kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   2.000   0,08%
  • USD/IDR 18.067   10,00   0,06%
  • IDX 4.997   -188,50   -3,64%
  • KOMPAS100 631   -26,97   -4,10%
  • LQ45 488   -20,09   -3,95%
  • ISSI 172   -7,03   -3,92%
  • IDX30 273   -10,40   -3,67%
  • IDXHIDIV20 357   -9,37   -2,56%
  • IDX80 72   -3,02   -4,00%
  • IDXV30 101   -1,50   -1,47%
  • IDXQ30 90   -3,25   -3,49%

Harga Dua Saham Bank Ini Meroket Saat IHSG Anjlok, Bahkan Lebih Tinggi Dibanding BBCA


Selasa, 20 Oktober 2026 / 06:59 WIB
Harga Dua Saham Bank Ini Meroket Saat IHSG Anjlok, Bahkan Lebih Tinggi Dibanding BBCA
ILUSTRASI. Harga Dua Saham Bank Ini Meroket Saat IHSG Anjlok, Bahkan Lebih Tinggi Dibanding BBCA


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Di tengah tekanan hebat yang melanda pasar modal Indonesia akibat sentimen perubahan klasifikasi pasar saham oleh MSCI, saham dua bank kecil di Bursa Efek Indonesia (BEI) naik harga tinggi. Bahkan, harga salah satu saham bank tersebut melewati harga saham bank besar seperti PT Bank Centra Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI.

Dua saham yang mengalami lonjakan harga tinggi adalah PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD) dan PT Bank Sinarmas Tbk (BSIM).

Pada penutupan perdagangan Senin (19/10/2026), harga saham BSWD melesat 20% menjadi Rp 6.750. Dengan kenaikan tersebut, saham bank ini telah menguat 694,12% sejak awal tahun atau year to date (YtD), sekaligus mencetak rekor harga tertinggi sepanjang masa berdasarkan data yang disampaikan.

BSWD adalah bank yang dahulu bernama Bank Swadesi. Bank yang sahamnya dikuasai Bank of Indonesia (90,96%) ini memiliki aset Rp 6,99 triliun per 30 September 2026. 

Jumlah tersebut hanya seujung kuku dibandingkan aset bank swasta terbesar di Indonesia, BCA yang mencapai Rp 1.586,83 triliun. Namun harga saham BSWD jauh lebih tinggi dibandingkan harga saham BBCA yang hanya Rp 4.820 per 19 Oktober 2026.

Baca Juga: 7 Saham Buyback saat IHSG Anjlok, BREN BBCA CUAN BRPT DSSA TPIA, Apakah Layak Beli?

Sementara itu, saham BSIM melonjak 24,83% menjadi Rp 930. Secara kumulatif, saham ini telah menguat 8,14% sejak awal tahun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, harga saham BSIM juga masih naik 9,41%.

Kenaikan kedua saham tersebut berlawanan dengan kondisi pasar secara keseluruhan. Pada perdagangan yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 3,64% ke level 4.996,61.

Tekanan juga melanda saham-saham perbankan berkapitalisasi pasar besar atau big banks. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terkoreksi paling dalam, yakni 6,86% menjadi Rp 4.820.

Selanjutnya, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 3,79% menjadi Rp 2.540. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) melemah 0,34% ke Rp 2.960, sedangkan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 0,88% menjadi Rp 3.360.

Baca Juga: BEI Siapkan Dua Insentif Anyar Usai Gelar Pertemuan dengan MSCI, Ini Rinciannya

BSWD sempat disuspensi BEI

Lonjakan harga saham BSWD terjadi setelah saham bank tersebut sebelumnya masuk dalam pengawasan Bursa Efek Indonesia (BEI). BEI sempat menghentikan sementara perdagangan saham BSWD pada 30 September 2026 sebelum membuka kembali perdagangan pada 15 Oktober 2026.

Suspensi tersebut dilakukan menyusul kenaikan harga saham yang signifikan.

Direktur Utama Bank of India Indonesia KSB Chandramouli sebelumnya menyatakan tidak terdapat informasi atau fakta material baru yang dapat memengaruhi nilai efek perusahaan maupun keputusan investasi pemodal.

Ia juga menegaskan bahwa perseroan belum memiliki rencana untuk melakukan aksi korporasi dalam waktu dekat, termasuk tindakan yang berpotensi memengaruhi pencatatan saham perusahaan di bursa.

Pernyataan tersebut disampaikan melalui keterbukaan informasi pada 1 Oktober 2026.

Dengan demikian, lonjakan harga saham BSWD dan BSIM di tengah koreksi IHSG menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati. Namun, pergerakan harga tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya perubahan fundamental perusahaan atau menjamin kenaikan harga akan berlanjut.

Investor perlu mencermati keterbukaan informasi emiten, likuiditas perdagangan, serta risiko volatilitas sebelum mengambil keputusan investasi.



 

198 Pemda Berpotensi Kesulitan Bayar Utang, BPK Beri Peringatan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×