Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli
Dengan kriteria tersebut, IPO BACH pun menjadi yang paling menarik dibandingkan lima emiten lainnya.
BACH mencatat pendapatan 2025 sebesar Rp 1,73 triliun, naik 39,66% Yo. Laba tahun berjalan tahun lalu tercatat Rp 155,55 miliar, naik 97,54% YoY.
Return on equity (ROE) juga tinggi di 29,02%, sementara debt to ratio (DER) 2025 di 1,30x dan masih memenuhi covenant perbankan.
Dari sisi valuasi sederhana, dengan saham setelah IPO sebanyak 4,084 miliar saham dan harga Rp400–Rp500 per saham, PER tahun 2025 sekitar 10,5x–13,1x.
Baca Juga: Debut di Bursa, Simak Prospek Saham PT Rans Entertainmen Milik Raffi Ahmad
“Ini masih relatif lebih masuk akal dibanding beberapa IPO lain yang price to earning ratio (PER)-nya jauh lebih premium,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (24/6/2026).
Dari sisi skala bisnis dan momentum laba, BACH juga masih unggul dan layak untuk diperhatikan. BACH menarik lantaran setelah pelaksanaan opsi, PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) akan memiliki 51,00% saham perusahaan, sementara individu pengendali melalui GTP adalah Martin Basuki Hartono dan Victor Rachmat Hartono.
“Ini memberi persepsi sponsor atau controlling shareholder yang kuat,” tuturnya.
Dari sisi penggunaan dana, sekitar Rp 91,02 miliar atau sekitar 29,6% dari maksimum dana IPO bruto BACH digunakan untuk pembayaran sebagian utang Bank Permata.
Sementara, sekitar Rp 213,48 miliar atau 69,4% digunakan sebagai modal kerja pembelian genset untuk dijual maupun disewakan.
“Jadi dana IPO BACH bukan sekadar tambal utang, tetapi mayoritas langsung terkait peningkatan inventory atau kapasitas penjualan,” katanya.
Kemudian, alternatif paling defensif adalah PRDL. Alasannya, bisnis perusahaan ini masuk healthcare atau diagnostic device dan didukung ekosistem Prodia. Dari sisi kinerja, terlihat margin laba bersih PRDL sebesar 22,84%, ROE 20,45%, dan current ratio 2,14x.
“Valuasinya juga relatif wajar di sekitar 10,3x-12,3x dari PER tahun 2025 berdasarkan perhitungan dari data prospektus,” ungkapnya.
Baca Juga: IPO Sepi dan Pasar Saham Masih Lesu, Bagaimana Arah Pergerakan ke Depan?
JELI juga prospektif dari sisi penggunaan dana. Sebab, sekitar 51,04% dana IPO masuk ke PT NPS untuk belanja modal mesin produksi, 18,36% untuk capex mesin atau logistik Perseroan, 10,63% untuk bayar sebagian utang Bank Mandiri, dan 19,97% untuk modal kerja.
“Artinya, sekitar 69,4% dana IPO eksplisit diarahkan ke ekspansi kapasitas, terutama gummy candy dan jelly, bukan dominan untuk deleveraging,” tuturnya.
Secara rinci, Ester mengurutkan IPO yang paling menarik adalah BACH, PRDL, JELI, EMMI, JECX, dan RANS.
Untuk EMMI, laba bersih 2025 memang masih tumbuh kuat. Namun, DER masih 2,89x dan current ratio 0,92x, sehingga risiko struktur keuangan belum sepenuhnya ringan.














