kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -18.000   -0,67%
  • USD/IDR 17.973   81,00   0,45%
  • IDX 5.884   -217,45   -3,56%
  • KOMPAS100 764   -32,00   -4,02%
  • LQ45 578   -20,26   -3,39%
  • ISSI 203   -8,31   -3,92%
  • IDX30 327   -10,75   -3,18%
  • IDXHIDIV20 402   -10,48   -2,54%
  • IDX80 87   -3,59   -3,99%
  • IDXV30 109   -2,27   -2,04%
  • IDXQ30 105   -2,81   -2,60%

Enam Emiten Bakal IPO di Semester II 2026, Mana yang Menarik?


Rabu, 24 Juni 2026 / 20:52 WIB
Enam Emiten Bakal IPO di Semester II 2026, Mana yang Menarik?
ILUSTRASI. IPO perdana awal tahun BEI (KONTAN/Pulina Nityakanti)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli

Untuk JECX, kinerjanya kuat secara sektoral. Namun laba tahun 2025 masih jauh di bawah tahun 2023 yang sebesar Rp127,28 miliar.

Selain itu, dana IPO yang diterima JECX dari saham baru mayoritas untuk deleveraging, dengan sekitar Rp275 miliar atau 60,4%, dan sebagian IPO adalah saham divestasi yang dananya tidak masuk ke perseroan.

Terakhir, IPO RANS dinilai yang paling spekulatif. RANS memang didukung oleh brand kuat dan DER rendah. Namun, pendapatan 2025 turun menjadi Rp353,38 miliar dari Rp410,50 miliar dan laba turun menjadi Rp56,69 miliar dari Rp97,07 miliar. 

“Valuasi RANS juga premium. Ini lebih cocok untuk memanfaatkan momentum atau hype, bukan defensif di pasar bearish,” tuturnya.

Baca Juga: BEI Suspensi Saham WBSA Usai Melonjak 307% Sejak IPO, Analis Ingatkan Risiko

Di kondisi pasar yang tengah bergejolak cenderung lesu saat ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan investor dalam melihat ajang IPO.

Pertama, investor perlu lebih disiplin melihat valuasi IPO terhadap laba 2025, bukan hanya cerita pertumbuhan. Di pasar bearish, IPO dengan PER premium akan lebih rentan terkoreksi jika tidak langsung menunjukkan pertumbuhan laba yang meyakinkan. 

Kedua, perhatikan kualitas penggunaan dana IPO. Menurut Ester, IPO yang dananya mayoritas untuk ekspansi produktif atau modal kerja yang langsung berhubungan dengan pendapatan cenderung lebih menarik jika dibandingkan IPO yang terlalu dominan untuk membayar utang atau saham divestasi. 

Ketiga, cermati struktur kepemilikan dan alignment pengendali. 

“Di tengah sentimen negatif MSCI terkait free float, transparansi, dan konsentrasi kepemilikan, emiten yang punya pengendali jelas, lock-up/komitmen tidak mengalihkan kendali, serta penggunaan dana yang transparan akan lebih disukai,” ungkapnya.

Analis Phillip Sekuritas Helen Vincentia menambahkan, investor dapat memperhatikan beberapa hal dalam mencermati saham IPO.

Baca Juga: Intip Prospek Prodia (PRDL) dan Niramas (JELI) yang Mau IPO di Awal Juli 2026

Pertama, kinerja emiten. “Apakah pertumbuhan pendapatan dan laba menunjukkan pertumbuhan dari tahun ke tahun, margin, utang yang dimiliki sektor dan industri,” katanya kepada Kontan, Rabu.

Kedua, tren industri. Investor bisa memilih sektor dengan potensi pertumbuhan yang tinggi dan prospek cerah

Ketiga, valuasi emiten dibanding perusahaan sejenis.

Keempat, penggunaan dana hasil IPO.

Kelima, jumlah saham yang dilepas.

Keenam, kepemilikan saham, apakah terafiliasi dengan grup konglomerasi besar. Terakhir, rekam jejak dari penjamin emisi,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×