kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.564.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.002   -55,00   -0,30%
  • IDX 5.279   282,28   5,65%
  • KOMPAS100 680   48,89   7,75%
  • LQ45 530   41,89   8,58%
  • ISSI 180   7,15   4,15%
  • IDX30 298   24,37   8,92%
  • IDXHIDIV20 389   32,13   9,00%
  • IDX80 78   5,77   7,97%
  • IDXV30 108   7,16   7,11%
  • IDXQ30 98   8,45   9,41%

DXY Masih Terkoreksi, Begini Prospek Mata Uang Utama hingga Akhir Tahun


Selasa, 20 Oktober 2026 / 15:59 WIB
DXY Masih Terkoreksi, Begini Prospek Mata Uang Utama hingga Akhir Tahun
ILUSTRASI. Yen Jepang (REUTERS/Dado Ruvic)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek mata uang utama dunia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak beragam menjelang akhir tahun. Di tengah koreksi indeks dolar AS (US Dollar Index/DXY), yen Jepang dinilai memiliki peluang lebih menarik dibandingkan euro. Sementara itu, poundsterling berpeluang mendapat dukungan dari ekspektasi kenaikan suku bunga Inggris.

Mengutip Bloomberg, Selasa (20/10/2026) pukul 15.03 WIB, DXY melemah 0,21% ke level 101,76. EUR/USD turun 0,13% ke 1,123, sedangkan USD/JPY naik 0,25% ke 158,10. Poundsterling melemah 0,32% ke US$ 1,334, sementara USD/CHF naik 0,28% ke 0,824.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, pelemahan dolar AS belum menandakan pembalikan tren. Pergerakan DXY masih akan dipengaruhi arah kebijakan Federal Reserve (The Fed), perkembangan inflasi AS, serta imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Baca Juga: Puradelta Lestari (DMAS) Capai 88,57% Target Presales Baru, Simak Prospeknya

"Saya melihat pelemahan dolar pekan ini masih sebagai koreksi, belum menjadi pembalikan tren," ujar Yusuf kepada Kontan, Selasa (20/10/2026).

Di antara mata uang utama, yen Jepang menawarkan peluang yang lebih menarik dibandingkan euro. Prospek yen berpotensi ditopang oleh peluang kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ). Selain itu, yen dapat diuntungkan jika koreksi pasar saham teknologi global mendorong investor beralih ke aset safe haven.

"Dibandingkan euro, yen menawarkan rasio risiko dan potensi imbal hasil yang lebih menarik," tutur Yusuf.

Meski demikian, yen masih menghadapi tantangan dari suku bunga Jepang yang relatif rendah sehingga rentan terhadap transaksi carry trade. Adapun euro menghadapi tekanan dari pertumbuhan ekonomi Eropa yang relatif tertinggal dibandingkan AS, ditambah ketidakpastian politik dan fiskal di sejumlah negara kawasan tersebut.

Sementara itu, poundsterling berpeluang mendapat dukungan dari kondisi pasar tenaga kerja Inggris. Tingkat pengangguran Inggris turun menjadi 4,7% dalam tiga bulan hingga Agustus 2026, sedangkan pertumbuhan upah reguler mencapai 3,7%. Perkembangan ini memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Bank of England (BoE) menjadi 4% pada November mendatang. Namun, arah poundsterling tetap bergantung pada perkembangan inflasi dan kondisi fiskal Inggris.

Berbeda dengan poundsterling, franc Swiss masih menghadapi tekanan akibat perbedaan suku bunga dengan AS. Suku bunga kebijakan Bank Nasional Swiss yang bertahan di level 0% membuat franc rentan terhadap transaksi carry trade. Meski begitu, permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran fiskal Eropa berpotensi menahan pelemahan franc.

Menjelang akhir 2026, Yusuf memproyeksikan DXY bergerak di kisaran 100–101,5, dengan rentang yang lebih luas antara 99–102,5. Indeks dolar berpotensi kembali mendekati 103 jika inflasi AS bertahan tinggi dan mendorong The Fed mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat. Untuk pasangan mata uang utama, USD/JPY diperkirakan berada di kisaran 154–156, EUR/USD di 1,13–1,14, GBP/USD di 1,34–1,35, dan USD/CHF di 0,81–0,82. 

Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat 0,28% ke Rp 17.992 Selasa (20/10), Akhiri Pelemahan Empat Hari

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×