kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45935,47   7,12   0.77%
  • EMAS1.335.000 1,06%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Dolar AS dalam Tren Melemah, Potensi Penguatan Yen Jepang Berlanjut


Selasa, 21 November 2023 / 19:57 WIB
Dolar AS dalam Tren Melemah, Potensi Penguatan Yen Jepang Berlanjut
ILUSTRASI. yen Jepang. REUTERS/Kim Kyung-Hoon


Reporter: Nur Qolbi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) tengah berada dalam tren pelemahan. Berdasarkan data Investing.com, pada Selasa (21/11) pukul 18.29 WIB, indeks dolar AS turun 0,05% ke 103,26.

Dibandingkan posisi akhir Oktober 2023 yang berada di 106,49, indeks dolar AS sudah merosot 3,03%. Merujuk JISDOR Bank Indonesia, kurs USD-IDR pada Selasa (21/11) sebesar Rp 15.436, melemah 2,89% dibanding akhir Oktober 2023 yang berada di Rp 15.897 per dolar AS. 

Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, dolar AS masih berada di bawah tekanan setelah berita inflasi AS yang lebih baik dari perkiraan pada pekan lalu. Indeks Harga Konsumen (CPI) AS melandai menjadi 3,2% year on year (YoY) pada Oktober 2023, dari 3,7% di September 2023 dan prediksi konsensus 3,3%. 

"Data pekerjaan mingguan juga menunjukkan perlambatan pasar tenaga kerja sehingga mendukung spekulasi bahwa The Fed akan menurunkan suku bunganya," kata Sutopo saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (21/11). 

Baca Juga: Dolar AS dalam Tren Pelemahan, Simak Mata Uang Asia yang Berpotensi Menguat

Selain itu, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS alias US Treasury juga membebani dolar AS. Lebih lanjut, penguatan di pasar saham membatasi permintaan likuiditas dolar AS. 

Pasar memprediksi peluang 0% untuk kenaikan suku bunga 25 bps pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 12-13 Desember 2023. Kemudian, pasar memperkirakan peluang 1% untuk kenaikan suku bunga 25 bps pada pertemuan FOMC 30-31 Januari 2024.

Pasar kemudian memperkirakan peluang sebesar 29% untuk penurunan suku bunga sebesar 25 bps pada pertemuan FOMC tanggal 19-20 Maret 2024 dan peluang sebesar 71% untuk penurunan suku bunga sebesar 25 bps pada pertemuan 30 April-1 Mei 2024.

Dengan kata lain, pelemahan dolar AS juga dipicu oleh para pedagang yang berspekulasi bahwa suku bunga AS dapat mulai turun tahun depan. Hal ini menyusul serangkaian data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan. 

"Investor kini menunggu risalah FOMC terbaru dan sejumlah data ekonomi di AS untuk panduan lebih lanjut," ucap Sutopo. 

Dolar AS jatuh ke posisi terendah dalam beberapa bulan terhadap mata uang utama lainnya. Penurunan tajam terlihat pada minggu ini terhadap yuan karena bank sentral China mengarahkan mata uangnya lebih tinggi.

Namun, secara teknis pelemahan indeks dolar AS mulai terbatas dan mungkin akan tertahan pada level 103. Pasalnya beberapa pejabat The Fed sempat menyatakan bahwa inflasi belum selesai diperangi sehingga membutuhkan pengetatan lebih lanjut. Hal itu kemungkinan itu tetap akan mempertahankan posisi dolar AS. 

Baca Juga: Rupiah Diprediksi Lanjut Menguat pada Rabu (22/11), Simak Deretan Sentimennya

Untuk sementara, Sutopo menilai, Yen Jepang merupakan mata uang yang paling diuntungkan. Spekulasi bahwa The Fed mendekati akhir dari pengetatan kebijakannya melemahkan dolar dan menguntungkan Yen.

Perbedaan imbal hasil 10 tahun antara obligasi pemerintah AS dan Jepang telah menyusut sebesar 55 basis poin, turun dari 4,15% pada 14 November 2023 menjadi 3,60%. Selain itu, perbedaan imbal hasil dua tahun telah stabil di bawah level resistensi penting di 5,11. 

Penurunan selisih imbal hasil obligasi AS mengurangi daya tariknya di mata  investor Jepang sehingga secara tidak langsung memberikan nilai plus bagi Yen. Sutopo memprediksi, kurs JPY akan menguat hingga kembali ke zona 145 per dolar AS, dari level saat ini di 147,73. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×