kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   2.000   0,08%
  • USD/IDR 18.067   10,00   0,06%
  • IDX 4.997   -188,50   -3,64%
  • KOMPAS100 631   -26,97   -4,10%
  • LQ45 488   -20,09   -3,95%
  • ISSI 172   -7,03   -3,92%
  • IDX30 273   -10,40   -3,67%
  • IDXHIDIV20 357   -9,37   -2,56%
  • IDX80 72   -3,02   -4,00%
  • IDXV30 101   -1,50   -1,47%
  • IDXQ30 90   -3,25   -3,49%

7 Saham Buyback saat IHSG Anjlok, BREN BBCA CUAN BRPT DSSA TPIA, Apakah Layak Beli?


Selasa, 20 Oktober 2026 / 06:07 WIB
7 Saham Buyback saat IHSG Anjlok, BREN BBCA CUAN BRPT DSSA TPIA, Apakah Layak Beli?
ILUSTRASI. 7 Saham Buyback saat IHSG Anjlok, BREN BBCA CUAN BRPT DSSA TPIA, Apakah Layak Beli?


Reporter: Rashif Usman | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Sejumlah emiten menyiapkan aksi pembelian kembali saham atau buyback di tengah tekanan yang melanda pasar modal Indonesia. Namun, langkah tersebut belum tentu mampu mendorong pemulihan harga saham maupun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pada penutupan perdagangan Senin (19/10/2026), IHSG merosot 188,49 poin atau 3,64% ke level 4.996,60. Koreksi tersebut terjadi di tengah tekanan jual yang masih membayangi pasar saham.

Berdasarkan penelusuran KONTAN, terdapat tujuh emiten yang mengumumkan rencana buyback saham, yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA).

Besaran dana dan periode pelaksanaan buyback masing-masing emiten berbeda. Berikut daftar tujuh saham yang perlu dicermati investor.

Baca Juga: Usai Bertemu MSCI, BEI akan Keluarkan 80 Saham HSC dari IHSG, Ini Daftarnya

Daftar 7 saham yang menyiapkan buyback

1. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)

BREN menyiapkan dana maksimal Rp 1 triliun untuk melaksanakan buyback saham. Periode pembelian kembali berlangsung mulai 19 Oktober hingga 31 Desember 2026.

2. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)

CUAN mengalokasikan dana maksimal Rp 500 miliar untuk aksi buyback. Periode pelaksanaannya dijadwalkan pada 19 Oktober hingga 31 Desember 2026.

3. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)

TPIA menyiapkan dana maksimal Rp 1 triliun untuk membeli kembali saham perseroan. Aksi tersebut dijadwalkan berlangsung pada 19 Oktober hingga 31 Desember 2026.

4. PT Barito Pacific Tbk (BRPT)

BRPT juga menyiapkan anggaran maksimal Rp 1 triliun untuk buyback saham. Periode pelaksanaan berlangsung pada 19 Oktober hingga 31 Desember 2026.

5. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)

DSSA mengalokasikan dana maksimal Rp 1 triliun untuk pembelian kembali saham. Periode buyback dijadwalkan mulai 19 Oktober 2026 hingga 18 Januari 2027.

6. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

BBCA melanjutkan aksi buyback saham pada 19 Oktober hingga 21 Oktober 2026. Dalam informasi yang menjadi dasar artikel ini, alokasi dana untuk periode lanjutan tersebut tidak disebutkan.

7. PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA)

PBSA menyiapkan dana maksimal Rp 100 miliar untuk melaksanakan buyback saham. Periode pembelian kembali dijadwalkan berlangsung pada 20 Oktober 2026 hingga 19 Januari 2027.

Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham Teknikal MAPA, BRPT dan ISAT untuk Hari Ini (20/10)

Analis: Buyback bisa menahan tekanan jual

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai aksi buyback berpotensi menjadi sentimen positif bagi saham emiten yang bersangkutan. Langkah tersebut menunjukkan komitmen perusahaan untuk mendukung stabilitas harga saham sekaligus menyerap sebagian tekanan jual di pasar.

Meski demikian, efektivitas buyback sangat bergantung pada realisasi pembelian, besarnya dana yang digunakan dibandingkan nilai transaksi saham, serta kondisi pasar secara keseluruhan.

"Buyback bukan jaminan harga saham akan naik, terutama jika tekanan jual dipicu oleh sentimen sistemik dan penurunan kepercayaan investor. Maka, investor perlu melihat realisasi buyback, bukan hanya besaran anggaran yang diumumkan," kata Alrich kepada KONTAN, Senin (19/10/2026).

Senada, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menilai buyback dapat memberikan sentimen positif dan membantu menahan tekanan jual, terutama ketika harga saham mengalami koreksi tajam.

BREN, TPIA, BRPT, dan DSSA masing-masing menyiapkan dana maksimal Rp 1 triliun. Sementara itu, CUAN mengalokasikan dana maksimal Rp 500 miliar.

Namun, besarnya anggaran tidak serta-merta menjamin harga saham akan menguat. Dampaknya tetap bergantung pada realisasi pembelian, likuiditas saham, dan nilai transaksi di pasar.

"Jadi, buyback lebih tepat dilihat sebagai penopang harga, bukan jaminan harga akan langsung naik," ujar Elandry.

Tonton: BREAKING NEWS! PEMERINTAH KLAIM REALISASI INVESTASI 2 TAHUN TEMBUS Rp 3.923,2 T

Dampak buyback terhadap IHSG

Alrich menilai dampak buyback terhadap IHSG cenderung terbatas karena aksi korporasi tersebut dilakukan pada tingkat emiten. Dengan demikian, pengaruhnya lebih langsung terasa pada saham perusahaan yang melakukan pembelian kembali dibandingkan keseluruhan pasar.

Tekanan terhadap IHSG masih berpotensi berlanjut apabila pasar menghadapi sentimen makroekonomi negatif, arus keluar dana asing atau capital outflow, serta penurunan kepercayaan investor.

Karena itu, aksi buyback dari sejumlah emiten belum cukup untuk menjadi katalis pemulihan IHSG secara menyeluruh.

Elandry juga berpandangan bahwa dampak buyback terhadap indeks relatif terbatas karena pembelian hanya menyasar saham tertentu. Jika tekanan jual asing dan arus keluar modal masih berlanjut, aksi tersebut belum tentu mampu membalikkan tren pelemahan IHSG.

Menurut dia, pemulihan indeks membutuhkan perbaikan kepercayaan investor, stabilitas pasar, dan kepastian regulasi.

Tonton: Bursa Efek Indonesia Bocorkan Hasil Kompromi dengan MSCI, Saham HSC keluar dari IHSG

Saran analis untuk investor

Alrich mengingatkan investor agar tidak menjadikan pengumuman buyback sebagai satu-satunya dasar untuk membeli saham. Investor perlu mencermati realisasi pembelian kembali, respons harga saham, volume transaksi, serta indikasi meredanya tekanan jual.

Dari sisi teknikal, investor dapat menunggu terbentuknya area konsolidasi atau level support yang disertai sinyal pembalikan arah atau reversal yang lebih meyakinkan.

Di tengah volatilitas pasar yang tinggi, investor juga perlu menjaga likuiditas portofolio dan menerapkan manajemen risiko secara disiplin.

Elandry menyarankan investor untuk tidak sekadar memburu saham yang mengumumkan buyback, tetapi juga memantau realisasi pembelian selama periode yang ditetapkan.

Menurut dia, periode lanjutan buyback BBCA yang berlangsung pada 19-21 Oktober 2026 relatif lebih pendek dibandingkan periode emiten lainnya. Oleh sebab itu, investor perlu mencermati besarnya pembelian yang benar-benar terealisasi selama periode tersebut.

Dalam kondisi pasar yang bergejolak, strategi masuk secara bertahap dan disiplin terhadap risiko dinilai lebih relevan daripada hanya mengandalkan sentimen jangka pendek.

Untuk investasi jangka panjang, Elandry cenderung memprioritaskan emiten dengan fundamental kuat, arus kas sehat, dan valuasi yang wajar.

BBCA dapat dicermati dari sisi kualitas bisnis perbankannya. Sementara itu, DSSA, BREN, TPIA, BRPT, dan CUAN perlu dievaluasi lebih lanjut berdasarkan prospek bisnis, valuasi, struktur keuangan, serta risiko masing-masing perusahaan.

"Buyback dapat menjadi katalis tambahan, tetapi keputusan investasi tetap harus didasarkan pada fundamental dan harga beli yang wajar," tutup Elandry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×