kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.177   4,80   0,08%
  • KOMPAS100 808   -9,54   -1,17%
  • LQ45 609   -7,52   -1,22%
  • ISSI 213   1,66   0,79%
  • IDX30 345   -4,23   -1,21%
  • IDXHIDIV20 421   -5,17   -1,21%
  • IDX80 92   -1,32   -1,42%
  • IDXV30 113   -1,72   -1,50%
  • IDXQ30 110   -1,54   -1,38%

Intip Prospek Prodia (PRDL) dan Niramas (JELI) yang Mau IPO di Awal Juli 2026


Minggu, 21 Juni 2026 / 13:43 WIB
Intip Prospek Prodia (PRDL) dan Niramas (JELI) yang Mau IPO di Awal Juli 2026
ILUSTRASI. PT Niramas Utama (JELI) dan PT Prodia Diagnostic Line (PRDL) bersiap melaksanakan penawaran umum perdana saham?. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) akan kembali diramaikan oleh kehadiran dua calon emiten baru. 

Perusahaan produsen makanan dan minuman PT Niramas Utama (JELI) serta perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur dan pengolahan alat kesehatan diagnostik PT Prodia Diagnostic Line (PRDL) bersiap melaksanakan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).

Jika tak ada aral melintang, JELI akan mencatatkan sahamnya di BEI pada 7 Juli 2026, sementara PRDL akan melantai di bursa saham pada 9 Juli 2026 mendatang.

Melansir prospektusnya, pada masa penawaran awal alias bookbuilding, JELI menetapkan harga di kisaran Rp 900 hingga Rp 1.120 per saham. Dus, JELI berpotensi meraup dana segar paling banyak Rp 392 miliar. Niramas Utama akan menawarkan maksimal 350 juta saham biasa, setara 25,93% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh. 

Baca Juga: Kinerja IDX BUMN20 Tahan Banting, Simak Rekomendasi Sahamnya

Sementara, PRDL mematok harga di kisaran Rp 100–Rp 120 per saham. Dengan begitu, RDPL berpotensi meraup dana segar maksimal Rp 62,74 miliar. PRDL menawarkan maksimal 522,90 juta saham atau setara dengan 30% dari modal disetor dan ditempatkan penuh pasca IPO.

Financial Educator Manager Sucor Sekuritas Hendry Wijaya mengatakan prospek PRDL cukup menarik karena didukung oleh tren peningkatan belanja kesehatan pemerintah yang terus naik.

Anggaran kesehatan dalam APBN terus meningkat, dari Rp218,5 triliun pada 2025 menjadi Rp244 triliun pada 2026. Selain itu, pemerintah juga menjalankan Program Cek Kesehatan Gratis yang hingga akhir 2025 telah dimanfaatkan lebih dari 70 juta peserta dan ditargetkan menjangkau 140 juta peserta.

PRDL memperkirakan program tersebut dapat menciptakan potensi pasar sekitar Rp 2,2 triliun pada 2026. PRDL juga telah memiliki pengalaman memenangkan tender pemerintah, termasuk pengadaan reagen profil lipid senilai sekitar Rp90 miliar pada 2023.

Dari sisi kinerja keuangan, pertumbuhan PRDL tergolong impresif. Pendapatan perusahaan meningkat 26,8% dari Rp 58,7 miliar pada 2024 menjadi Rp 74,4 miliar pada 2025. Sementara laba bersih melonjak 69,9% dari Rp 10 miliar menjadi Rp 17 miliar.

Perusahaan juga mencatatkan margin laba bersih sekitar 22,8% dan return on equity (ROE) sebesar 20,5%, angka yang tergolong tinggi untuk industri alat kesehatan dan reagen diagnostik. Selain itu, jaringan distribusinya berkembang pesat dengan jumlah distributor meningkat dari 21 menjadi 45 dalam kurun satu tahun.

Pada kisaran harga IPO Rp 100–Rp 120 per saham, valuasi PRDL berada di level price to earnings ratio (P/E) sekitar 10–12 kali terhadap laba 2025. 

Dengan pertumbuhan dan profitabilitas yang dimiliki, valuasi tersebut dinilai masih cukup konservatif. Dus, saham PRDL berpotensi menarik perhatian investor yang mencari peluang di sektor kesehatan dengan kapitalisasi pasar yang relatif kecil.

"Untuk perusahaan dengan margin dan pertumbuhan seperti ini, valuasi itu relatif konservatif. Ini menjadi salah satu daya tarik utamanya. Pelaku pasar yang suka tema structural healthcare spending dengan kapitalisasi kecil layak mencermatinya," kata Hendry kepada Kontan, Jumat (19/6/2026).

Berbeda dengan PRDL yang menawarkan cerita pertumbuhan di sektor kesehatan, JELI mengusung strategi peningkatan profitabilitas dari bisnis konsumen yang telah memiliki fondasi kuat. 

Baca Juga: OJK: MSCI Global Market Accessibility Review Jadi Masukan Guna Perkuat Pasar Modal RI

Melalui jenama INACO, perusahaan memproduksi berbagai produk seperti nata de coco, jelly, dan gummy yang telah dikenal luas oleh masyarakat. Perusahaan juga didukung empat fasilitas produksi yang berlokasi di Bekasi, Pandaan, Pontianak, dan Sukabumi, serta memiliki pasar ekspor.

INACO sendiri merupakan salah satu pionir sekaligus pemimpin pasar nata de coco di Indonesia. Berdiri sejak 1990, jenama ini telah hadir selama lebih dari tiga dekade dan memiliki tingkat pengenalan jenama yang kuat di kalangan konsumen.

Dengan posisi tersebut, daya tarik utama JELI terletak pada kombinasi jaringan distribusi nasional yang telah terbentuk dan kekuatan jenama yang matang. Berbeda dengan banyak perusahaan konsumer baru yang masih harus mengeluarkan biaya besar untuk membangun jenama, JELI telah memiliki basis pelanggan dan reputasi yang kuat sehingga dapat lebih fokus mengembangkan produk-produk baru dengan margin yang lebih tinggi.

Untuk memperkuat operasional, pada 2025 JELI mengakuisisi PT Supra Natami Utama sebagai langkah integrasi vertikal guna mengamankan pasokan bahan baku nata de coco. Selain itu, perusahaan juga melakukan berbagai investasi pendukung produksi, termasuk pembangunan sumur deepwell dan peningkatan kapasitas listrik pabrik.

"Ini perusahaan yang sedang merapikan rantai pasok dari hulu sampai energi pabrik tepat sebelum melantai. Buat pelaku pasar, ini sinyal bahwa risiko utama yang diakui sendiri JELI seperti volatilitas harga bahan baku sedang aktif dimitigasi, bukan dibiarkan," ucap Hendry.

Hendry juga menerangkan terdapat sejumlah faktor lain yang membuat IPO JELI dan PRDL menarik untuk dicermati investor.

Pertama, kedua perusahaan masih mempertahankan kendali mayoritas di tangan pemilik. Setelah IPO, pemilik lama JELI masih akan menguasai sekitar 74% saham perusahaan, sementara pemilik PRDL mempertahankan mengempit sekitar 70%. 

Khusus JELI, sebagian besar dana hasil IPO akan digunakan untuk ekspansi melalui penambahan mesin produksi baru, bukan sekadar untuk melunasi utang. Kondisi ini dinilai mencerminkan komitmen perusahaan untuk mendorong pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang.

Baca Juga: BEI Tanggapi MSCI 2026, Siap Perkuat Transparansi dan Reformasi Pasar Modal

Kedua, dari sisi valuasi, JELI dan PRDL menawarkan karakteristik yang berbeda sehingga dapat menjangkau preferensi investor yang beragam. PRDL dinilai relatif murah dengan valuasi price to earnings ratio (P/E) sekitar 10–12 kali, meski perusahaan memiliki margin laba bersih dan return on equity (ROE) yang tinggi, masing-masing sekitar 22,8% dan 20,5%. 

Sementara itu, JELI diperdagangkan pada valuasi yang lebih premium, yakni sekitar 31–38 kali P/E. Namun, valuasi tersebut dianggap sejalan dengan pertumbuhan laba JELI yang melonjak signifikan, dari Rp1,4 miliar pada 2023 menjadi Rp39,4 miliar pada 2025.

Ketiga, dua perusahaan tersebut didukung oleh penjamin emisi efek (underwriter) yang memiliki rekam jejak baik, yakni Sucor Sekuritas. Dalam beberapa IPO sebelumnya, saham yang ditangani perusahaan Sucor Sekuritas mencatatkan kinerja yang cukup menonjol pada awal perdagangan. 

"Ini sinyal awal positif untuk debut keduanya," jelas Hendry.

Dengan kombinasi dukungan penjamin emisi yang berpengalaman, porsi saham beredar publik (free float) yang relatif terbatas, serta fundamental dan cerita bisnis yang menarik, kedua emiten dinilai memiliki daya tarik masing-masing. JELI menawarkan momentum pertumbuhan laba yang kuat, sedangkan PRDL hadir dengan valuasi yang masih relatif murah. Dus, kedua saham IPO tersebut layak masuk dalam radar pemantauan investor menjelang pencatatan perdananya di Bursa Efek Indonesia.

Secara umum, PRDL dan JELI memiliki prospek yang menarik karena beroperasi di sektor kesehatan dan konsumer yang didukung pertumbuhan konsumsi domestik dan meningkatnya kesadaran kesehatan masyarakat. Namun, daya tarik keduanya tetap bergantung pada fundamental, pertumbuhan laba, posisi kompetitif, serta valuasi yang ditawarkan saat IPO.

Secara terpisah, Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menyampaikan, PRDL dan JELI memiliki prospek yang menarik karena beroperasi di sektor kesehatan dan konsumer yang didukung pertumbuhan konsumsi domestik dan meningkatnya kesadaran kesehatan masyarakat. 

"Namun, daya tarik keduanya tetap bergantung pada fundamental, pertumbuhan laba, posisi kompetitif, serta valuasi yang ditawarkan saat IPO," terang Azis.

Azis juga bilang investor tidak hanya perlu memperhatikan free float, tetapi juga valuasi IPO dibanding perusahaan sejenis, pertumbuhan pendapatan dan laba, penggunaan dana IPO, kualitas manajemen, serta prospek industrinya. 

"Free float yang rendah dapat meningkatkan volatilitas harga, sementara kondisi pasar dan sentimen saat IPO juga akan sangat menentukan performa saham dalam jangka pendek," tutup Azis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×