPO di Semester II 2026, Mana yang Menarik?
ILUSTRASI. IPO perdana awal tahun BEI (KONTAN/Pulina Nityakanti)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Enam emiten baru dijadwalkan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) di awal semester II 2026.

Mereka adalah PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Essa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) dan PT RANS Entertainmen Indonesia Tbk (RANS).

JELI adalah perusahaan produsen makanan dan minuman merek Inaco.

Dalam aksi korporasi ini, JELI menawarkan sebanyak 350 juta saham atau 25,93% modal setelah IPO. Harga penawaran berada pada kisaran Rp 900–Rp 1.120 per saham dengan potensi dana maksimal Rp 392 miliar.

Dari sektor kesehatan, ada JECX yang bergerak di bisnis rumah sakit dan klinik mata menawarkan sebanyak 487,98 juta saham. JEXC membidik harga Rp 184–Rp 243 per saham sehingga berpotensi menghimpun dana hingga sekitar Rp 118,58 miliar.

Baca Juga: Menakar Prospek RANS Entertainment yang Bakal IPO pada Awal Juli 2026

Lalu, ada EMMI merupakan perusahaan sektor alat kesehatan menawarkan sebanyak 522,86 juta saham atau 30% modal setelah IPO. EMMI menawaran saham IPO di rentang Rp 446–Rp 515 per saham dengan potensi dana hingga Rp 269,27 miliar.

Sementara itu, PRDL yang bergerak di bidang manufaktur in vitro diagnostic (IVD) menawarkan 527,9 juta saham atau 30% modal setelah IPO. Dengan memasang harga berkisar Rp 260–Rp 300, PRDL berpotensi meraup dana Rp 158 miliar.

Di sektor industri, BACH yang merupakan perusahaan di bidang genset dan infrastruktur telekomunikasi, menawarkan 615 juta saham atau 15,06% modal setelah IPO. BACH mematok harga IPO di kisaran Rp 400–Rp 500 dengan target dana maksimal Rp 307,5 miliar.

Terakhir, RANS menawarkan maksimal 2,53 miliar saham baru atau setara 20,02% modal setelah IPO.

Perusahaan milik Rafi Ahmad ini mematok harga IPO di kisaran Rp 135–Rp 170 sehingga berpotensi mengantongi dana hingga Rp 429,25 miliar.

Tak hanya dari sektor yang berbeda, latar belakang afiliasi para calon emiten tersebut menarik untuk ditelisik. BACH misalnya, terafiliasi dengan grup Djarum melalui PT Global Telekomunikasi Prima yang dikendalikan keluarga Hartono.

Baca Juga: RANS Entertainment Siap IPO, Tawarkan 20% Saham dengan Target Dana Rp429 Miliar

JECX juga terafiliasi dengan konglomerasi PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) alias Emtek melalui kepemilikan PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME), operator jaringan rumah sakit Omni Hospitals.

Sementara saham RANS digenggam sejumlah nama terkenal, mulai dari Raffi Ahmad, Nagita Slavina, Dony Oskaria, Sutanto Hartono dari Grup Emtek, hingga Kaesang Pangarep. 

Ester Mulyani, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori mengatakan, di tengah pasar yang bearish, investor biasanya akan lebih selektif terhadap ajang initial public offering (IPO) yang punya pertumbuhan pendapatan jelas, penggunaan dana dekat dengan revenue generation, valuasi relatif tidak terlalu mahal, dan pengendali yang kuat. 

Dengan kriteria tersebut, IPO BACH pun menjadi yang paling menarik dibandingkan lima emiten lainnya. 

BACH mencatat pendapatan 2025 sebesar Rp 1,73 triliun, naik 39,66% Yo. Laba tahun berjalan tahun lalu tercatat Rp 155,55 miliar, naik 97,54% YoY. 

Return on equity (ROE) juga tinggi di 29,02%, sementara debt to ratio (DER) 2025 di 1,30x dan masih memenuhi covenant perbankan. 

Dari sisi valuasi sederhana, dengan saham setelah IPO sebanyak 4,084 miliar saham dan harga Rp400–Rp500 per saham, PER tahun 2025 sekitar 10,5x–13,1x.

Baca Juga: Debut di Bursa, Simak Prospek Saham PT Rans Entertainmen Milik Raffi Ahmad

“Ini masih relatif lebih masuk akal dibanding beberapa IPO lain yang price to earning ratio (PER)-nya jauh lebih premium,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (24/6/2026).

Dari sisi skala bisnis dan momentum laba, BACH juga masih unggul dan layak untuk diperhatikan. BACH menarik lantaran setelah pelaksanaan opsi, PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) akan memiliki 51,00% saham perusahaan, sementara individu pengendali melalui GTP adalah Martin Basuki Hartono dan Victor Rachmat Hartono. 

“Ini memberi persepsi sponsor atau controlling shareholder yang kuat,” tuturnya.

Dari sisi penggunaan dana, sekitar Rp 91,02 miliar atau sekitar 29,6% dari maksimum dana IPO bruto BACH digunakan untuk pembayaran sebagian utang Bank Permata.

Sementara, sekitar Rp 213,48 miliar atau 69,4% digunakan sebagai modal kerja pembelian genset untuk dijual maupun disewakan. 

“Jadi dana IPO BACH bukan sekadar tambal utang, tetapi mayoritas langsung terkait peningkatan inventory atau kapasitas penjualan,” katanya.

Kemudian, alternatif paling defensif adalah PRDL. Alasannya, bisnis perusahaan ini masuk healthcare atau diagnostic device dan didukung ekosistem Prodia. Dari sisi kinerja, terlihat margin laba bersih PRDL sebesar 22,84%, ROE 20,45%, dan current ratio 2,14x. 

“Valuasinya juga relatif wajar di sekitar 10,3x-12,3x dari PER tahun 2025 berdasarkan perhitungan dari data prospektus,” ungkapnya. 

Baca Juga: IPO Sepi dan Pasar Saham Masih Lesu, Bagaimana Arah Pergerakan ke Depan?

JELI juga prospektif dari sisi penggunaan dana. Sebab, sekitar 51,04% dana IPO masuk ke PT NPS untuk belanja modal mesin produksi, 18,36% untuk capex mesin atau logistik Perseroan, 10,63% untuk bayar sebagian utang Bank Mandiri, dan 19,97% untuk modal kerja. 

“Artinya, sekitar 69,4% dana IPO eksplisit diarahkan ke ekspansi kapasitas, terutama gummy candy dan jelly, bukan dominan untuk deleveraging,” tuturnya.

Secara rinci, Ester mengurutkan IPO yang paling menarik adalah BACH, PRDL, JELI, EMMI, JECX, dan RANS.

Untuk EMMI, laba bersih 2025 memang masih tumbuh kuat. Namun, DER masih 2,89x dan current ratio 0,92x, sehingga risiko struktur keuangan belum sepenuhnya ringan.

Untuk JECX, kinerjanya kuat secara sektoral. Namun laba tahun 2025 masih jauh di bawah tahun 2023 yang sebesar Rp127,28 miliar.

Selain itu, dana IPO yang diterima JECX dari saham baru mayoritas untuk deleveraging, dengan sekitar Rp275 miliar atau 60,4%, dan sebagian IPO adalah saham divestasi yang dananya tidak masuk ke perseroan.

Terakhir, IPO RANS dinilai yang paling spekulatif. RANS memang didukung oleh brand kuat dan DER rendah. Namun, pendapatan 2025 turun menjadi Rp353,38 miliar dari Rp410,50 miliar dan laba turun menjadi Rp56,69 miliar dari Rp97,07 miliar. 

“Valuasi RANS juga premium. Ini lebih cocok untuk memanfaatkan momentum atau hype, bukan defensif di pasar bearish,” tuturnya.

Baca Juga: BEI Suspensi Saham WBSA Usai Melonjak 307% Sejak IPO, Analis Ingatkan Risiko

Di kondisi pasar yang tengah bergejolak cenderung lesu saat ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan investor dalam melihat ajang IPO.

Pertama, investor perlu lebih disiplin melihat valuasi IPO terhadap laba 2025, bukan hanya cerita pertumbuhan. Di pasar bearish, IPO dengan PER premium akan lebih rentan terkoreksi jika tidak langsung menunjukkan pertumbuhan laba yang meyakinkan. 

Kedua, perhatikan kualitas penggunaan dana IPO. Menurut Ester, IPO yang dananya mayoritas untuk ekspansi produktif atau modal kerja yang langsung berhubungan dengan pendapatan cenderung lebih menarik jika dibandingkan IPO yang terlalu dominan untuk membayar utang atau saham divestasi. 

Ketiga, cermati struktur kepemilikan dan alignment pengendali. 

“Di tengah sentimen negatif MSCI terkait free float, transparansi, dan konsentrasi kepemilikan, emiten yang punya pengendali jelas, lock-up/komitmen tidak mengalihkan kendali, serta penggunaan dana yang transparan akan lebih disukai,” ungkapnya.

Analis Phillip Sekuritas Helen Vincentia menambahkan, investor dapat memperhatikan beberapa hal dalam mencermati saham IPO.

Baca Juga: Intip Prospek Prodia (PRDL) dan Niramas (JELI) yang Mau IPO di Awal Juli 2026

Pertama, kinerja emiten. “Apakah pertumbuhan pendapatan dan laba menunjukkan pertumbuhan dari tahun ke tahun, margin, utang yang dimiliki sektor dan industri,” katanya kepada Kontan, Rabu.

Kedua, tren industri. Investor bisa memilih sektor dengan potensi pertumbuhan yang tinggi dan prospek cerah

Ketiga, valuasi emiten dibanding perusahaan sejenis.

Keempat, penggunaan dana hasil IPO.

Kelima, jumlah saham yang dilepas.

Keenam, kepemilikan saham, apakah terafiliasi dengan grup konglomerasi besar. Terakhir, rekam jejak dari penjamin emisi,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×