kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.690.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.784   -126,00   -0,70%
  • IDX 6.371   -38,54   -0,60%
  • KOMPAS100 837   -7,83   -0,93%
  • LQ45 635   -5,22   -0,81%
  • ISSI 221   -0,82   -0,37%
  • IDX30 356   -3,12   -0,87%
  • IDXHIDIV20 434   -3,82   -0,87%
  • IDX80 96   -0,91   -0,94%
  • IDXV30 120   -0,63   -0,52%
  • IDXQ30 113   -1,27   -1,11%

Saham Garuda (GIAA) Melejit, Begini Cara Hadapi Harga Avtur & Konsolidasi Pelita Air


Senin, 10 Agustus 2026 / 14:46 WIB
Saham Garuda (GIAA) Melejit, Begini Cara Hadapi Harga Avtur & Konsolidasi Pelita Air
ILUSTRASI. Penumpang menunggu masuk ke pesawat di Bandara Internasional Lombok (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) melejit 31,48% ke level Rp 71 per saham pada Senin (10/8/2026) hingga pukul 14.13 WIB. Kenaikan harga tersebut sejalan dengan rencana efisiensi Garuda yang diungkap dalam tanya jawab saat Investor Meeting and Connectivity 2026 di Surabaya. 

Hasil dari tanya jawab memaparkan jika GIAA telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga kinerja di tengah volatilitas harga bahan bakar avtur dan ketidakpastian geopolitik global.

Strategi tersebut mencakup optimalisasi operasional dan armada, efisiensi bahan bakar, penguatan pendapatan non-tiket atau ancillary revenue, hingga pengendalian biaya secara menyeluruh.

Baca Juga: Garuda Indonesia (GIAA) Beberkan Perkembangan Rencana Konsolidasi dengan Pelita Air

Manajemen Garuda Indonesia dalam keterbukaan informasi di BEI pada Jumat (7/8/2026) menjelaskan perusahaan akan memaksimalkan jaringan dan kapasitas berdasarkan tingkat profitabilitas masing-masing rute. Di saat yang sama, utilisasi dan produktivitas armada juga terus ditingkatkan.

GIAA juga menjalankan program efisiensi konsumsi bahan bakar melalui optimalisasi profil penerbangan serta perencanaan penerbangan. Langkah ini menjadi penting di tengah risiko kenaikan harga avtur yang dapat menekan struktur biaya maskapai.

Dari sisi komersial, Garuda Indonesia berupaya memperbesar kontribusi ancillary revenue sekaligus memperketat pengendalian biaya operasional.

Untuk penerbangan domestik, perusahaan ini menegaskan tetap mengikuti ketentuan pemerintah mengenai Tarif Batas Atas (TBA) dan mekanisme fuel surcharge. Kebijakan tarif tersebut dijalankan dengan tetap mempertimbangkan keterjangkauan harga bagi masyarakat.

Di sisi lain, Garuda Indonesia menjelaskan alasan kinerja EBITDA yang sudah positif tetapi belum mampu membawa perusahaan mencatatkan laba bersih.

Manajemen menyebut EBITDA belum memperhitungkan sejumlah beban di luar operasional langsung. Beban tersebut antara lain depresiasi dan amortisasi serta beban keuangan, termasuk kewajiban sewa dan pembiayaan.

Struktur beban tersebut turut dipengaruhi oleh kewajiban masa lalu setelah proses restrukturisasi serta penerapan perlakuan akuntansi yang berlaku.

Karena itu, Garuda Indonesia menargetkan perbaikan kinerja operasional dapat secara bertahap diterjemahkan menjadi perbaikan bottom line. Upaya tersebut akan ditempuh melalui efisiensi biaya dan penerapan disiplin finansial.

Baca Juga: Prospek Saham GIAA dan CMPP Melanjutkan Pemulihan hingga Akhir 2026

Garuda Indonesia juga terus mencari cara untuk mengoptimalkan kapasitas kursi yang belum terserap. Salah satu fokusnya adalah meningkatkan Seat Load Factor (SLF) tanpa mengorbankan kualitas pendapatan yang tercermin dalam Revenue per Available Seat Kilometer (RASK).

Untuk itu, Garuda Indonesia (GIAA) menerapkan strategi revenue management yang lebih adaptif, termasuk dynamic pricing dan skema network fare yang dilengkapi berbagai free add-on.

Dari sisi pemasaran, Garuda secara berkala menggelar berbagai program promosi seperti Garuda Indonesia Travel Fair (GATF), Garuda Online Travel Fair (GOTF), dan Garuda Umrah Travel Fair (GUTF).

Perusahaan ini juga mengoptimalkan kapasitas penerbangan reposisi armada atau empty leg. Kapasitas yang sebelumnya berpotensi tidak menghasilkan pendapatan tersebut dikomersialkan sehingga dapat memberikan tambahan kontribusi pendapatan pada rute terkait.

Konsolidasi dengan Pelita Air 

Sementara itu, rencana konsolidasi Garuda Indonesia Group dengan Pelita Air masih dalam tahap pembahasan.

Manajemen Garuda Indonesia menyatakan rencana tersebut masih menjalani kajian mendalam dan pembahasan di tingkat pemegang saham maupun dengan pihak-pihak terkait.

Kajian konsolidasi mencakup berbagai aspek strategis dengan tujuan memperkuat ekosistem penerbangan nasional sekaligus mendukung agenda transformasi Garuda Indonesia.

Namun, hingga kini belum terdapat keputusan final mengenai bentuk maupun mekanisme konsolidasi antara Garuda Indonesia dan Pelita Air.

Garuda menegaskan seluruh kegiatan operasional, jadwal penerbangan, serta komitmen layanan kepada pelanggan tetap berjalan normal dan tidak mengalami perubahan akibat proses kajian tersebut.

Baca Juga: Pefindo Pertahankan Rating Garuda Indonesia (GIAA) di idBBB

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×